
"Sayang, terima kasih banyak," ucap Chaca memeluk Gandhi lalu memberikan ciuman pada kedua pipi dan bibir suaminya.
Gandhi merengkuh pinggang Chaca, mendudukkannya tepat di pangkuan laki-laki itu. Kedua tangannya terangkat, membelai lembut pipi Chaca, menyibak anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantiknya.
"Sayang, aku sudah janji pada diriku sendiri. Apapun akan aku lakukan demi membahagiakan kamu. Jangan berterima kasih, ini adalah tugas dan tanggung jawabku sebagai imammu," tutur Gandhi menatap kedua manik mata cantik di depannya.
Chaca merasa melambung tinggi ke awan. Jiwanya seolah terbang bersama angan serta impiannya dan tidak ingin turun lagi. Hatinya selalu berbunga-bunga, jika terus berada di sisi suami tercintanya.
Perasaan haru selalu mengalir membasahi kerongkongan dan menyejukkan jiwa raganya. Chaca, gadis yang dulunya arogan, suka berkata kasar, hampir tiap hari clubing dan minum-minuman keras, suka kluyuran tengah malam. Kini telah lahir menjadi Chaca yang anggun, lebih dewasa, lembut meskipun kadang sesekali kumat kerasnya saat ada yang mengusik dirinya maupun suaminya.
Gandhilah alasan utamanya, laki-laki yang kini telah menempati separuh jiwanya. Dia yang mampu mengobrak abrik perasaan Chaca, dia juga yang menerangi Chaca dalam kegelapan. Mengantarkannya pada gerbang kebaikan.
"Kalau kamu kayak gini terus, kita kapan makannya, Sayang?" tanya Gandhi menyadarkan lamunan Chaca.
"Eh," tukas Chaca bangkit dari duduknya. Ia lalu menarik sebuah kursi di samping Gandhi lalu mendudukinya.
Mereka berdua mulai memakan nasi goreng buah karya dari Chaca. Eh bukan, tapi hasil kolaborasi suami istri yang selalu romantis itu. Soal rasa, jangan ditanya lagi. Sesuatu yang dibuat dengan penuh cinta pasti hasilnya istimewa.
Setelah menyelesaikan makan malam, Chaca segera membereskan dapur yang sudah seperti kapal pecah akibat ulahnya tadi. Sedangkan Gandhi mencuci piringnya.
"Sayang," panggil Gandhi mengangkat telapak tangan dekat dengan pipi kiri Chaca.
Chaca menoleh dan ....
"Ihh, Sayang!" geram Chaca karena pipinya penuh busa.
Gandhi tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi istrinya yang begitu menggemaskan di matanya.
"Abisnya dari tadi serius banget," ujar Gandhi mencuci tangannya lalu mulai membersihkan pipi Chaca.
"Kalau bercanda terus kapan selesainya, Mas. Nih liat berantakan, bahan berceceran dimana-mana!" dengus Chaca membersihkan kembali meja dapur.
"Hahaha ... lah itu 'kan ulahmu, Sayang!" tukas Gandhi mencubit kedua pipi Chaca gemas.
Chaca hanya nyengir saja, "Ah iya ya," celetuknya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Kemudian, mereka bergegas mencari toko perabotan untuk mengisi bakal resto mereka. Hari yang sudah gelap membuat Gandhi buru-buru menyetirnya, namun tetap hati-hati.
Beberapa menit kemudian, mobil telah berhenti di pelataran parkir sebuah toko besar yang menyediakan aneka perabotan dan perlengkapan rumah tangga.
Chaca turun dengan bersemangat, ia tidak sabar ingin segera mendekorasi tempat sesuai keinginannya.
"Sayang, buruan ih!" serunya bersiap meraih tangan suaminya.
Gandhi menutup pintu mobil dengan cepat, setengah berlari menghampiri istrinya. Mereka masuk beriringan, memilih barang-barang yang berkualitas. Mulai dari kitchen set, perlengkapan kebersihan, lemari pendingin, meja, kursi dan sekaligus accessorisnya.
Keduanya sepakat, mendesain restonya menjadi dua mode. Satu sisi bernuansa klasik, sisi lainnya bernuansa modern. Ada juga menyediakan tempat bermain yang aman dan nyaman untuk anak-anak. Tujuannya adalah agar restorannya bisa dikunjungi oleh berbagai kalangan usia. Mengutamakan kenyamanan pelanggan tentunya.
Mereka berdua menjalankan perannya masing-masing. Gandhi meminta Chaca mendekorasi sesuai keinginannya, pada batas yang telah ditentukan. Ia pun juga akan merangkai sedemikian rupa sesuai dengan angannya.
Kini mereka berpisah, karena pilihan mereka yang berbeda jalur. Hampir dua jam mereka memilah dan memilih barang-barang yang dibutuhkan. Lalu mereka bertemu di kasir. Chaca menyerahkan debit card pada petugas kasir.
