Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Frustasi


__ADS_3

Dua pelayan rumahnya tergopoh-gopoh mendengar teriakan Gandhi. Mereka memberanikan diri masuk ke kamar yang pintunya terbuka.


Mereka khawatir terjadi sesuatu dengan tuan dan nyonyanya. Terlihat, tuannya bersimpuh di lantai. Piyama tidur yang berantakan dan rambut acak-acakan.


"Tuan, ada apa?" tanya salah satu pelayannya.


"Bi, apa ada yang melihat Chaca? Dia tidak ada dimanapun," ucapnya sendu.


Kedua pelayan itu saling memandang dan saling mengendikkan bahu. Mereka juga tidak tahu, sejak pagi mereka beraktivitas tidak ada yang melihatnya.


"Di mana Bi?" ulang Gandhi.


"Maaf Tuan, kami tidak melihatnya sejak pagi," aku para pelayannya.


Gandhi lalu segera beranjak, ia tidak mengganti piyama dan tidak mandi lagi. Pria itu segera mengambil kunci mobil.


"Bi, tolong jaga Rey, aku nitip sebentar ya," tukas Gandhi berlari keluar.


"Astaga, Sayang kamu ke mana!" gerutunya sepanjang jalan.


Gandhi melesat dengan kecepatan tinggi. Tujuan pertamanya adalah kafe. Tak butuh waktu lama, dia telah sampai di pelataran kafe. Tanpa mematikan mesin mobil, Gandhi berlari masuk menuju ke ruangannya.


Ia tidak peduli dengan penampilannya yang compang-camping dan acak-acakan. Bahkan Gandhi mengabaikan sapaan setiap karyawannya. Mereka terkejut denga.n penampakan Gandhi yang terlihat kacau itu.


Gandhi meniti anak tangga dengan berlari, napasnya masih terengah-engah saat sampai di lantai atas. Ia membuka pintu perlahan, kosong tidak menemukan apa pun.


"Chaca, kamu ke mana sayang," gumam Gandhi setelah membuka kamar istirahatnya namun tidak ada apa pun.


Gandhi kembali berlari ke mobil, kali ini tujuannya ke panti. Pria itu mengendarai mobil dengan kencang seperti detak jantungnya yang tak hentinya berdegub tidak karuan sedari tadi.


Panti terlihat sepi, ia berharap istrinya ada di sana. Gandhi turun dari mobil segera berlari menuju rumah. Ia mengetuk pintu perlahan.


Paman Dul membukakan pintu, Gandhi memeluknya sesaat karena sudah lama tidak berjumpa.


"Paman, apa Chaca tadi pagi mampir ke sini?" tanya Gandhi berusaha tenang menyembunyikan kepanikannya.


"Tidak ada, Gan. Paman semalam nginep di sini dan Chaca nggak ada," tutur Paman Dul.


"Oh gitu, baiklah Paman Gandhi masih ada urusan nih. Sehat-sehat terus ya Paman," ucapnya bergetar.


Gandhi kecewa, ia mengusap wajahnya kasar. Lalu segera melangkah pergi. Gandhi mendudukkan diri di balik kemudi dengan perlahan. Ia meneguk air mineral hampir satu botol.


Dia kembali mengendarai mobilnya menuju rumah utama. Ini tujuan terakhirnya. Dia tidak tahu mencari tahu ke mana lagi andai tidak menemukannya di sana.

__ADS_1


Hari ini adalah hari Minggu. Untungnya Reyhan libur sekolah, mama dan papanya juga pasti ada di rumah. Seharusnya mereka menginap di rumah utama. Namun karena pulang kemalaman, dia bermaksud berangkat pagi harinya.


Tapi tidak pernah menyangka akan seperti ini kejadiannya. Gandhi bahkan tidak bisa menahan tangisnya di sepanjang jalan. Ia sangat takut kehilangan Chaca.


20 menit kemudian, Gandhi telah sampai di rumah utama. Tempat terakhir tujuannya. Gandhi mengumpulkan seluruh kekuatannya, jika ternyata Chaca tidak ada di sana.


Setelah merasa siap, Gandhi turun dan masuk ke rumah. Kebetulan pintu terbuka, ia mengangguk berpapasan dengan sopir keluarga yang menyapanya.


"Papa sama Mama di rumah, Mang?" tanya Gandhi.


"Iya Tuan, beliau sedang bersantai di belakang," sahut sang sopir.


Gandhi lalu segera masuk, ia berlari menuju kamarnya juga kamar Chaca. Tidak ada apa pun, kosong dan gelap. Dadanya mulai sesak, air matanya tak tertahankan.


"Jadi ini alasan kamu semalam begitu agresif? Karena kamu ingin meninggalkan aku, Cha!"


"Aaaaarrrggghh!" teriak Gandhi memukul pintu di sampingnya.


Mama Alice terkejut mendengar teriakan dari dalam. Ia bergegas menuju sumber suara mengajak sang suami.


Keduanya buru-buru melangkah, hingga sampailah di lantai atas, melihat sang putra terduduk di lantai bersandar di tembok.


"Astaga! Gandhi! Ada apa, Sayang?" teriak Mama Alice berjongkok, mengusap kepalanya lembut.


"Kenapa Gan?" tanya sang papa.


"Chaca, Ma!"


"Chaca kenapa?" tanya Mama Alice cepat.


