Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Penawaran


__ADS_3

Gandhi meringis memegangi bahu, lalu memutar tubuhnya melihat orang tersebut. Gandhi lalu menubruk orang itu dan menyambutnya dengan pelukan hangat.


"Asem! Ngagetin aja. Apa kabar, Ndra?" ujar Gandhi membalas menepuk bahu Andra kuat.


"Sakit woi! Ini apa? Buka kafe kagak undang-undang. Kamu lupa temen seperjuangan. Mentang-mentang udah kaya sekarang." Andra mengacak rambut Gandhi yang sudah rapi itu.


"Berisik! Ayo masuk. Eh mana ponakanku? Nggak kamu ajak?" Gandhi menggandeng bahu sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa.


Sejak kelahiran anaknya hingga usianya sekarang tiga bulan, Andra baru kembali ke Malang. Ia mengorbankan pekerjaannya demi sang istri dan buah hati tercinta. Karena dulunya mereka butuh waktu lama hingga bisa mempunyai seorang bayi.


"Ada itu di mobil," sahut Andra.


Amel baru turun dari mobil dengan Baby Alio dalam gendongannya. Ia sibuk membuka payung agar bayinya tidak kepanasan. Padahal jaraknya tidak terlalu jauh dan masih pagi pula. Pasalnya, setelah melahirkan Amel menjadi sangat posesif dan sensitif. Ia mudah marah apalagi jika itu menyangkut bayinya.


Gandhi menoleh ke area permainan. Ayu yang tadi berbincang dengannya sudah menghilang dari pandangan. Dia menghindar dari Andra.


Mereka lalu segera masuk ke kafe. Mencari tempat duduk paling nyaman agar Baby Al juga betah di sana. Gandhi lalu memesankan makanan spesial untuk mereka berdua.


"Ponakan Om, ganteng banget sih nggak kaya Papanya," celetuk Gandhi mendapat toyoran di kepalanya.


"Rese!" Gandhi meninju pelan lengan Andra.


"Anak aku mana mungkin nggak kayak aku, iya 'kan Sayang?" seru Andra meminta pembelaan.


"Enggak, lebih mirip aku deh Mas," elak Amel menatap sang buah hati.

__ADS_1


"Iyain aja deh, biar seneng. Seorang ibu itu maha benar dan maha tau segala tentang anaknya," gerutu Andra pelan. Gandhi terkikik pelan.


Seorang Andra tunduk dan takluk pada istrinya setelah hamil dan melahirkan. Berbanding terbalik ketika belum mempunyai anak. Dia yang selalu mendominasi dalam keluarganya.


"Lihat aja Gan, kalau Chaca hamil nanti," ujar Andra mencebikkan bibir.


"Lihat apanya?" tanya Gandhi bingung.


"Perutnya lah," canda Andra.


"Dih, gaje kamu, Ndra!"


Tak berapa lama, makanan pun datang. Gandhi segera mengambil alih Baby Al ke pangkuannya. Bayi itu terus menatap Gandhi, sesekali tertawa lucu. Membuat pria itu semakin gemas.


"Makan dulu Mbak, Ndra, entar kalau kurang nambah aja sepuasnya," ucap Gandhi sambil memainkan jemari mungil Baby Al.


"Ambil aja kalau mau," sahut Gandhi beranjak keluar.


Amel menajamkan mata seolah siap menerkam suaminya. Andra tersenyum kaku, "Bercanda Sayang," ucapnya.


Keduanya melanjutkan makannya. Sedangkan Gandhi keluar sambil menggendong Baby Al mencari keberadaan Ayu. Mungkin Andra tidak sempat melihatnya.


Mata Gandhi mengeliling, lalu masuk ke area permainan anak-anak. Terlihat Ayu sedang membantu seorang anak kecil yang bermain di istana balon.


"Ayu," panggil Gandhi pelan.

__ADS_1


"Iya, Mas," sahut Ayu menoleh, namun sesekali masih fokus pada anak-anak.


"Kenapa kamu hindari Andra? Nih lihat, ini anaknya Andra. Hampir seumuran dengan Baby El, namanya Alio," ucap Gandhi memperkenalkan bayi dalam gendongannya.


Ayu tersenyum, memainkan kedua tangan Baby Al lalu mencium keningnya.


"Aku belum siap bertemu mereka, Mas. Suatu saat nanti aku yang akan menemuinya. Untuk saat ini, aku belum bisa," jelas Ayu lembut.


Gandhi pun tidak mau mencampuri urusan mereka. Dia lalu mengajak jalan-jalan bayi kecil itu. Sifat Gandhi yang ramah dan lembut membuat Baby Al nyaman di pelukan pria itu.


Setelah terlihat lelah, Gandhi kembali masuk memberikannya pada mamanya. Karena sudah rewel, kemungkinan haus ingin menyusu.


"Mbak, istirahat aja di ruangan saya biar Baby Al nyaman nenennya," tawar Gandhi beranjak, mengantarkannya.


"Boleh deh, biasanya memang sambil tiduran," sahut Amel turut berdiri.


Gandhi memimpin jalan, ia membuka ruangannya lalu membuka sebuah kamar yang cukup luas itu. Gandhi mempersilahkannya lalu kembali keluar menemui Andra.


"Ndra, belum ada manager nih. Isi kamu ya. Nganggur 'kan?" ucap Gandhi menepuk paha Andra.


"Serius?"


"Iya lah, selama ini aku belum bisa percaya siapa pun. Jadi aku pegang sendiri sama Chaca, mau ya?" sahut Gandhi menyandarkan punggungnya.


Bersambung~

__ADS_1


Guys ... mampir yuukk ke lapak mak akuuhh ini ceritanya mengangkat tradisi makassar loh. Keren bingit.. 🤗 kamsia😚



__ADS_2