Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Amanah


__ADS_3

Gandhi menarik lengan Chaca tanpa berucap apa pun. Keduanya lalu berlari sekuat tenaga. Chaca sampai terseok karena mengimbangi derap langkah suaminya.


"Sayang, ada apa?" pekik Chaca terkejut.


Gandhi tidak menjawab apa pun. Ia terus menggenggam lengan Chaca sampai di parkiran. Gandhi membukakan pintu mobil meminta Chaca untuk segera naik. Chaca bingung, namun ia menurutinya.


Pria itu segera duduk di balik kemudi dan melajukan mobil dengan segera. Gandhi sangat fokus, pandangannya lurus ke depan, keningnya berkerut seolah ada sesuatu yang sangat serius.


Chaca menghela napas panjang, ia sabar menanti penjelasan sang suami. Meskipun dalam hatinya ketakutan.


"Sayang, apa pun yang akan kamu lihat nanti tolong kuatkan dirimu." Ucapan Gandhi semakin membuatnya kalut. Chaca tak mampu menjawab apa pun. Jantungnya berdetak sangat kencang.


Beberapa menit kemudian, Gandhi menghentikan mobilnya di depan rumah mewah berlantai dua. Keduanya turun dari mobil. Chaca terpaku dengan jantung yang hampir meledak ketika melihat bendera kuning terpasang di gerbang rumah itu.


Gandhi mendekatinya, menatap Chaca dengan sorot mata kesedihan. Ia menautkan jemarinya dengan Chaca.


"Ini rumah siapa?" tanya Chaca dengan suara bergetar.


"Ayo masuk, ingat kamu harus kuat apa pun yang kamu lihat atau yang kamu dengar," tukas Gandhi diangguki oleh Chaca.


Keduanya melangkah masuk, sudah banyak pelayat yang datang ke rumah itu. Isakan tangis terdengar di tengah-tengah keluarga. Mata Chaca menangkap mantan bossnya yang terlihat frustasi.


"Apa? Siapa yang meninggal?" bisik Chaca meremas tangan suaminya.

__ADS_1


Gandhi menuntunnya masuk, turut bergabung dengan sanak saudara yang sedang dirundung duka. Ia turut merasakan kesedihan mendalam.


"Pak," panggil Gandhi mendudukkan diri di depan Handoyo.


Tangisan pria itu semakin pecah, ia memeluk Gandhi erat. "Friska, dia kecelakaan pesawat pada penerbangannya tadi pagi. Jasadnya belum bisa ditemukan," ucap Handoyo bergetar dengan air mata terus membanjiri wajahnya.


Chaca membulatkan mata dan mulutnya. Satu yang ia pikirkan saat ini, Reyhan. Gandhi mengusap punggung pria itu yang terus bergetar.


"Sabar ya, Pak. Apakah Reyhan ikut bersamanya?" tanya Gandhi pelan.


Handoyo melepaskan pelukannya, ia menggelengkan kepala lalu memberikan sepucuk surat pada Ghandi. Entah kapan surat itu ditulis, namun sebelum berangkat ke bandara Friska berpesan agar surat itu disampaikan pada Gandhi dan Chaca.


"Makanya aku memintamu datang ke sini. Sepertinya ini pesan terakhir Friska untuk kalian berdua. Aku tidak tahu apa isinya," tukas Handoyo menghapus air matanya.


Gandhi menerima surat itu, buru-buru ia membukanya bersama Chaca. Setiap kata yang tertuang mereka cerna perlahan.


Chaca mulai menangis, kepalanya mengeliling mencari anak laki-laki itu. Gandhi menyerahkan surat itu pada Handoyo.


"Di mana Reyhan, Pak?" tanya Gandhi pelan.


"Dia di taman belakang bersama Bibi," sahutnya pelan.


"Kami izin menemuinya," pamit Gandhi diangguki oleh Han sambil membaca surat dari Friska.

__ADS_1


Keduanya lalu melangkah mencari keberadaan Reyhan. Dia sedang bermain dengan pengasuhnya. Mungkin anak kecil itu belum mengerti apa yang telah menimpa sang mama.


Tubuh Chaca bergetar, sekuat tenaga ia menahan tangis agar tidak jatuh. Gandhi mengusap pundaknya pelan, mengedipkan mata berusaha menenangkannya demi seorang anak yang telah kehilangan mamanya.


Langkah keduanya memelan saat jarak mereka semakin dekat. Reyhan yang melihat kedatangan mereka berlari memeluk Gandhi.


"Papa," serunya dengan tawa bahagia. Mata Gandhi mulai memerah. Ia menyambut Reyhan dengan pelukan hangat.


'Apa yang akan harus kujelaskan pada anak itu? Bagaimana aku menyampaikannya?' batin Gandhi mengusap kepalanya lembut.


Chaca turut berjongkok menyamakan tingginya dengan Reyhan. "Rey, mau nggak tinggal sama Papa Gandhi sama tante juga?" tanya Chaca mengusap puncak kepala Reyhan.


"Mau mau! Tapi ... nanti kalau Mama pulang pasti cari Reyhan. Kata Mama, nggak lama perginya," ujar anak itu polos.


Gandhi dan Chaca saling menatap. Mereka menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan berat.


"Sayang, Mama pesen katanya Reyhan ikut sama Papa Gandhi dulu. Nanti kalau udah pulang, pasti dijemput. Opa nggak bisa jagain Reyhan sendiri," jelas Gandhi.


Reyhan mengangguk bersemangat. Ia meminta sang pengasuh untuk menyiapkan kebutuhannya.


Chaca menangis tersedu setelah kepergian Reyhan ke kamar. Gandhi memeluknya erat, terus menenangkannya dan berucap agar tidak bersedih di depan Reyhan. Chaca mengusap air matanya dengan kemeja Gandhi, ia memeluk suaminya sangat erat.


Setelah bersiap, mereka keluar melalui pintu rumah belakang. Lalu berjalan melalui pelataran rumah itu. Gandhi menggendongnya terus mengajaknya bercanda. Chaca berjalan di sampingnya membawakan tas Reyhan.

__ADS_1


"Kok rumah Opa banyak orang, Pa?" tanya Reyhan melihat banyak orang di bawah tenda.


Bersambung~


__ADS_2