Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Darah


__ADS_3

Amel segera mencekal lengan Chaca lalu membawanya dalam dekapannya. Chaca terus menangis meraung-raung.


"Aku jahat, Mbak! Aku berdosa dengan suamiku sendiri! Aku membuatnya sakit sampai seperti itu," jeritnya lagi dengan tangisan yang nyaring.


"Tenanglah dulu. Mas Andra tidak mengizinkan kita ke sana sendiri. Bapak juga nggak bisa nganter karena penglihatannya bermasalah. Jadi kamu tenang ya, kita sabar tunggu Mas Andra datang," tukas Amel mengusap lembut rambut Chaca.


Chaca masih terisak, tubuhnya gemetar karena ketakutan luar biasa. Dia takut terjadi sesuatu dengan suaminya. Penyesalannya terus menyiksa batinnya.


Amel lalu mendudukkan Chaca di ranjang. Membantu mengikat rambut Chaca yang acak-acakan sedari tadi. Terus menerus menangis membuatnya merasa lelah. Tapi tangisannya tak kunjung berhenti juga.


Setelah beberapa jam kemudian, Andra telah sampai di kediaman Amel. Tanpa beristirahat sedetik pun, mereka langsung berangkat saat itu juga.


"Mas, kenapa kita nggak pakai jasa sopir saja. Aku takut kamu kelelahan," ucap Amel mengkhawatirkan suaminya.


"Aku tidak selemah yang kamu bayangkan, Sayang. Tenang aja aku masih kuat. Lagian aku juga merasa bersalah sama Gandhi," tuturnya lalu keluar kamar.


Mereka bertiga berangkat ke Malang malam hari, Baby Al tidak diajak karena tujuan mereka ke rumah sakit. Orang tuanya melarang keras membawa bayi itu.


"Cha, ayok berangkat sekarang," ajak Amel meraih lengan Chaca. Andra membawakan tas kedua wanita itu.


Setelah berpamitan, mereka segera berangkat. Chaca bahkan tidak mau makan apa pun sejak siang tadi. Ia terus menangis dalam sesalnya. Amel duduk di belakang menemani Chaca. Amel terus mengusap bahu Chaca yang bersandar pada pundaknya.


"Istirahatlah dulu Cha," tutur Amel lembut.


Chaca menggeleng pelan. Mereka pun akhirnya terdiam karena dibujuk seperti apa pun Chaca masih terus menangis. Andra juga tidak tega melihatnya. Namun ia diam, terus fokus menyetir agar cepat sampai.


Tengah malam mereka telah sampai di pelataran rumah sakit. Ketiganya bergegas turun, Chaca segera berlari menanyakan keberadaan suaminya pada bagian informasi.


Namun kekecewaan kini menderanya. Satpam tidak mengizinkannya masuk karena bukan jam besuk. Chaca terus menangis dan memohon.


"Pak, tolong izinkan aku masuk. Suamiku sangat membutuhkanku, Pak. Dia terbaring lemah di dalam. Aku mohon bukakan pintunya!" jerit Chaca mendobrak gerbang masuk itu.


"Mohon maaf silahkan kembali lagi besok pagi. Ini sudah peraturan rumah sakit," tegas Satpam itu.


Andra dan Amel segera menyusulnya, terus berusaha menenangkan Chaca tapi tidak berhasil, Chaca terus menjerit dan berteriak agar dibukakan pintunya.


"Tolong buka, Pak! Aku ingin melihat kondisi suamiku. Aku mau bertemu suamiku!" Chaca terus mendobrak menangis pilu.

__ADS_1


"Buka pintunya!" teriaknya menggila menendang pintu itu dengan kakinya.


"Aaaarrgghh!" pekiknya merasakan kram pada perutnya. Kepalanya juga terasa pusing. Hingga tubuhnya ambruk ditopang oleh Andra.


Tanpa sengaja Amel melihat darah mengalir dari paha Chaca. Matanya membelalak, mulutnya bergetar melihatnya.


"Da ... darah. Mas, darah!" ucap Amel terbata-bata menunjuk kaki Chaca.


Andra mengikuti jemari istrinya. Ia sama terkejutnya. "Astaga!"


Andra segera meraup tubuh Chaca untuk dilarikan ke IGD. Amel berlari mengikutinya, dia sangat khawatir dengan keadaan Chaca. Mereka berdua diminta menunggu di luar selama penanganan.


"Mas, aku takut," ucap Amel mulai menangis.


Andra memeluk tubuh istrinya, "Kita berdoa saja untuk keselamatan mereka berdua, Sayang," ucapnya mencium kepala Amel.


