Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Rasa Empati


__ADS_3

Bryan menahan senyumnya kala gadis yang berdiri di hadapannya itu terlihat kikuk. Padahal Bryan merasa biasa saja. Andin menundukkan kepalanya.


"Duduklah, tak apa. Sejak kapan kenal Chaca?" ujar Bryan.


Andin mendudukkan dirinya perlahan di samping Bryan. "Saya, kenal ketika pertama masuk kuliah, Pak. Chaca sangat baik dan tulus, dia tidak pernah membeda-bedakan orang dari harta maupun kasta," sahut Andin sambil memperhatikan lengan kanan Bryan.


"Iya, dia sangat cantik dan baik sama semua orang. Makanya aku sayang sama dia," ucap Bryan membuat Andin tersentak.


Sebenarnya Andin sudah melihatnya semasa di kampus. Tatapan Bryan pada Chaca mengatakan sesuatu yang berbeda. Namun ia mencoba mengelaknya dan sekarang telinganya mendengar sendiri pengakuan dosennya tersebut.


Andin tidak mau ikut campur, ia yakin Chaca mampu menanganinya. Andin mulai membuka minyak urut di tangannya. Diraihnya lengan Bryan secara perlahan, lalu ia membalurkan cairan itu pada tangan Bryan.


"Pak, izin memijat ya. Tenang aja, aku dulu sering diajarin Bunda. Urut mengurut seperti ini hal yang kecil," tukas Andin lembut. Kedua tangannya masih memegang telapak tangan Bryan di pangkuannya.


Bryan tampak ragu-ragu. Ia mengerutkan kening menatap tangannya, yang berada di atas paha Andin yang terlapisi celana jeans tebal. Andin mengikuti ekor mata Bryan, gadis itu tersadar lalu segera melepaskan tangannya.


"Eh, mmm ... maaf ya Pak, saya lancang," ucapnya gugup merasa tidak enak.


"Lakukanlah, aku percaya padamu," tukas Bryan santai.


Andin mengangguk, ia tidak berani menatap mata elang Bryan. "Tahan sedikit ya, Pak," pesannya.


Jemari lentiknya mulai memijat dengan lembut, syaraf-syaraf pada telapak maupun punggung tangan pria itu. Yang mana, akan langsung terhubung dengan persendian lengannya.


Bryan mengerang menahan sakit, dia memalingkan mukanya. Teriakannya juga tertahan. Andin dengan lihai melakukannya. Ia meringis seolah ikut merasakan sakit.


"Andin," panggil Bryan ketika rasa sakitnya mulai memudar.


"Mulai hari senin kamu jadi assisten saya," tukas Bryan tanpa basa basi.


"Haaa?" seru Andin terkejut, gerakan tangannya terhenti.


Bryan meluruskan duduknya. Sedari tadi dia membelakangi Andin, dia malu memperlihatkan wajah kesakitannya.


"Ke--kenapa saya," tanya Andin terbata-bata.


"Ya terserah saya lah. Lagian kamu cerdas," ucapnya tidak mau dibantah.


"Mmm ... baik, Pak," sahutnya mulai memijit lagi.


Bryan menikmati setiap sentuhan gadis itu. Semakin lama, rasa sakitnya semakin memudar. Meski tidak sepenuhnya hilang. Namun sudah terasa membaik.

__ADS_1


'Andin, ternyata kamu tidak hanya pandai akademik saja, tapi memijit juga,' batin Bryan menggelengkan kepala dengan seulas senyum tersembunyi.


"Pak, kenapa geleng-geleng? Pijitannya nggak enak ya?" tanya Andin memastikan.


"Eh enggak, enak banget malah. Thanks, udah mendingan nih," jawab Bryan tanpa menoleh pada Andin.


Andin mendesah lega. Tanpa terasa hari malam semakin larut. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam. Mereka tidak terlalu banyak bicara, hanya seperlunya saja. Suara televisi lebih mendominasi.


Andin memang gadis pendiam, tidak tertarik ingin tahu masalah orang lain. Dia berpikir, setiap orang punya privasi masing-masing. Meski begitu, ia orang yang sangat peduli. Tidak banyak bicara, tapi selalu mencurahkan perhatiannya melalui tindakan.


Perut Bryan menggelitik, meronta ingin segera diisi. Suara cacing yang memberontak sampai terdengar di telinga Andin. Sudah cukup dirasa acara pijitnya.


"Bapak belum makan?" tanya Andin hanya dijawab gelengan kepala oleh Bryan.


Andin bergegas ke dapur, kali ini tanpa meminta izin karena ia juga merasa lapar. Sesampainya di dapur, ia tidak menemukan nasi, lauk pun hanya makanan kaleng yang baru dibeli tadi. Jadi, Andin memutuskan merebus mie instan beserta telur.


Beberapa menit kemudian, ia kembali ke depan dengan dua mangkok mie di nampan. Bryan berbinar melihatnya. Apalagi selama ini, tidak pernah ada yang meladeninya.


"Woaah, makasih banyak, Ndin. Pengertian banget," seru Bryan meraih satu mangkok mie dengan sayuran hijau plus telurnya.


"Nggak ada nasi, Pak. Jadi aku buat mie aja," sahutnya mendudukkan diri di samping Bryan.


