
Gandhi membanting setir mobilnya, mereka memasuki area mall terbesar di kota itu. Pria itu mencengkeram erat setir kemudi, mengeratkan rahangnya, bahkan deru napasnya memburu. Dalam hati ia terus beristighfar agar tidak lepas kendali.
"Kamu kejar! Aku cari parkir dulu!" seru Gandhi menghentikan laju kendaraan.
Ayu menoleh, menganggukkan kepala. Anjar sudah memasuki pintu masuk, wanita itu pun segera berlari mengejarnya, tak peduli perutnya yang sudah mulai terasa kram.
Hingga sampai di sebuah foodcourt, mata Ayu membelalak saat melihat Anjar berpelukan dan berciuman dengan wanita lain. Ayu menutup mulutnya tak percaya. Air matanya semakin luruh berjatuhan.
Dadanya serasa ingin meletup-letup. Ia pun melangkah panjang menghampiri Anjar bersama wanita cantik yang usianya jauh di atasnya.
"Brak!"
Ayu menggebrak meja dengan napas memburu. Sorot matanya seperti api yang sedang menyala. Wanita yang duduk bersama Anjar pun menoleh karena keterkejutannya.
"What the hell?" umpat wanita yang bersama Anjar.
"Siapa wanita ini, Mas. Siapa?" pekik Ayu yang sudah sangat kacau.
Keributan itu menyita perhatian seluruh pengunjung. Namun Ayu tak peduli bahwa kini mereka tengah menjadi pusat perhatian.
Kedua tangan Ayu mencengkeram kemeja yang dikenakan Anjar. "Kamu brengsek! Tidak mau bertanggung jawab malah pacaran dengan wanita lain!" pekik Ayu mengeratkan cengkeramannya. Kedua matanya melotot tajam.
__ADS_1
Wanita yang bernama Hellen berdiri, menepuk bahu Ayu dan berbisik, "Hei, aku sudah membayarnya. Tentu saja dia harus menemaniku bahkan melayaniku! Kamu nggak berhak ya melarangnya," aku Hellen membuat Ayu semakin mengamuk.
Ia menangis, menjerit bahkan mengamuk, memukuli Anjar dengan tangan kecilnya. "Kamu jahat, Mas! Kamu brengsek! Kamu gila!" pekik Ayu terus memukulinya.
Gandhi yang sudah selesai memarkirkan kendaraan segera berlari menyusul istrinya. Tidak berhati-hati, ia menabrak seorang gadis saat di pintu masuk. Semua belanjaannya berhamburan.
"Awwwsssh!" desis gadis itu meringis kesakitan saat bokongnya mendarat di lantai mall tersebut.
"Maaf, saya buru-buru!" Gandhi memungut kantong plastik itu satu persatu. Dan menyerahkannya pada gadis yang ditabraknya.
Pria itu terpaku, tangannya menggantung di udara saat melihat gadis yang masih terduduk di lantai itu. Iris hitam milik sang gadis mulai berkaca-kaca. Ia juga tak bisa bergerak, saat melihat pria yang dicintai sekakigus dibencinya itu.
"Ma... maaf," ucap Gandhi terbata.
"Brengsek! Kamu bener-bener brengsek!" jerit Ayu menggema tak jauh dari mereka bertemu.
Keduanya menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Mereka melihat Ayu yang mengamuk, lalu Anjar berdiri dan mendorong wanita itu sekuat tenaganya.
"Aaarrggh!" jerit Ayu kesakitan.
Beberapa satpam berlari ke arah sumber keributan itu. Ayu meremas perutnya yang terasa semakin sakit. Keringat dingin menjelar di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Gandhi segera berlari, namun kembali lagi mengulurkan tangannya pada Chaca, menggenggamnya erat dan mengajaknya pergi menghampiri Ayu.
Chaca yang awalnya terdiam, menurut saja setelah melihat sorot mata memohon dari kedua manik Gandhi.
"Ayu!" panggil Gandhi melepaskan tautan tangannya dengan Chaca dan membantu Ayu berdiri.
Semuanya terkejut ketika melihat darah yang mengalir dari kedua pahanya.
"Sakit, Mas!" rintih Ayu menangis.
Chaca ingin pergi, namun lengan kurusnya ditahan oleh Gandhi. "Tolong ikut aku," gumamnya memohon.
"Dan kamu! Bajing*n! Kamu harus bertanggung jawab kalau sampai terjadi sesuatu dengan anakmu yang ada dalam kandungan Ayu!" seru Gandhi menunjuk Anjar dengan mata yang tajam.
"Pak, tolong bantu angkat dia ke parkiran," pinta Gandhi pada kedua satpam itu.
Seorang satpam menggendong Ayu. Sedang satunya lagi diminta Gandhi untuk menarik paksa ayah biologis dari bayi yang dikandung oleh Ayu, agar mau bertanggung jawab atas apa yang dilakukannys tadi.
Chaca mencoba melepaskan genggaman di salah satu tangan Gandhi. Namun pria itu tidak membiarkannya. Menggenggamnya erat.
Bersambung~
__ADS_1