Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Usaha Lebih Keras


__ADS_3

"Papa!" seru anak kecil berlari menubruk perut Gandhi.


Pria itu pun menoleh pada istrinya. Chaca tersenyum menganggukkan kepala sembari mengusap puncak kepala anak gembul itu. Wanita itu merebahkan kepalanya di pundak suaminya. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


Di belakangnya, Friska tergopoh-gopoh mengejar anak semata wayangnya itu. Mereka berdua menghabiskan waktu di taman itu setiap sore sepulang ia bekerja.


"Reyhan, jangan gitu sama Om." Friska mencoba menarik lengan putranya perlahan. Namun Reyhan masih bergeming.


"Nggak apa-apa Mbak, namanya juga anak-anak," tukas Chaca menegakkan duduknya.


Friska mendesah lega. Tadinya ia khawatir Chaca tidak mau menerima alasan apapun. Gandhi mengajaknya bermain-main setelah mendapatkan izin dari sang istri.


Kini tinggallah Friska dengan Chaca berdua. Friska mulai membuka percakapan. Menurut penuturannya, perawakan dan penampilan Gandhi memang mirip dengan mantan suaminya.


Reyhan selalu bertanya tentang keberadaan sang papa. Friska pun hanya mampu memperlihatkan fotonya. Karena pada kenyataannya, papa kandung Reyhan tidak pernah menjenguk darah dagingnya itu.


'Yaampun, kasihan sekali Reyhan. Dia pasti sangat merindukan ayahnya,' batin Chaca melihat suaminya sedang berkejar-kejaran dengan anak itu.


Ia jadi membayangkan jika anak itu adalah anak kandungnya. Pasti akan sangat membahagiakan. Gandhi sangat menyayangi anak kecil, siapapun itu.


"Mbak, sabar ya. Semoga kelak Mbak mendapatkan kebahagiaan," tutur Chaca tulus menangkup tangan Friska.


Friska menganggukkan kepalanya. Ia melihat pergelangan tangannya. Sudah cukup lama dia dan anaknya bermain-main di taman ini. Jadi, Friska memutuskan untuk segera pulang.


"Sayang, ayo pulang. Om Gandhi juga mau pulang," teriak Friska pada putranya.


Reyhan awalnya menolak, namun dibujuk dengan lembut oleh Gandhi akhirnya mau menurut. Friska segera meraup tubuh gembul putranya lalu berpamitan pulang.


"Gan, maaf ya ngrepotin kamu terus," sesal Friska merasa sungkan.


"Nggak apa-apa, Mbak. Itung-itung latihan," sahut Gandhi menyengir.


Reyhan yang sudah mengantuk itu tertidur di pundak sang mama. Ia merasa lelah bermain seharian. Gandhi mendudukkan kembali tubuhnya di samping Chaca.


"Mau pulang? Atau mau ke mana lagi?" tanya Gandhi merangkul bahu Chaca mencium sebelah pipinya.


"Pulang yuk, udah sore," ajak Chaca segera diiyakan oleh Gandhi.


Mereka beranjak dari kursi taman itu. Chaca bergelayut manja di lengan suaminya. Gandhi sesekali menggodanya sambil mencubit hidungnya gemas. Mereka berjalan dengan penuh canda tawa.


Gandhi mengendarai mobilnya dengan santai. Meskipun keadaan jalan menuju rumahnya begitu lengang. Kompleks perumahannya termasuk baru, belum terlalu ramai.


Sesampainya di rumah, keduanya bergegas membersihkan diri. Lalu memilih bersantai di taman depan rumahnya. Gandhi menyulap sebagian halamannya menjadi kolam ikan, membuatkan air mancur dan dipenuhi bunga di sekelilingnya. Ia ingin membuat istrinya selalu nyaman.


Chaca duduk di pinggiran kolam, memainkan tangannya dalam perairan tersebut. Banyak ikan hias yang memenuhi kolamnya.


"Sayang, jangan kelamaan duduk di situ," seru Gandhi bersandar pada ayunan.

__ADS_1


"Kenapa?" sahut Chaca menatap suaminya.


"Nanti ikannya pusing," celetuk Gandhi menopangkan dagu dengan kedua tangannya.


Chaca mengerutkan kening, kebingungan melandanya. Kemudian Chaca beranjak dan menghampiri Gandhi lalu duduk di hadapannya.


"Kok bisa?" tanyanya bingung.


"Iya, karena kamu terlalu cantik. Apalagi kalau ikan-ikan itu melihat senyuman kamu, mereka pasti pada mabuk," seloroh Gandhi membuatnya tersipu.


"Ih, apasih mana bisa seperti itu?" elak Chaca mencubit hidung suaminya gemas.


Chaca berpindah duduk di samping suaminya. Ia bersandar pada dekapan hangat pria itu. Menikmati senja dengan kesejukan angin yang kian menerpa. Tubuh keduanya terayun perlahan.


Chaca membuka suara, ia mengatakan semua yang diutarakan oleh Friska sewaktu di taman tadi. Gandhi tidak terlalu antusias mendengarnya. Ia hanya terus mendekap tubuh istrinya sambil menciumi puncak kepala istrinya.


Aroma shampo yang menguar pada hidung Gandhi membuatnya semakin betah berlama-lama dengan posisi itu.


"Sayang, kasihan Reyhan ya?" ucap Chaca kemudian setelah ia selesai bercerita.


"Tidak usah terlalu dipikirkan, kita doain aja yang terbaik, Sayang," desah Gandhi yang tidak suka Chaca terlalu perhatian dengan orang lain.