Di tengah asyiknya makan, Bryan membelalakkan mata ketika melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam lebih.


"Ndin!" pekik Bryan menepuk bahu Andin.


Gadis itu tersedak, mukanya memerah. Bryan buru-buru mengambilkan air putih dan segera menyerahkannya.


"Sorry Ndin, astaga. Aku nggak bermaksud ngagetin," ucap Bryan mengusap punggung Andin dengan lembut.


Andin mengatur napas dan menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa, Pak," sahutnya serak menekan dadanya yang masih sesak. Tenggorokannya masih terasa panas. Ia kembali meminum air yang diberikan Bryan. Matanya nampak berkaca-kaca. Namun ia masih menampikkan senyumannya.


"Udah ... nggak apa-apa, Pak." Andin refleks menyentuh tangan Bryan. Pria itu sangat panik, keringat mengguyur wajahnya. Ia terus minta maaf merasa bersalah.


"Sakit banget ya?" Bryan meringis membayangkannya. Mengingat mie yang lahap Andin begitu pedas.


Andin hanya tersenyum dengan mata masih berkaca-kaca. "Mau bilang apa tadi, Pak?" tanyanya mengingat Bryan memanggilnya dengan keras.


"Ohya, itu udah jam 12 malam lebih. Kamu nggak dicari orang tuamu? Nanti mereka khawatir," tukas Bryan.


Andin menundukkan kepala. Air matanya menetes sedikit demi sedikit. Sesekali ia menyekanya. Puncak hidungnya memerah.

__ADS_1


"Aku sendirian, Pak. Bunda sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Kedua orang tuaku bercerai, mereka berpisah ketika aku masih berusia 10 tahun," ucapnya dengan nada bergetar.


Bryan tersentak mendengarnya. Nalurinya mengantarkan jemarinya untuk menghapus air mata Andin yang mengalir semakin deras.


"Maaf." Satu kata yang terucap dari bibir Bryan. Pria itu kemudian menariknya ke dalam pelukan hangatnya. Andin membuka suara perlahan. Ia menceritakan kisah hidupnya pada Bryan.


Andin semakin terisak teringat ibunya. Semenjak bercerai, dia tinggal bersama sang bunda di Semarang. Karena beliau mengajak Andin pulang ke rumah neneknya. Ayahnya tidak mempedulikan mereka berdua.


Namun, kepulangannya justru membawa penderitaan baru untuk bundanya. Sang nenek marah, kecewa karena perpisahan tersebut. Hampir satu tahun tinggal, beliau semakin tidak betah karena sering dimaki nenek Andin.


Lalu, bunda Andin kembali mengajaknya ke Malang. Memulai hidup baru, hanya berdua saja. Menutup semua kisah pahit mereka. Sang bunda bekerja keras sebagai seorang penjahit. Beliau mampu membesarkan Andin hingga memasuki sekolah menengah.


Bundanya meninggal ketika ia duduk di bangku SMA karena sakit. Sejak saat itu, Andin bekerja paruh waktu untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari. Kini, ia benar-benar sebatang kara.


Andin semakin mengeratkan pelukannya. Bryan turut menitikkan air mata mendengar kisah pilu hidupnya. Bryan terus mengusap punggung gadis itu yang masih bergetar. Berharap sentuhannya bisa menenangkannya.


"Aku sangat merindukan Bunda, Pak. Aku belum bisa membahagiakannya. Selama ini aku hanya terus merepotkan Bunda saja," tukasnya di tengah isakannya.


"Doa kamu adalah kebahagiaan untuk Bunda di surga sana, sabar ya," ucap Bryan mencoba menenangkan.


Lama kelamaan, suara isakan Andin menghilang. Bryan sedikit menjauhkan tubuhnya. Ternyata gadis itu tertidur.


"Astaga, sampai tidur," gumam Bryan pelan.


Ia mengangkat tubuh mungil Andin ke kamarnya. Lengannya sudah membaik, meski masih sedikit nyeri. Hanya sedikit. Bryan merebahkannya, mengusap lembut kepala gadis itu. Dia prihatin atas apa yang menimpanya.


"Kamu gadis yang kuat, di balik senyuman kamu ternyata tersimpan luka mendalam." Bryan menyelimuti tubuh Andin, dia lalu mengambil bantal dan tidur di sofa depan.


Pagi harinya, Andin menggeliat. Ia silau dengan cahaya yang menerobos sela-sela jendela. Matanya mengerjap, "Apa aku masih bermimpi?" gumamnya menepuk kedua pipinya pelan.


Pandangannya mengeliling. Ia terkejut lalu mendudukkan tubuhnya dengan cepat. Perasaan takut tiba-tiba menelusup hatinya.


"Aku di mana?" gumamnya pelan mencoba mengingat kejadian semalam.


Andin mengingat dengan keras. Matanya membelalak saat mendapatkan kepingan kejadian tadi malam.


"Astaga! Apa yang aku lakukan!" teriaknya kembali merebahkan tubuh lalu menarik selimut hingga kepalanya.


Bersambung~


Ternyata udah banyak, Om Gandhinya next part aja ya๐Ÿ˜š๐Ÿ™๐Ÿ˜„

__ADS_1


__ADS_2