
Gandhi terkejut dengan penuturan istrinya. Ia mengepalkan kedua tangannya sambil terus membuang napas kasar. Gandhi berbalik, berjalan penuh emosi menuju mobil. Sebisa mungkin ia menjauh dulu dari Chaca. Takut jika emosinya akan menyakiti istrinya itu.
Gandhi membuka pintu mobil dan menutupnya kasar. Ia mencengkeram kuat benda bulat yang ada di hadapannya. Marah dan kecewa menyelimuti dirinya. Napasnya terdengar memburu.
Chaca turut berlari mengejar lelaki itu. Ia ikut masuk lagi ke mobil. Apa yang ditakutkannya kini terjadi. Chaca menundukkan kepalanya, tidak berani menatap suaminya yang sedang tersulut amarah.
"Maaf, Mas," ucap Chaca pelan.
"Kenapa tidak pernah cerita?" geramnya menggema di dalam mobil, namun masih dengan nada yang rendah menahan emosi. Meskipun dalam hati rasanya meletup-letup.
"Kamu suka ya berdekatan dengannya? Sampai-sampai tidak mau memberi tahu suami kamu?" imbuhnya lagi menatap lurus ke depan.
Chaca menggeleng cepat, "Tidak, Sayang. Aku ingin sekali memberi tahumu. Namun waktunya belum tepat. Kemarin setelah kamu tersandung masalah, ada acara farewell terus disambung resepsi 'kan?" tutur Chaca menghadap suaminya.
"Sayang, apa kamu meragukanku? Daddy aja nggak tahu kalau Bryan jadi dosen di sini. Ini semua cuma kebetulan, Sayang," imbuh Chaca menangkup kedua pipi suaminya.
Kedua bola mata cantiknya menatap suaminya penuh cinta. Chaca mendekatkan kepalanya, memberikan sentuhan bibir pada suaminya itu. Pria itu tentu langsung menyambutnya dengan hangat. Hingga beberapa saat, mereka saling melepaskan satu sama lain. Namun masih menyatukan kening.
"Maaf, aku berlebihan, Sayang. Entah kenapa hatiku selalu memanas jika melihat Bryan. Tolong jaga kepercayaanku," tukas Gandhi menyibak lembut rambut Chaca.
Chaca mendesah lega, ia senang karena suaminya cemburu. Ia juga salut dengan pria itu yang bisa menahan emosi.
"Tentu saja, di sini cuma ada kamu, Mas. Seluruh hati dan otak aku sudah terisi penuh olehmu. Aku hanya mencintaimu, suamiku," tutur Chaca meletakkan telapak tangan Gandhi di dadanya.
Gandhi mengangguk, ia mengecup kening Chaca sebelum akhirnya meninggalkan istri cantiknya itu. Sebenarnya ia masih khawatir, memang Chaca tidak punya perasaan apa-apa untuk Bryan. Tapi pria itu masih menyimpan rasa untuk Chaca.
Itulah sebabnya Gandhi tersulut amarah ketika tahu Bryan dan Chaca satu kampus. Namun ia tetap menghargai keputusan papanya. Dan juga, percaya penuh pada istrinya bahwa ia bisa menjaga diri.
Mengingat, laporan Santi yang mengatakan kedatangan orang yang hendak mengangkat adik-adiknya di panti, Gandhi memutuskan untuk ke sana.
Chaca kembali turun dari mobil, melambaikan tangan sampai suaminya tak terlihat. Ia berlari kecil, melihat Andin yang berdiri di depan gerbang. Ternyata ia menunggu Chaca.
"Andin!" seru Chaca menghampiri gadis itu.
"Hai Cha, kok kamu masuk mobil lagi? Padahal sudah turun tadi. Apa itu suami kamu?" tanya Andin mengajaknya masuk.
Chaca mengangguk, "Iya Ndin, dia suami aku. Eee ... tadi ada salah paham sedikit sih. Makanya selesein di mobil dulu," tukasnya menyentuh bibirnya dan tersenyum.
__ADS_1
Andin hanya ber-oh ria mendengarnya. Ia tidak terlalu kepo menanyakan masalah pribadi temannya itu. Chaca tidak mengundangnya pada acara resepsi kemarin. Bukan hanya Andin, namun memang semua teman-temannya tidak ada yang ia undang.
Andin adalah gadis pekerja keras, sepulang kuliah ia bekerja paruh waktu di salah satu minimarket dekat rumahnya. Mungkin karena itu ia sama sekali tidak mendengar kabar pernikahan Chaca dan Gandhi. Waktunya terkuras habis untuk kuliah dan bekerja saja.
Mereka berdua menyusuri koridor kampus sambil bersenda gurau. Hingga sampailah mereka di kelas lalu mendudukkan diri bersebelahan. Keduanya semakin akrab.