Entah kenapa Gandhi merasa takut, kebaikan Chaca akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Gandhi selalu berpikiran kedepannya. Bukan bermaksud negativ thinking terhadap orang. Namun, mengingat Chaca yang polos ia semakin khawatir saja.


"Mas, tadi sewaktu aku perhatiin, kamu udah cocok menjadi seorang ayah," gumam Chaca mendongakkan kepalanya.


"Iih udah mau azan magrib. Nanti malem aja," sahut Chaca mengeratkan pelukannya, melesakkan kepala pada dada suaminya. Menghirup aroma segar dan maskulin yang menguar.


Gandhi semakin gemas dibuatnya. Hari yang semakin gelap, membuat mereka bergegas masuk ke rumah. Sampai waktu yang ditunggu-tunggu Gandhi sedari tadi telah tiba. Ia tidak sabar ingin segera menyatukan cinta keduanya.


Cinta itu tumbuh dan bersemi, bahkan semakin bermekaran dari hari ke hari. Keduanya saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Malam itu pun menjadi malam yang panjang untuk keduanya. Desahan, erangan dan lenguhan memenuhi seisi kamar itu.


...----------------...


Di sebuah apartemen yang tidak terlalu mewah namun cukup besar untuk ditinggali oleh seseorang, nampak pria yang tidak tenang dalam tidurnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ia masih berusaha keras memejamkan mata. Namun sulit ia lakukan.


Bryan mendesah, lalu beranjak bangun dari kamarnya. Ia berjalan pelan ke dapur, bermaksid mengambil minuman kaleng favoritnya.


"Sial, habis pula," keluhnya saat melihat kulkas tersebut kosong. Tidak ada makanan ataupun minuman.


Bryan memutuskan keluar. Ia menemukan minimarket tak jauh dari apartemennya. Bryan berjalan kaki karena motornya masih di parkiran kampus. Dan lagi sepertinya masih belum mampu mengendarai sepeda motor.


Bryan mengambil keranjang belanja. Ia berjalan menyusuri setiap lorong makanan kaleng, makanan ringan, mie instan, telur dan juga beberapa minuman. Tak lupa ia juga mengambil minyak urut. Bryan tidak membawa keranjang tersebut, melainkan terus menendangnya sedari tadi.


Sesampainya di kasir, dia meminta bantuan petugas minimarket mengangkatnya ke meja. Mereka pikir Bryan orang yang songong, meletakkan keranjang belanja saja tidak mau. Tidak tahunya tangannya sakit.

__ADS_1


Tanpa ia sadari ternyata belanjaannya begitu banyak. Sampai dia bingung gimana membawanya setelah selesai melakukan pembayaran.


"Bisa minta tolong antarkan belanjaan ke apartemen saya? Tangan saya sakit, nyeri kalau mengangkat seberat ini," tukas Bryan pada petugas kasir di sana.


'Ternyata tangannya sakit. Kirain dia orang sombong,' batin petugas itu.


"Oh, baik Pak. Sebentar ya, saya panggilkan teman saya yang sudah mau pulang," ujar kasir laki-laki itu.


Mereka sudah berganti sift, minimarket itu buka 24jam. Tak berapa lama, laki-laki berseragam itu keluar dengan seorang gadis dengan seragam yang sama. Namun tertutup jaket, rupanya ia sudah bersiap untuk pulang.


"Mana yang mau diantar?" tanya gadis itu pada temannya.


Bryan membalikkan tubuh, kini ia berhadapan dengan gadis berkuncir kuda itu.


"Sepertinya kenal," ujar Bryan sembari mengingat-ingat.


"Pak Bryan? Andin ini, Pak," serunya bersemangat.


"Ah iya, kamu yang sering sama Chaca itu ya?" ucapnya segera diangguki oleh Andin.


Gadis itu berbinar, ternyata orang yang akan diantarnya adalah dosen dia sendiri. Andin kemudian mengambil belanjaan Bryan. Kedua tangannya penuh dengan belanjaan pria tersebut.


Tidak ada perbincangan apapun selama di jalan. Andin mengikuti setiap langkah Bryan hingga ke apartemennya. Andin berdiri di depan pintu.


"Tolong letakkan di kulkas sekalian ya," ucap Bryan saat sampai di dapur.


Tidak ada sahutan membuat Bryan berbalik, ia terkejut ketika Andin tidak ada di belakangnya. Bryan kembali ke depan menemukan gadis itu yang menyengir kuda.


"Kenapa diam aja di sana?" tanya Bryan.


"Abisnya Bapak belum mempersilahkan. Kan nggak sopan, Pak," sahut Andin.


Bryan menepuk jidatnya, 'betapa polos dan sopannya gadis ini,' pikirnya.


Pria itu kemudian mempersilahkan masuk dan mengajaknya ke dapur. Dia juga diminta menyusun belanjaan di lemari pendingin. Andin melakukannya dengan cekatan.


"Pak, minyak urut diletakkan di mana?" teriak Andin dari dapur. Bryan sedang menonton televisi.


"Bawa sini aja," sahutnya sedikit berteriak.


Andin menghampirinya, ia terkejut ketika memperhatikan lengan kanan Bryan yang tampak bengkak.


"Kenapa ini, Pak? Minyak buat urut ini?" tanya Andin refleks mendudukkan diri di samping Bryan.


Sejurus kemudian, ia berdiri dengan cepat. "Ma-maaf, Pak," ucapnya gugup merasa tidak sopan.


Bersambung~

__ADS_1


Eaaaakk hayoh Bryan pilih siapa....wkwkwk


__ADS_2