Gandhi bukan orang yang suka memanfaatkan keadaan. Dia tidak mau menjadikan harta orang tuanya untuk memperkaya diri. Meski Xander dan Alice memaksa, dia tetap kekeh dengan pendiriannya. Yakni, ingin sukses bersama Chaca dengan hasil jerih payah berdua dengan istrinya. Gandhi ingin seperti kedua orang tuanya, sukses dengan kerja keras mereka sendiri.
"Sayang, udah," ucap Chaca merangkul lengan suaminya.
"Bisa diantar sekarang juga, Mas?" tanya Gandhi pada salah satu petugas di sana.
Setelah memberikan alamat, Chaca dan Gandhi bergegas menuju resto mereka. Membukanya, lalu duduk di teras sembari menunggu perabotan datang.
"Capek?" tanya Gandhi menangkup tangan Chaca.
Napas Chaca memang masih tersengal, rasa letih nampak jelas di permukaan wajah cantiknya. Sisa keringat yang mengering juga membekas jelas di kening turun ke pelipis hingga ke pipinya.
"Semoga lelah kita menjadi berkah, Sayang. Kita mulai dari nol ya," ucap Chaca pelan dengan senyum manis di bibirnya.
"Aamiin, Sayang. Terima kasih, mau berjuang bersamaku. Aku yakin kita bisa seperti mama dan papa." Gandhi merangkul tubuh Chaca, menghujani ciuman di kening, pipi, hidung lalu ke bibirnya. Sungguh, dia sangat bahagia karena memiliki istri yang mau diajak bekerja keras seperti ini.
"Tunggu sebentar, aku beliin minum ya," tutur Gandhi mengusap pipi Chaca lembut.
Chaca mengangguk, ia menyelonjorkan kedua kakinya. Kedua tangannya menahan di belakang tubuh. Kepalanya mendongak, matanya terpejam menikmati gesekan angin yang menerpa kulitnya.
__ADS_1
Gandhi datang dengan dua botol minuman dingin di tangannya. Ia meletakkan di pipi Chaca, sehingga membuatnya terkejut dan membuka mata seketika.
Keduanya saling melempar tawa, Chaca meraih satu botol dan meneguknya perlahan. Tak lama, ada 2 truk pengangkut barang-barang pembelian mereka tadi terparkir di halaman yang sangat luas.
Mereka lalu mengarahkan pekerja untuk meletakkan barang-barang itu sesuai dengan rencana mereka. Chaca dan Gandhi terus berteriak mengarahkan, sesekali ikut membantu mengangkatnya juga.
"Kamu wanita luar biasa istriku," gumam Gandhi memperhatikan Chaca yang mondar mandir sedari tadi.
Ia menghampiri Chaca, berbisik tepat di teliganya karena suara yang bising, "Sayang, kamu istirahat aja. Sisanya biar aku yang atur," ujar Gandhi pelan memeluk Chaca dari belakang. Ia menopangkan dagu di bahu istrinya.
"Sedikit lagi, Sayang," sahutnya menepuk pipi Gandhi pelan dengan wajah yang pucat.
"Enggak! Aku nggak mau kamu kecapean. Ayo sana, istirahat!" tegas Gandhi tidak tega. Terbesit rasa bersalah di benaknya karena membiarkan istrinya turut bekerja keras.
"Iya, iya, suamiku yang bawel," celetuk Chaca hendak melenggang pergi.
Baru dua langkah, tubuh Chaca terhuyung dan terjatuh. Beruntung lengan Gandhi dengan sigap menopangnya.
"Astaga! Sayang!" seru Gandhi panik.
Semua orang menghentikan aktivitasnya. Gandhi menggendongnya ke sebuah ruangan khusus yang sudah ada spring bed barunya.
"Tolong kalian lanjutkan!" teriak Gandhi sambil berlari.
Gandhi melepas flat shoes Chaca, mengendurkan ikat pinggang dan melepas kaitan celana jeansnya. Gandhi lalu berlari keluar, setelah menutup rapat pintunya. Ia mengambil kotak P3K di mobil.
Lalu kembali berlari masuk, napasnya masih tersengal-sengal. Ia mengambil minyak angin dan membalurkan pada perut, telapak tangan dan kaki sembari menggosoknya pelan. Agar lebih hangat.
"Sayang, bangun! Sayang!" gumam Gandhi membalurkan minyak angin pada kening Chaca, lalu merapatkan pada hidung, agar terhirup dan berharap Chaca cepat sadar.
"Cha! Buka matamu, Sayang!" serunya lagi dengan tangan kiri terus memegang dan mencium tangan Chaca.
Bersambung~
Masih manis manis dulu yaa babang gand ❤❤
__ADS_1
Yang belum mampir ke lapak Bryan, kuy ditengok ya... tinggalin jejaknya jugaa... thankyouu semua readers kesayangan akoh😘