
Gandhi tertegun beberapa saat, ia lalu merengkuh Chaca ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap lembut punggung Chaca yang terus bergetar.
"Sayang," panggil Gandhi lembut.
"Kamu nggak kasihan sama adik-adik, Mas? Kamu nggak sayang sama mereka? Gimana kalau orang-orang itu nggak bisa jagain adik-adik kita? Gimana kalau mereka malah berbuat buruk pada adik-adik?" jerit Chaca memukul dada Gandhi.
Santi dan yang lainnya meninggalkan Gandhi dan Chaca sendiri. Memberikan ruang dan waktu untuk keduanya.
"Sayang, aku mengerti kekhawatiran kamu. Aku tahu ketakutan kamu. Tapi, aku sudah menelusuri semua orang tua angkat mereka. Keempatnya rekan bisnis papa dan mama. Mereka bisa dipercaya, Sayang," jelas Gandhi melepas pelukan lalu mengusap air mata Chaca lembut.
Chaca masih menangis sesenggukan. Selain ia merindukan adik-adiknya itu, Chaca juga sangat mengkhawatirkan mereka.
"Sayang, ini semua demi kebaikan adik-adik juga. Mereka akan mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari orang tua. Kehidupan mereka akan lebih terjamin ke depannya. Dan ...." Sebenarnya Gandhi takut melanjutkan ucapannya.
"Mereka semua pasangan yang sudah lama belum mendapat momongan. Ada yang udah 7 tahun menikah, ada yang 10 tahun. Selain itu, aku juga sudah membuat perjanjian hitam di atas putih kok. Kalau mereka tidak merawat adik-adik dengan baik, kita bisa menuntut mereka," tukas Gandhi lagi.
Benar saja, setelah mendengar penuturan Gandhi, Chaca terdiam seketika. Ia jadi merasa minder dan takut jika kelak dia juga tidak bisa memberikan momongan.
Chaca semakin memeluk Gandhi dengan erat. Tangisannya semakin deras. Santi yang melihat Chaca sudah semakin tenang, membawakan air minum untuk mereka.
"Cha, tenang aja. Mas Gandhi sudah mengantisipasi semuanya. Ayo minum dulu," ujar Santi meletakkan minumannya lalu duduk di seberang mereka.
"Kalau kamu kangen, kapan-kapan kita bisa mengunjungi mereka kok," tandas Gandhi menyibak anak rambut Chaca dan merapikannya.
Gandhi menghapus air mata Chaca dengan lembut, mengecup keningnya lalu menyodorkan teh yang dibuatkan oleh Santi. Chaca segera menyambut dan meminumnya perlahan.
"Oh iya, San. Aku ke sini mau kasih tahu, kalau aku mau buka resto. Kamu ikut bantu ya. Nanti biar diajari sama Chaca," tukas Gandhi menatap Santi namun memainkan rambut panjang Chaca.
__ADS_1
"Wah iyakah? Di mana, Mas?" tanya Santi antusias.
"Depan Hotel Majesty, belum buka kok. Masih perekrutan karyawan. Jadi mulai besok kamu bisa latihan dulu sepulang Chaca kuliah, aku telepon kalau udah siap," sahut Gandhi santai.
Santi mengangguk bersemangat. Dia jadi punya kesibukan lain selain mengurus rumah. Adik-adik yang masih tinggal di panti semuanya sudah beranjak remaja. Jadi, tidak masalah jika ditinggalkannya.
Sedangkan Chaca masih terlihat sedih. Rasa takut kini merayapi tubuhnya. Ia takut jika tidak bisa memberikan keturunan seperti orang tua angkat adik-adiknya itu.
Gandhi lalu mengajaknya pulang, melihat mood istrinya yang memburuk. Mereka lalu berpamitan setelah berbincang lumayan lama.
Sepanjang perjalanan, Chaca hanya terdiam. Pandangannya terus fokus ke luar jendela. Gandhi menyentuh punggung tangan Chaca dan mengusapnya lembut sembari fokus menyetir dengan tangan satunya.
"Apa di luar lebih menarik dari pada suamimu?" canda Gandhi dengan pandangan lurus ke depan.