"Chaca pergi dari rumah, Ma." Air mata Gandhi semakin mengalir deras.


"Apa! Ya Tuhan ... bagaimana bisa? Apa masalahnya?" pekik Mama Alice terkejut memeluk sang putra.


Gandhi lalu menceritakan kronologi kejadian awal mula pertengkarannya. Yang mana pemicu utamanya adalah keturunan. Mama Alice ikut sedih melihat sang putra begitu rapuh seperti itu. Ia seperti kehilangan cahaya dalam hidupnya.


"Ya Tuhan, apa ini semua gara-gara rekan bisnis Mama? Kemarin waktu belanja sama Chaca nggak sengaja ketemu mereka dan mereka menyinggung soal cucu. Mungkin Chaca jadi kepikiran," jelas Mama Alice turut khawatir.


Papa Xander segera menelepon bawahannya untuk melacak nama Chaca di semua penerbangan, stasiun maupun terminal yang berangkat pagi ini.


"Gandhi harus gimana, Ma? Gandhi nggak bisa hidup tanpa Chaca, Ma. Tolong bantu cari Chaca, Ma." Tangis Gandhi semakin melirih merengek seperti anak kecil.


"Papa sudah minta cek nama Chaca di semua transportasi pagi ini. Tenanglah, semoga Chaca baik-baik saja, dan segera ditemukan," tukas sang papa menyentuh bahu Gandhi.

__ADS_1


Mama Alice tidak tega, ia turut menangis melihat putranya terpuruk seperti itu. Mama Alice menghapus air mata Gandhi, lalu menyuruhnya untuk beristirahat.


Gandhi berdiri perlahan berjalan masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya. Matanya terpejam meski tidak tidur. Kepalanya serasa dihantam beban begitu berat, pusing teramat sangat, rasanya benda-benda di sekelilingnya berputar-putar.


Mama Alice menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, mencium kening Gandhi lalu meninggalkannya.


"Pa, Mama mau jemput Rey. Kasihan dia pasti kebingungan cari Gandhi dan Chaca," pamit Mama Alice pada suaminya.


Papa Xander mengangguk, dia terus mengoperasikan ponsel di tangannya menghubungi bawahannya untuk menanyakan hasilnya.


Hingga sore hari Gandhi tidak mau terbangun. Dia tidak makan sedari pagi. Bahkan untuk membuka mata saja rasanya enggan. Rey sudah dibawa ke rumah utama. Dia diasuh oleh Bi Ratih.


"Sayang, ayo makan dulu," bujuk Mama Alice menggoyangkan tubuh Gandhi.


Gandhi diam saja, ia menutup wajah dengan lengannya. berharap ini semua hanya mimpi buruk. Dan saat terbangun nanti Chaca sudah ada di hadapannya. Kesedihannya mampu menghapus rasa laparnya.


"Gandhi jangan seperti ini, Mama nggak mau kamu sakit. Mama cuma punya kamu, Sayang," ucap Alice dalam isak tangisnya.


Gandhi terperanjat mendengar sang Mama menangis. Ia berusaha bangun meski kepalanya masih berdenyut kencang terasa begitu berat. Pandangannya bahkan remang-remang.


"Ma, Gandhi nggak apa-apa, Mama jangan nangis," ucap Gandhi lemah menghapus air mata mamanya.


"Makanya jangan seperti ini. Kamu harus kuat. Chaca pasti kembali. Berikan dia waktu untuk menenangkan diri. Tolong jangan siksa diri kamu, Sayang. Demi Mama, Papa, Rey dan demi Chaca tentunya," gerutu Mama Alice.


"Iya mamaku sayang. Terima kasih ya, Ma. Nanti Gandhi pasti makan kok, sekarang Gandhi ingin tidur sebentar kepala Gandhi rasanya terus berputar-putar, Ma. Izinkan Gandhi tidur sebentar lagi ya, Ma," pinta Gandhi merengek memeluk mamanya.


Mama Alice membalas pelukan putranya dengan sayang. Ia lalu membantu Gandhi merebahkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama Gandhi sudah terlelap, wajahnya terlihat sangat pucat.


...----------------...


"Cha, kamu nggak telepon Gandhi? Aku yakin dia kalang kabut cari kamu," tukas Andra ketika Chaca sudah terbangun di sore hari.


Mereka sedang bersantai sambil bermain-main dengan Baby Alio. Chaca tidak menjawabnya ia terus mengalihkan perhatian dengan Baby Alio.


"Cha," panggil Amel menyentuh tangannya.


"Tolong Bang, Mbak, aku cuma butuh waktu tenangin hati aku. Tolong jangan paksa aku. Aku akan pulang ketika hatiku sudah siap. Dan tolong jangan kasih tahu Mas Gandhi dulu. Aku ingin sendiri dulu!" seru Chaca sedikit meninggi dengan mata berkaca-kaca.


"Apa aku salah bicara? Kenapa dia malah marah-marah?" bisik Andra di telinga istrinya.


Amel hanya menggeleng menjawab pertanyaan suaminya. Pasalnya sampai sore ini Chaca masih belum menceritakan apapun. Pasutri itu menunggu sampai Chaca siap bercerita.


Bersambung~

__ADS_1


Triple Up... like dan komeng di semua part ya😘


__ADS_2