Seharian Chaca dan Andin mengikuti kelas dengan serius. Tak terkecuali kelas Bryan. Mereka sudah mulai disibukkan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Tanpa menunda-nunda, mereka pun segera mengerjakannya dengan semangat.
Chaca tidak ingin waktu bersama suaminya tersita oleh tugas, sedangkan Andin ingin segera menyelesaikannya supaya lebih tenang saat bekerja nanti. Keduanya bahkan melupakan makan siang karena saking fokusnya.
Sampai waktu kuliah habis, Bryan menunggunya di luar kelas. Andin dan Chaca bersiap untuk meninggalkan kelas. Langkahnya terhenti ketika lengannya ditarik oleh Bryan di balik pintu.
"Eh eh! Apaan nih? Lepasin!" seru Chaca mengibaskan lengannya.
Bryan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia menjaga kewibawaannya di depan para mahasiswanya.
Andin tidak ingin ikut campur, ia yakin Bryan tidak akan berbuat macam-macam. Sehingga ia memutuskan untuk segera pulang. Karena harus bersiap untuk bekerja.
"Cha, aku duluan ya," lirih Andin melambaikan tangan.
Sesampainya di ruangan, Bryan melepaskan genggaman tangannya. Ia menghela napas panjang.
"Di mana kamu servis mobil orang itu, Cha?" tanya Bryan malas mendudukkan dirinya di sofa.
"Orang itu siapa? Mbak Dewi?" tanya Chaca balik.
"Bodo amat siapa kek namanya. Yang aku tabrak tadi pagi," sahutnya cuek.
"Jangan terlalu dingin gitu, nanti bucin tau rasa kau," seringai Chaca menggoda Bryan mendekatkan tubuhnya.
Seketika mimik muka Bryan berubah, ia menatap dua manik Chaca bergantian. Kedua tangan kekarnya menangkup pipi Chaca.
"Jangan bicara omong kosong. Kamu takkan tergantikan!" tukasnya hendak mencium Chaca.
Wanita itu membulatkan kedua matanya. Ia menampik kasar kedua lengan Bryan, lalu memelintir keduanya. Pria itu berteriak kesakitan.
"Astaga, kamu cewek nggak ada alus-alusnya, Cha," keluh Bryan merasakan nyeri pada kedua lengannya ketika Chaca melepaskannya.
__ADS_1
"Makanya jangan macem-macem! Untung nggak aku patahin," geram Chaca berkacak pinggang.
Tak berselang lama, ponsel Chaca berdering. Ternyata suaminya sudah menunggu di depan. Tadi sebelum keluar kelas ia mengirim pesan pada Gandhi.
Chaca bergegas keluar tidak ingin suaminya menunggu lama, Bryan turut membuntutinya. Wanita itu menghentikan langkahnya ketika merasa ada yang mengikutinya.
"Apaan sih, Kodok! Ngapain lagi? Masih nggak kapok juga," geram Chaca berbalik.
"Aku nggak tahu bengkelnya, Cha. Nanti dituduh nggak tanggung jawab sama gadis cerewet itu. Meskipun nggak sepenuhnya kesalahanku. Lagian tanganku masih nyeri semua. Mana bisa naik motor? Gara-gara kamu juga nih," tukas Bryan.
Chaca menatapnya iba, "Ya abisnya kamu sih, nggak bisa jaga sikap," elaknya tidak mau disalahkan.
Mereka keluar bersama, Gandhi geram melihatnya dari balik kemudi. Namun, ia terus berpikiran positif dan percaya pada istrinya.
"Eh! Ngapain Bry?" seru Chaca menghentikan gerakan Bryan membuka pintu mobil.
"Ikut kalian, lah!" balasnya.
Chaca mendorong tubuh pria itu. "Kamu belakang sana! Aku mau deketan sama suami," serunya lalu menerobos masuk dan duduk di samping suaminya. Gandhi tersenyum lalu mengusap puncak kepala Chaca.
"Astaga, Incess!" serunya jengkel.
"Sayang, anterin Bryan ke bengkel dulu ya," ucap Chaca mengenakan sabuk pengaman. Gandhi mengangguk mengiyakan.
Bryan menggerutu dan duduk di kursi penumpang belakang. Sepanjang perjalanan pasangan pengantin baru itu terus menunjukkan kemesraannya.
Mulai dari hal-hal kecil, Chaca mengusap keringat pada kening suaminya, saling bercanda, sampai wanita itu bergelayut manja di lengan suaminya.
Tentu saja Chaca melakukan itu semua di depan Bryan agar ia membuka mata. Kalau sekarang, Chaca sudah menemukan kebahagiaannya.
Sesampainya di bengkel, Gandhi dan Chaca tidak ikut turun. Mereka langsung berpamitan pulang.
"Bry, kami tinggal nggak apa-apa 'kan? Masih bisa buat nyetir 'kan?" tanya Chaca menoleh ke belakang.
"Hemm," gumam Bryan turun dari mobil.
Bersambung~
__ADS_1