Terlihat seorang suster berlarian, ternyata kembali lagi dengan seorang dokter lainnya. Mereka masuk terburu-buru. Amel semakin merasa takut.


"Mas, jangan-jangan Chaca hamil?" ucap Amel merasa aneh dengan sikap Chaca belakangan ini. Kadang tiba-tiba marah, kadang tiba-tiba sedih tanpa alasan yang jelas.


"Kalau Chaca hamil berarti tadi dia pendarahan!" Amel membulatkan kedua matanya.


Setelah tiga puluh menit lamanya seorang dokter keluar dari IGD.


"Selamat malam, apakah suami dari pasien ada?" tanya dokter tersebut.


"Malam, Dok. Suaminya sedang dirawat di rumah sakit ini. Kami keluarganya, bagaimana keadaannya, Dok?" sahut Andra.


"Pasien mengalami pendarahan. Dia harus bed rest selama beberapa hari di rumah sakit. Kalau selama satu minggu pendarahan tidak berhenti, janinnya tidak akan bisa diselamatkan. Untuk pemeriksaan tentang kehamilan lebih jelasnya besok akan diperiksa oleh dokter spesialis," tutur dokter membuat Andra dan Amel terkejut.


Amel menangis seketika mendengar penuturan Dokter. Andra juga cukup syok. Dokter lalu segera meminta mengurus pemindahan Chaca ke rawat inap.


"Ya Tuhan, Mas. Ternyata Chaca beneran hamil. Dia kemarin sempat frustasi dan begitu tertekan, mungkin itu karena pengaruh hormon. Semoga janinnya kuat dan selamat. Dia pasti sangat bahagia mendengarnya," seru Amel berlinang air mata bahagia.


Amel ikut terharu, masih teringat jelas Chaca menangis histeris karena stres memikirkan kehamilannya. Ternyata itu pengaruh benih yang sedang bersemayam dalam rahimnya.


"Iya, alhamdulillah, Sayang," sahut Andra.

__ADS_1


Mereka lalu mengurus pemindahan Chaca. Andra sengaja menempatkannya di samping ruangan Gandhi. Chaca masih belum sadarkan diri.


Andra ke ruangan Gandhi untuk memberitahu keadan Chaca pada orangtuanya. Mama Alice sedang tertidur pulas menggenggam jemari Gandhi. Sedangkan Papa Xander masih terjaga menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Andra, tengah malam kok bisa masuk?" tanya Papa Xander pelan.


"Iya, Om. Andra ingin memberi tahu bahwa Chaca juga dirawat di sini. Andra sengaja memilih kamar bersebelahan dengan Gandhi," jawab Andra pelan takut membangunkan Gandhi.


"Apa!" pekik Papa Xander melepas kaca matanya.


Ia menutup mulut dengan segera setelah sadar teriakannya. Mama Alice terbangun mendengar kebisingan mereka.


"Ada apa, Pa? Kenapa ribut sekali?" tanya Mama merenggangkan tubuhnya.


"Papa keluar sebentar ya, Ma. Papa segera kembali, jaga Gandhi," tutur papa beranjak dan menepuk bahu mama.


Mama kembali tertidur memeluk putra kesayangannya. Karena memang seharian sangat lelah mengurus Gandhi yang bolak-balik ke toilet.


"Ya Tuhan, Chaca. Apa yang terjadi padanya?" tanya Papa Xander mengusap kepalanya lembut.


Amel lalu mengatakan bahwa Chaca sedang mengandung, dan tadi sempat mengalami pendarahan. Karenanya, Chaca harus bed rest sampai benar-benar pulih.


"Hamil? Chaca hamil? Aku akan segera mempunyai cucu. Alhamdulillah," seru Papa Xander menitikkan air mata. Dia mencium kening Chaca berulang saking bahagianya.


Awalnya Papa Xander ingin memarahi Andra karena ternyata dia tahu keberadaan Chaca namun diam saja. Akan tetapi setelah mendengar kabar kehamilan putrinya, rasa marah itu memudar terganti dengan haru bahagia.


Waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Semua orang masih terjaga. Chaca terlihat menggerakkan jemarinya, lalu mengerjapkan mata perlahan.


"Mas ... Mas Gandhi," ucap Chaca begitu lirih.


"Sayang, kamu sudah bangun," ujar Papa bahagia.


"Daddy, mana Mas Gandhi? Chaca mau ketemu," tuturnya kembali menitikkan air mata.


Amel segera beranjak menghampirinya, "Cha, kamu harus bed rest, jaga calon bayi kamu dengan baik, jangan banyak pikiran. Gandhi ada di ruangan sebelah kamu," tukas Amel meremas jemarinya.


Chaca terkejut mendengarnya, "Ha ... hamil, Mbak?"

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2