Chaca menoleh seketika, ia lalu melepas tangan Gandhi meletakkan jemari lentiknya di pipi kiri Gandhi. "Nggak akan ada yang lebih menarik dari pada suamiku," sahut Chaca tersenyum tipis.
Gandhi menoleh sebentar, masih terlihat gurat kesedihan di wajah Chaca. Pria itu terus mengajaknya berbincang agar mampu mengalihkan kesedihan Chaca.
Meski awalnya menolak, namun Mama Alice terus memaksa karena tidak mau Chaca kelelahan. Dia selalu berharap ingin cepat mendapatkan cucu.
Setelah membersihkan diri masing-masing, mereka lanjut makan malam. Chaca hanya mengaduk-aduk makanannya. Sejak kepulangannya tadi, ia kehilangan selera makan. Padahal biasanya makanan selalu menggoda Chaca.
Gandhi yang geram melihatnya segera menarik piring Chaca, pria itu dengan telaten menyuapi istrinya.
"Bilang dong kalau mau disuapi," gumam Gandhi sambil mengusap sisa makanan di bibir Chaca.
Chaca meringis sambil mengunyah makanannya. Gandhi terus menyuapinya hingga tandas. Sampai saat perutnya sudah merasa kenyang, Chaca menggelengkan kepala dan menahan sendoknya.
__ADS_1
"Udah, Sayang. Kenyang banget," elaknya lalu meneguk air putih.
Gandhi membelai kepala Chaca lembut, lalu meletakkan piringnya. Chaca segera beranjak untuk mencucinya. Meski sudah ada pembantu, tapi dia sudah terbiasa mencuci piring mereka setelah makan. Memang, tinggal berdua saja dengan suami mampu merubah sikap Chaca menjadi sosok yang mandiri.
Keduanya lalu beranjak ke kamar, Gandhi lebih dulu duduk bersandar di kasur sambil membuka email. Mengecek beberapa pelamar yang sudah masuk. Chaca menyusulnya setelah kembali dari kamar mandi.
Ia langsung merebahkan tubuhnya membelakangi suaminya. Chaca menarik selimut hingga menutupi lehernya. Gandhi lalu meletakkan ponselnya di nakas. Ia segera memeluk Chaca dari belakang.
"Sayang, jangan dipikirkan terus dong," ucap Gandhi menyibak rambut panjang Chaca dan mulai mencium ceruk leher istrinya itu.
Memang, pada dasarnya setiap wanita selalu mengedepankan perasaan mengalahkan logika. Setiap wanita pasti ingin secepatnya mempunyai buah hati. Tentu saja ingin menjadi wanita yang sempurna untuk kebahagiaan keluarga kecilnya.
"Tuhan akan memberikannya di waktu yang tepat, Sayang. Tolong, jangan terus bersedih seperti ini. Aku harus gimana?" keluh Gandhi mendekap erat tubuh mungil Chaca.
Chaca menghela napas panjang. Sebenarnya ia juga tidak ingin cengeng seperti ini. Namun setiap menyinggung anak atau kehamilan, pasti serasa tertusuk lagi. Wanita itu tidak mampu menyembunyikan perasaannya sedikitpun.
Gandhi membalikkan tubuh Chaca, keduanya kinu saling bertatapan. Gandhi membelai lembut wajah cantik di depannya.
"Kita harus berusaha lebih keras lagi, Sayang," ujar Gandhi dengan senyum menyeringai.
Chaca lalu melesakkan kepalanya di dada Gandhi, wajahnya sudah merona. Dia tahu maksud ucapan suaminya. Ia lalu memeluk erat tubuh suaminya itu. Gandhi mengendurkan pelukannya. Kemudian menaikkan dagu istrinya, memberikan ciuman pada bibir mungil itu.
Keduanya saling berpagut, lama kelamaan ciuman tersebut semakin panas. Hingga mereka melakukan penyatuan malam itu. Saling melepas hasrat penuh cinta.
Bersambung~
Yang masih nanyain Bryan ada di judul sebelah ya Sayang-sayangkuh...❤❤😘
__ADS_1
Judulnya "Prahara Cinta Dua Saudara"