Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 29


__ADS_3

Sejak hari itu, gerakan Chaca dibatasi. Kemana-mana Chaca harus diantar sopir. Ia tidak pernah menyalakan ponsel. Chaca yang cerewet pun berubah menjadi pendiam namun menyimpan kekecewaan mendalam.


Chaca tidak pernah menyahuti pertanyaan orang tuanya. Ia membisu dan menulikan telinga saat diajak berbicara. Hal itu tentu membuat Alexander semakin geram.


Di balik itu, Gandhi kelimpungan. Sudah seminggu Chaca tidak bisa dihubungi. Gadis itu sengaja tidak mau menceritakan masalahnya, ia juga takut bertemu kekasihnya dalam keadaan pipi membengkak. Chaca tidak mau Gandhi khawatir.


"Mang, kita mampir ke suatu tempat dulu," pinta Chaca setelah duduk di belakang sopir.


"Tapi, Bapak melarang, Neng. Mamang takut ...."


"Ayolah, Mang. Kalau nggak mau turunin Chaca di sini!" pintanya dengab tegas memangkas ucapan sopir pribadinya.


"Ya, jangan dong, Non. Iya udah, kita kemana sekarang?" Mang Maman pun mengalah.


Chaca menunjukkan jalan menuju ke panti. Ia sangat merindukan suasana hangat di sana. Ia juga merindukan bunda, adik-adik dan terutama Gandhi tentunya.


Namun, saat beberapa meter tak jauh dari panti, kening Chaca berkerut dalam. Ia terkejut dengan dekorasi yang ada di rumah bunda. Suasananya juga sangat ramai. Banyak orang berlalu lalang keluar masuk ke rumah itu. Suara sound system juga menggelegar menambah keramaian di sana.


"Stop, Mang!" ucap Chaca meminta Mang Maman berhenti di tepi jalan. "Tunggu di sini ya," sambungnya lagi.

__ADS_1


Chaca turun dari mobilnya, berjalan memasuki pelataran Bunda yang sudah dihias banyaknya bunga. Juga diisi banyaknya tamu undangan.


Pandangannya mengedar mencari orang-orang yang dikenalnya. Langkahnya pun melambat, berjalan dipenuhi rasa kebingungan.


"Bunda!" teriak Chaca ditengah keramaian memanggil wanita yang sudah dianggap ibunya itu.


Tampak wajah terkejut Bunda, matanya membelalak. Chaca pun mendekati dan melingkarkan lengannya di lengan Bunda.


"Bunda! Ada acara hajatan ya? Siapa yang khitan?" tanya Chaca tepat di telinga Bunda. Perkiraannya adalah acara khitanan salah satu anak angkat bunda.


"Eee ... anu ... itu." Bunda tampak gugup menjawabnya.


Saat ia mencari tempat duduk, tampak penuh. Sehingga ia mencari tempat yang nyaman untuk makan. Sedangkan Bunda tampak sibuk dengan banyaknya tamu yang menyalaminya.


Namun meskipun begitu, mata Bunda tetap memantau keberadaan Chaca. Sampai gadis itu sudah menghilang dari pandangannya.


Chaca melangkah masuk ke rumah dengan santai. Nampak adik-adiknya berkumpul di sana.


"Kak Chaca!" pekik mereka bersamaan.

__ADS_1


"Hai!" sahut Chaca girang.


Ekor mata kirinya menangkap pemandangan berbeda. Kerlap kerlip cahaya menyita perhatiannya. Kepalanya refleks menoleh. Dan ....


"BOM!!!"


Piring dan gelas di tangannya jatuh dan pecah dengan sempurna di lantai. Jantungnya serasa ditusuk ribuan jarum. Tubuhnya melemas dengan napas yang memburu.


Air matanya menggenang di pelupuk mata. Siap terjatuh kapan saja. Buru-buru ia mencari pegangan pada tembok di belakangnya untuk menopang tubuhnya.


Detak jantungnya bertalu dengan kuatnya. Tubuhnya gemetar melihat apa yang ada di depannya.


Kekasihnya yang sangat dirindukan, ternyata sedang duduk di pelaminan dengan wanita lain, berbalut baju pengantin. Ia seperti dihempaskan dari langit ke tujuh dan jatuh ke perut bumi terdalam.


Tenggorokannya tercekat tak mampu mengeluarkan suara. Hanya air mata yang terus membobol pertahanannya.


"Chaca!" seru Gandhi membelalakkan mata. Ia pun sama berdegub tidak karuan.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2