Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 44


__ADS_3

Jedarrr!!!


Penjelasan dokter seperti petir yang menyambar, menggelegar di telinga. Mereka semua terkejut. Tak terkecuali Anjar, yang merupakan ayah kandungnya. Tak terasa matanya memerah, kepalanya menunduk dalam.


"Lakukan yang terbaik, Dok. Selamatkan Ayu," ucap Gandhi.


Ia segera menandatangani berkas persetujuan karena memang saat ini, statusnya masih suami dari wanita itu.


Dokter pun segera melakukan penanganan dengan cepat. Sedangkan Gandhi mendorong Anjar hingga terpundur beberapa langkah.


"Kamu udah bunuh anak kamu sendiri!" desis Gandhi pelan namun penuh penekanan.


Tak ada jawaban apa apun. Anjar hanya menunduk, sedangkan Chaca berusaha menenangkan Gandhi. Ia mengusap-usap lengan Gandhi dengan pelan.


"Om, sabar," bisik Chaca pelan.


Gandhi menghela napas panjang. Ia mengajak Chaca duduk di kursi tunggu. Sekarang, Chaca mengerti pokok permasalahannya. Meskipun tidak sepenuhnya.


"Mana KTP kamu!" ucap Gandhi menengadahkan tangannya pada Anjar.

__ADS_1


"Buat apa? Aku enggak akan kabur," ujarnya.


"Enggak percaya! Sini SIM, KTP!" ulang Gandhi sekali lagi.


Anjar berdecak kesal. Namun ia pun segera mengeluarkan KTP dan SIMnya lalu menyerahkan pada Gandhi.


"Good! Ayo, Cha. Kita ke kantin dulu. Awas kamu jangan kabur!" ancam Gandhi melotot pada Anjar.


Mereka lalu meninggalkan Anjar sendirian menunggu Ayu. Kedua tangan mereka masih saling bertaut erat. Senyum samar terbit di bibir Chaca. Meski masih menduga-duga, tapi sepertinya ia mendapat angin sejuk yang menelusup hatinya.


Tanpa bertanya, Gandhi mengajak duduk di stand bakso yang ada di kantin rumah sakit tersebut. Kemudian memesan dua porsi bakso beserta es tehnya.


"Cha, aku ...."


"Maaf," ucap Gandhi membelai puncak kepala Chaca. "Maafin aku, Cha," sambungnya mengeratkan pelukannya.


Tidak ada percakapan selama hampir 20 menit, keduanya masih terhanyut melepas kerinduan yang membelenggu.


"Selama ini aku berusaha menjadi imam yang baik, karena pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. Meskipun harus menekan mati-matian perasaanku padamu. Tapi aku gagal. Aku sudah menjatuhkan talak padanya. Pria itu yang dulu menghamili Ayu. Dan...."

__ADS_1


Tenggorokannya tercekat, Gandhi menelan salivanya. "Mereka melakukannya lagi, tadi di rumahku," lanjut Gandhi merebahkan kepalanya di bahu Chaca.


Hatinya ikut teriris mendengarnya, banyak sekali beban yang ditanggung pria itu saat ini. Pandangan matanya mulai memburam dengan genangan air mata.


Chaca mengusap punggung pria itu naik turun, berharap bisa sedikit memberinya keteketenangan. Namun mulutnya bungkam, dia tidak tahu harus bagaimana berucap.


"Cha, maaf. Maaf aku menyakitimu, maaf membuatmu menunggu. Tapi jujur, sampai saat ini aku masih mencintaimu." Setelah beberapa saat, Gandhi kembali bersuara.


Chaca bisa mendengar detak jantung Gandhi yang sangat kuat itu. Ia pun merasakan hal yang sama. Berbagai cara sudah ia lakukan, tapi sedetik pun pria itu tidak bisa hengkang dari hati dan pikirannya.


"Aku ... aku juga masih mencintaimu, Om." Suara Chaca bergetar. Ia tidak menyangka, Gandhi akan kembali ke dalam pelukannya.


Gandhi melepas pelukannya, senyum mengembang di bibirnya. Ia menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.


Bakso yang mereka pesan bahkan sudah mulai dingin. Dua gelas es teh sudah dipenuhi embun.


"Kamu masih mau nunggu aku?" tanya Gandhi menyelipkan rambut panjang Chaca di belakang telinga.


"Nunggu apa, Om?" Chaca mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Nunggu dudaku," ucapnya meremas kedua tangan Chaca.


Bersambung~


__ADS_2