
"Cha, istirahat yuk. Kepalaku pusing sekali. Nanti kita makan di luar aja ya," ucapku merebahkan kepala menutup wajah dengan sebelah tanganku.
"Iya, Mas. Maafin aku ya," ucapnya penuh sesal.
Tanpa menjawab aku menariknya dalam dekapanku. Ia tidur berbantalkan salah satu lenganku. Aku membenarkan posisi agar nyaman. Chaca memelukku erat. Ia menyamankan tidurnya di atas dada bidangku.
Sampai waktu menjelang sore, aku terbangun. Chaca sudah tidak ada di sampingku. Aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Setelahnya berjalan menuju lemari mencari pakaian ganti. Oh, istriku ternyata sudah memasukkan semua pakaian ke sini.
Aku bergegas turun setelah mengenakan pakaian santai. Mencari keberadaan istriku. Sampai pada akhirnya aku menemukannya berdiri di dapur. Aku mengerutkan kening, menapaki lantai tanpa mengeluarkan suara.
"Lagi ngapain, Sayang?" ucapku melingkarkan lengan pada perutnya.
Chaca terjingkat, melemparkan benda yang ada di kedua tangannya. Hingga membuat butiran halus berwarna putih itu tumpah dan berceceran.
"Sayang, ngagetin ih! Tuh 'kan jadi tumpah semua," gerutunya menyebikkan bibir.
Chaca memalingkan tubuhnya mengambil sapu dan pengki. Aku merebut keduanya dan membersihkannya. Sepertinya gula dan garam.
"Maaf, Sayang. Kamu itu emang bener-bener bikin susah," ucapku menyingkirkan sapu beserta pengkinya.
Chaca menajamkan matanya. Napasnya terdengar memburu. Kedua tangannya sudah menempel pada pinggangnya.
"Susah bikin aku marah, susah saat kamu jauh dariku, susah menghilangkan bayangmu walau sedetik saja," ucapku merengkuh pinggangnya lalu mencium bibirnya sekilas. Membuatnya bersemu dan menurunkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Lagi ngapain sih?" tanyaku penasaran.
"Kasih label mana garem, mana gula. Biar nggak salah lagi kayak dulu," gerutunya mengambil toples kecil itu dan memperlihatkan padaku. Ternyata sudah dikasih label menggunakan spidol.
Aku menahan senyum, "Lalu tadi bagaimana kamu bedainnya?"
"Ya kuincip lah, warnanya sama sih," sahutnya polos.
Aku tertawa terbahak-bahak. Mengusap puncak kepalanya gemas. Ia menyebikkan bibir mungilnya karena aku menertawakannya. Kemudian aku meletakkan toples-toples kecil itu, mengisi sesuai dengan labelnya. Untung tadi masih ada sisa, nggak tumpah semua.
...****************...
Malam harinya, kami telah berada di sebuah food court di salah satu mall yang paling dekat dengan rumah. Kami memutuskan memilih makan malam di sini karena sekalian berbelanja keperluan yang masih belum tersedia.
Seusai makan, mata Chaca berbinar ketika melihat aneka camilan favoritnya. Ia segera berlari dan memilih beberapa jenis makanan di stand tersebut.
"Dasar tukang makan! Aku udah kenyang, Sayang. Kamu aja," ucapku menepiskan senyuman.
Setelahnya, kami berkeliling mendorong trolly memilih aneka sayur, daging dan ikan untuk stok beberapa hari ke depan. Tak lupa bumbu-bumbu yang belum tersedia juga.
__ADS_1
Selama satu jam, kami telah mendapatkan barang-barang yang telah kami butuhkan. Chaca masih berburu makanan dan camilan. Sedangkan aku mengantre di loket kasir.
Tepat saat giliran pembayaran, Chaca sudah kembali dengan satu kantong plastik besar makanan ringan di tangan kiri, dan es krim di tangan kanannya.
"Sayang, mau?" ia menjulurkan tangan menawarkan es krimnya.
Belum sempat aku menjawab, tangannya sudah sampai di depan wajahku. Mau tidak mau aku membuka mulut untuk melahapnya. Hanya beberapa gigit aku menyudahinya. Petugas kasir bahkan sampai menahan senyum sedari tadi.
"Makan mulu, tapi nggak gemuk-gemuk!" celetukku mengusap puncak kepalanya.
Setelah selesai pembayaran, kami memutuskan untuk pulang. Aku membawa beberapa kantong belanjaan dan meletakkannya di loby mall. Aku meminta Chaca menunggu di sini. Kemudian, aku bergegas mengambil mobil.
Ketika mobil sudah melaju ke arahnya, aku melihat Chaca dari kejauhan mengobrol dengan seorang anak kecil kisaran usia 4 tahunan. Aku menghentikan mobil tepat di depannya. Lalu aku turun dan menghampiri mereka.
"Sayang, siapa dia? Kenapa menangis?" tanyaku turut berjongkok di samping Chaca.
"Nggak tahu, Sayang. Sepertinya terpisah dari ibunya," sahut Chaca menoleh ke arahku.
"Anak manis, siapa nama kamu? Dan di mana Mamamu?" tanyaku mengusap kepalanya.
Anak itu menghentikan tangisannya. Ia menurunkan lengannya dan menatapku lamat-lamat. Tiba-tiba dia menubrukku dan memelukku erat. Ia pun kembali terisak.
"Papa! Hiks ... Papa!" serunya di tengah isakannya.
__ADS_1
Chaca membelalakkan matanya, menatapku tajam. Aku mengendikkan bahu pertanda tidak mengerti dan tidak mengenalnya.
Bersambung~