Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Grand Opening


__ADS_3

Alurnya loss maju terus yak... tarik sis... 💃


...----------------...


Semakin lama, Chaca mulai bisa melupakan kegundahannya. Berkat dukungan moril sang suami, Chaca kembali bersemangat menjalani hari-harinya. Rasa cinta dan sayang suaminya tidak pernah berubah bahkan terus bertambah bagaimanapun kondisi Chaca. Yang mana itu adalah sumber kekuatannya.


Kesibukan baru setelah kuliah, ikut berkecibung mengelola cafe membuatnya semakin lupa akan kesedihannya. Sepulang kuliah, ia bersama Santi kompak belajar mengakses sistem pembayaran pada cafenya.


Sedangkan Gandhi, sibuk menyusun strategi marketing peluncuran cafe. Selain itu, ia juga melakukan interview menyeleksi semua calon karyawannya. Memilih orang-orang yang berbakat di bidangnya.


"Sayang, pulang yuk! Aku capek," rengek Chaca memeluk Gandhi dari belakang.


Gandhi melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ia lalu meletakkan berkas-berkas di tangannya, mengusap lengan Chaca lembut, menatap wajah cantik itu.


"Yuk, Santi udah pulang?" tanya Gandhi beranjak dan memberi kecupan ringan pada kening istrinya.


"Udah, Sayang. Buru-buru katanya, abis beres-beres langsung pulang," balas Chaca menautkan jemarinya dengan Gandhi.


Keduanya lalu melangkah keluar setelah mengunci seluruh ruangan. Hari ini adalah weekend, jadwal mereka menginap di rumah utama.


Gandhi mengendarai mobil dengan santai, membelah jalan raya dengan awan hitam pekat bertabur ribuan bintang.


Chaca sedang memainkan ponsel Gandhi. Ia turut membantu menyaring pelamar kerja lewat email. Tiba-tiba ponselnya bergetar karena mendapatkan video call dari Andra. Hampir saja ponselnya terlempar karena Chaca terkejut.


"Astaga! Ngagetin, ih!" gerutu Chaca memegang dadanya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Gandhi sambil melihat Chaca sesekali.


"Bang Andra Video Call, Mas," ucapnya menatap suaminya.


Gandhi segera memintanya untuk mengangkatnya. Chaca membulatkan mata sempurna ketika mengangkatnya. Terlihat seorang bayi kecil sedang tertidur lelap di sebuah box bayi.


"Hai, Aunty. Kenalin, namaku Alio," ucap Andra dengan nada seperti anak kecil. Kameranya masih menyorot pada bayi yang begitu lucu itu.

__ADS_1


Chaca terlampau bahagia, ia sampai menitikkan air mata. "Hallo, ponakan aunty yang tampan. Selamat datang di dunia ya, Sayang," gumam Chaca pelan membelai layar ponselnya. Seolah-olah ia membelai sang bayi.


Chaca memberondong banyak pertanyaan. Ternyata, Amel sudah melahirkan di kampung halamannya di Jawa Tengah. Karena kelahiran pertama sangat dinanti keluarga besarnya.


Dan lagi, orang tua Amel ingin membantu merawatnya selama masih masa nifas. Chaca sedih, karena tidak bisa langsung menjenguknya. Selain sibuk kuliah, sebentar lagi akan diadakan grand opening untuk cafenya.


"Mbak Amel gimana keadaannya, Bang? Normal 'kan?" tanya Chaca khawatir.


"Operasi, Cha. Dedek terlilit usus, jadi berbahaya jika lahiran normal. Tapi kondisinya stabil kok, sekarang sudah baikan," sahut Andra.


"Weh, selamat ya Bro. Akhirnya ada yang panggil papa," seru Gandhi masih fokus menyetir.


Andra tersenyum lalu mendoakan agar mereka turut segera mendapatkan momongan juga. Setelahnya mereka mengakhiri video call. Chaca tidak nampak sedih, karena Gandhi langsung memegang jemari Chaca dan tersenyum, "Bismillah ya, Sayang," tukas Gandhi menciumnya.


Tak berapa lama, keduanya sampai di rumah utama. Kedatangan mereka sudah ditunggu oleh Alice dan Xander.


"Malam, Ma, Pa," sapa Gandhi kala sudah melenggang masuk sampai di ruang keluarga.


Chaca tadinya memeluk erat lengan Gandhi, kini melepasnya dan segera mencium punggung tangan juga memeluk Alice dan Xander. Gandhi pun melakukan hal yang sama.


"Iya nih, Ma. Prepare minggu depan, opening cafe. Mama sama Papa bisa datang 'kan?" Gandhi berucap sembari menarik kursi untuk Chaca. Lalu mendudukkan diri di samping Chaca.


