Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 26


__ADS_3

"Bun, besok Chaca pulang ya," ucap Chaca yang bersandar manja di lengan sang bunda.


Mereka tengah bersantai di taman depan rumah. Bunda pun mengusap kepalanya dengan lembut. "Iya, Nak. Kamu harus pulang. Orang tua kamu pasti khawatir," ujar Bunda lembut.


"Ah, enggak, Bun. Mereka tuh lebih khawatir kehilangan uang dari pada kehilangan Chaca," gerutu Chaca mengerutkan bibirnya.


"Ssstt, nggak boleh ngomong gitu. Biar bagaimanapun mereka orang tua Chaca," sambar Bunda menatapnya tajam. "Kapan-kapan, kalau Chaca mau ke sini lagi boleh kok. Rumah ini selalu terbuka untuk Chaca," sambungnya dengan suara melembut.


Chaca hanya mengangguk. Ia yakin yang khawatir dengannya cuma Bi Ratih aja. Ia takut kalau bilang dengan Bi Ratih, akan disampaikan ke orang tuanya. Dan berakhir dengan Chaca kehilangan kenyamannya selama beberapa hari ini.


"Kamu suka sama Gandhi, Cha?" tembak Bunda membuat Chaca terkesiap. Tubuhnya menegang. Dalam hatinya bertanya-tanya. Bagaimana bunda bisa tahu?


Lama tak terdengar jawaban membuat Bunda tekikik pelan. "Enggak usah tegang gitu. Sepertinya kalian saling suka. Enggak masalah kalau kalian menjalin hubungan. Asalkan tetap pada batasannya. Dan tidak mengganggu sekolah kamu. Awas ya kalau nilai-nilai kamu menurun gara-gara pacaran, bunda orang pertama yang akan memisahkan kalian berdua!" tegas Bunda.


Buru-buru Chaca mengeratkan pelukannya. "Chaca janji akan tetap fokus belajar, Bunda. Dan akan jaga diri," jawab Chaca dengan cepat.


****


Sore harinya, Gandhi pulang menyusuri jalan dengan riang. Lelah usai bekerja seharian seolah luntur ketika mengingat Chaca.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Bunda, Chaca," sapa Gandhi setelah memasuki pekarangan. Lalu mencium tangan Bunda dan hendak memeluk Chaca.


Namun dengan cepat tangan Bunda menahan dada Gandhi. "Eiiitt, belum muhrim. Sana mandi dulu!" cegah Bunda melempar tatapan tajam.


"Ehehee, iya, Bun," sahut Gandhi kembali menegakkan tubuhnya lalu balik kanan masuk ke rumah.


Dua perempuan itu terkekeh geli melihat laki-laki kesayangan mereka telah pulang. Tak ada yang tahu jika wajah Chaca kini memerah.


***


Matahari telah menyembul dari ufuk timur. Pagi yang hangat dan cerah, namun terasa mendung di panti asuhan bunda.


Ya, Chaca memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia takut jika orang tuanya melacak keberadaannya dan mengobrak-abrik tempat ini.


"Jaga diri ya, Nak. Kapan-kapan mampirlah ke sini lagi," ucap Bunda sendu. Namun ia sadar tak mungkin menahan Chaca tetap tinggal, karena masih memiliki orang tua.


"Iya Bun, pasti!" Chaca memeluknya erat sambil terisak.


Gandhi yang sedang libur bekerja, kini memutuskan untuk mengantar Chaca. Ia pernah mengikuti kursus menyetir mobil, dan beberapa hari lalu juga telah membeli sebuah mobil dari hasil kerja kerasnya. Meskipun dalam keadaan second dan dibayar beberapa kali.

__ADS_1


"Udah dong nangis-nangisnya, yuk! keburu macet. Biasanya kalau weekend jalanan rame," ucap Gandhi merusak suasana haru itu.


Akhirnya Chaca pun melepas pelukannya. Berjalan menuju mobilnya sambil melambaikan tangan.


"Hati-hati Kak Chaca," teriak anak-anak panti.


Tak kuasa berucap, Chaca hanya mengangguk. Sambil menutup mulutnya. Agar tak terisak. Satu tangannya melambai. Dari sini ia belajar arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Bukan karena harta ataupun tahta. Tapi ketulusan dan kasih sayang orang-orang terdekat kita.


Gandhi membukakan pintu mobil. Lalu duduk di balik kemudi dan mulai mengendarai mobil milik Chaca.


"Om nanti pulangnya gimana?" tanya Chaca setelah mereka di jalan.


"Gampanglah nggak usah kamu pikirin," jawabnya mengusap kepala Chaca. "Udah siap ketemu papa mama kamu? Mereka di rumah kan kalau weekend?" lanjut Gandhi fokus ke depan.


"Huum. Paling nanti bokap marah-marah," sahut Chaca menatap keluar jendela. Membayangkan reaksi papanya.


"Kalau ada apa-apa bilang ya, aku sayang sama kamu. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu," ucap Gandhi lembut membelai kepala Chaca.


Chaca memeluk erat lengannya. Sampai memiringkan tubuhnya. "Gue juga sayang sama Om," sahutnya sambil memberi sebuah kecupan di pipi Gandhi.

__ADS_1


"Chaca!" pekik Gandhi terkejut.


Bersambung~


__ADS_2