Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 49


__ADS_3

"Punya apa kamu sampai berani melamar anak saya?!" sentak Alexander membuat Chaca semakin gemetar ketakutan.


Jemarinya semakin erat menggenggam tangan lebar Gandhi. Sebaliknya, justru Gandhi bersikap tenang, mempertahankan senyumnya, juga pancaran cinta dari sorot matanya.


"Saya punya hati yang tulus dan yang pasti saya punya Allah, Om." Singkat, dan tidak muluk-muluk.


Oh jangan tanyakan bagaimana seramnya wajah Alexander. Chaca yang sudah terbiasa melihatnya saja, merasa ketakutan.


Sedangkan Alice lebih memilih diam mengamati wajah tampan calon menantunya itu. Bukan karena tertarik, namun memang ia merasa ada sesuatu sejak bertemu.


"Ck! Hati? Mau kasih makan anak saya hati?" remeh Alexander. "Apa pekerjaanmu?" sambungnya dengan nada ketus.


"Saya manager di salah satu hotel kota ini, Om," jawab Gandhi meremas jemari lentik Chaca yang semakin dingin. Ia menyalurkan ketenangan dan juga kehangatan melalui genggaman itu.


"Saya tidak setuju! Pulanglah! Saya tidak mengizinkan Chaca menikah denganmu!"


Seketika Chaca mendongak, air matanya mulai menyeruak. "Dad," gumamnya pelan karena tenggorokannya tercekat.


"Pulang! Kamu tidak pantas bersanding dengan anak saya!" cetus Alexander dingin dan kejam.

__ADS_1


"No, Daddy! Please, izinin aku bahagia kali ini aja. Selama 18 tahun, aku nggak pernah minta apapun dari Daddy. Tapi please, Dad! Tolong, restui kami," rengek Chaca berderai air mata.


"Tapi kami saling mencintai, Om," ucap Gandhi yang sudah memerah di kedua matanya.


Alexander berdiri dengan gagah. Melipat kedua lengannya di dada. "Cinta nggak bisa bikin orang kenyang! Ini sudah keputusan saya. Cha, kembali kamu ke kamar!"


Gadis itu masih bergeming dalam tangisnya. Tangannya mencengkeram dengan kuat, seperti takut jika terpisah dengan Gandhi.


"Denger nggak kamu, Cha?!" bentak Alexander.


"Dad, maaf tapi tolong hargai juga keputusan Chaca. Lagian selama ini bukankah Chaca sama sekali nggak ada nilainya di mata Mommy dan Daddy. Biarkan Chaca bahagia dengan pilihan Chaca sendiri."


Alice segera menoleh, menyentuh lengan suaminya dan menggiyangkannya. "Dad!" sentaknya agar suaminya sadar.


Seperti disambar petir di siang bolong, Chaca sangat terkejut mendengarnya. Ia berdiri, melepas genggaman tangan Gandhi.


"Jadi, apa aku bukan anak Daddy?" tanya Chaca tanpa basa-basi.


Aldxander tersadar ucapannya mengundang pertanyaan. Ia terdiam, tanpa berniat menjawabnya. Sedangkan Alice tampak menegang.

__ADS_1


"Jawab, Dad! Siapa orang tuaku?" teriak Chaca diiringi air mata yang membanjir.


"Kami orang tuamu, Sayang," jawab Alice menyentuh lengan Chaca.


Gadis itu menepis tangan wanita yang sudah membesarkannya. Ia tertawa sumbang, menatap ke sembarang arah.


"Pantas saja selama ini kalian nggak pernah memberi perhatian padaku, sekeras apa pun usahaku kalian sama sekali tidak peduli!" jeritnya berderai air mata. Tubuhnya melemas, untung saja Gandhi dengan sigap menopangnya, lalu memapahnya duduk kembali di sofa.


"Siapa orang tuaku? Di mana mereka?  Jawab! Kenapa kalian diam aja!!" Chaca menjambak rambut panjangnya.


Gandhi segera melepas cengkeraman erat pada rambut itu. Lalu menariknya ke dalam dekapan hangatnya.


"Orang tuamu, sudah meninggal, Cha. Sewaktu kamu masih dalam kandungan, kami semua terlibat dalam kecelakaan. Mobil yang Daddy kendarai, hilang kendali. Menabrak pengendara motor, yang tak lain adalah ayah dan ibumu. Karena pendarahan, kamu harus segera dilahirkan dalam keadaan prematur. Ayahmu meninggal di tempat, dan ibumu meninggal beberapa saat setelah melahirkanmu," jelas Alexander pelan sembari menunduk.


Bayangan menakutkan kembali terjadi. Sudah lama ia memendam kenangan panit itu. Dan sekarang harus terbuka lagi. Rasa bersalah kembali menyeruak.


Chaca menangis sejadi-jadinya. Ia mengeratkan pelukannya, ingin menjerit namun tertahan.


"Maafin Daddy, Cha. Maaf." Ini adalah pertama kalinya pria arogan yang suka semaunya meminta maaf. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar karena tangisnya.

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2