Chaca lalu membalikkan piring, mengambilkan makanan dan lauk untuk suaminya. Begitu pula dengan Alice mengambilkan makanan untuk Xander.


"Tentu saja. Mau ngundang berapa orang? Undang band sama artis ibukota juga nggak?" tanya Alice antusian sambil mendudukkan diri.


Chaca dan Gandhi menggeleng kompak. Mereka saling pandang lalu saling melempar senyum.


"Enggak, Ma. Cukup syukuran bersama anak-anak yatim piatu udah cukup. Kami sudah mengundang beberapa panti asuhan di kota ini, Ma," jelas Gandhi pelan sambil memakan makanannya.


Xander dan Alice menghentikan aktivitasnya. Mereka lalu menatap Gandhi, tidak menyangka putranya akan mengambil keputusan itu.


"Eee ... kalau stasiun TV gimana? Biar meluas, banyak yang tahu nantinya dan akhirnya bisa makin rame," imbuh Alice mulai makan kembali.

__ADS_1


"Tidak perlu, Ma. Aku yakin kok rizki sudah diatur oleh Allah. Aku malah nggak nyaman kalau terlalu rame dan berlebihan, Ma," ujar Gandhi lagi.


Mau tidak mau Alice dan Xander mengangguk, mengikuti keinginan Gandhi. Chaca sedari tadi tidak menyahut, ia memasrahkan semuanya pada sang suami.


Setelahnya, mereka segera membersihkan diri dan beristirahat. Keesokan paginya mereka biasanya menghabiskan waktu bersama. Chaca belajar memasak dengan Alice, sedang para pria biasanya bermain catur, memancing atau hanya sekedar ngobrol ringan.


...----------------...


Hari yang ditunggu telah tiba. Kini Chandhi's Cafe telah ramai dengan anak-anak. Tak terkecuali semua adik-adik pantinya. Termasuk keeampat adiknya yang sudah diadopsi. Mama dan Papanya juga sudah hadir. Para karyawannya sudah sibuk sedari tadi menyiapkan makanan, minuman dan amplop untuk dibagikan pada anak-anak.


Bryan dan Andin tidak bisa hadir, karena sedang banyak pekerjaan. Sedangkan teman-teman Gandhi ada sebagian yang hadir juga. Karena beberapa diantaranya masih bekerja.


Acara dimulai dengan pengajian terlebih dahulu, mendoakan untuk keberkahan cafe baru Gandhi dan Chaca, tak lupa mendoakan kesehatan dan kebahagiaan mereka.


Kemudian dilanjutkan dengan acara pemotongan pita yang dilakukan oleh pasangan suami istri tersebut. Riuh tepuk tangan dan doa terus mengalir untuk mereka dan usaha mereka. Selanjutnya adalah sedikit sambutan dari Gandhi.


"Ma, Pa, terima kasih banyak atas semua supportnya," tukas Gandhi setelah mempersilahkan para undangan untuk mulai menikmati hidangannya.


"Tentu saja, Sayang. Mama dan Papa akan selalu mendukungmu. Selamat ya, semoga sukses," ucap Mama Alice memeluk Gandhi.


Chaca dibantu Santi mulai membagikan amplop pada anak-anak yatim. Lalu mereka semua makan bersama.


Sampai dipenghujung acara, semua tamu berpamitan sambil mengucapkan selamat. Chaca masih memeluk erat adik-adiknya yang sudah tinggal bersama orang tua angkat mereka.


"Sayang, kalian baik-baik aja 'kan? Kalian bahagia 'kan? Ingat kalau ada apa-apa segera hubungi kakak atau Mas Gandhi, ya?" Chaca begitu khawatir. Ia memberikan kartu nama pada mereka satu per satu.


"Aku bahagia kok, Kak. Seneng banget punya papa dan mama," sahut Intan segera diangguki oleh ketiga lainnya.


"Syukurlah, Kakak turut bahagia." Chaca mendesah lega lalu kembali memeluk mereka dengan erat. Hingga orang tua mereka mengajak untuk segera pulang. Lalu Chaca kembali bergabung dengan suami dan orang tuanya.


Dewi dan teman-teman lainnya bergantian memberi selamat pada Gandhi dan Chaca.


"Pak, Cha, selamat ya. Aku bakal sering-sering nongkrong ke sini nih. Asyik banget tempatnya," ujar Dewi melihat sekeliling.

__ADS_1


"Oiya, Pak. Bryan kok nggak kelihatan ya? Nggak bisa dihubungi juga," tanya Dewi celingukan.


Bersambung~


__ADS_2