Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
[Season 2] Kembalikan Chaca


__ADS_3

Semburat jingga telah membias di langit, burung-burung mulai beterbangan menuju alamnya. Hingar bingar kendaraan menggema di jalan raya.


Begitupun aku, yang selalu bersemangat ketika waktu bekerja telah habis. Aku ingin segera pulang menemui gadisku. Sekarang Mama Alice lebih banyak menyisihkan waktunya untuk Chaca. Sedangkan Papa Xander sudah mulai menyibukkan diri di perusahaan-perusahaannya.


Setelah bergelut dengan kemacetan sepanjang jalan, aku telah sampai di rumah pukul 7 malam. Di mana semua keluarga telah berkumpul di meja makan.


"Malam Ma, Pa, Sayang," ucapku melewati mereka.


"Malam Sayang, buruan mandi ya. Terus gabung di sini," sahut Mama menyiapkan makanan.


"Malam Gan," ucap Papa singkat.


Aku menghampiri beliau, mencium punggung tangan mereka. Jujur, aku masih belum terbiasa dengan kehadiran mereka. Tapi tetap saja aku berusaha menghormati Papa dan Mama. Seperti yang selalu Bunda ajarkan padaku sejak kecil.


Ah ... Bunda, Gandhi kangen banget.


Chaca hanya tersenyum melihatku. Senyumannya seolah menarikku untuk mendekat. Dengan langkah cepat, aku mencuri kecupan pada keningnya.


"Om, ih mandi dulu sana. Main kecap kecup aja," protes Chaca mendorong tubuhku. Mama dan Papa tersenyum dan menggelengkan kepala.


Aku hanya tercengir lalu segera naik ke atas untuk membersihkan tubuhku. Tak butuh waktu lama, aku telah turun dengan pakaian santai. Lalu bergabung dengan mereka.


Mama telah menyiapkan makanan untukku. Kami menikmati kebersamaan ini selama 2 bulan. Tidak pernah ada emosi atau kemarahan dari Papa maupun Chaca seperti sebelumnya. Keadaan sudah begitu damai.


Seusai menikmati hidangan makan malam, aku mencoba membuka percakapan. Kuraih minuman di depanku hingga tandas, lalu kuletakkan kembali gelas kosong tersebut.


"Ehm!" Aku berdehem.


Semua mata tertuju padaku. Aku tersenyum kaku, memandangi mereka satu per satu.


"Kenapa Sayang?" tanya Mama menyentuh tanganku di meja.


"Eum ... Ma, Pa, boleh nggak besok Gandhi dan Chaca nginep di tempat Bunda? Gandhi kangen sama Bunda Ma, Pa. Sudah lama tidak mengunjungi beliau," ucapku pelan menatap keduanya.


Mama dan Papa saling pandang, sampai akhirnya melengkungkan bibirnya. "Tentu saja boleh Sayang, kapanpun kamu mau ke rumah Bunda. Beliau juga ibu kalian," tutur Mama membuatku mendesah lega.


"Chaca juga kangen banget sama Bunda, Om," ucap Chaca dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Aku bangkit meraih pundaknya, mengusapnya lembut. Ia menatapku, kristal bening mulai terjatuh dari sudut matanya. Aku berjongkok di depan kursi rodanya.


"Besok kita ke sana Sayang," ujarku mengusap air matanya lalu mengecup kedua punggung tangannya.


Aku tahu Chaca pasti sangat merindukan Bunda. Sejak tahu dia bukan anak kandung Mama dan Papa, Chaca berubah menjadi sosok pendiam dan lebih sensitif. Ia lebih sering menangis. Padahal, Mama dan Papa semakin lembut dan menyayanginya.


"Ya sudah, sekarang istirahat gih. Apa mau Mama bantuin bersiap?" tawar Mama menyeka mulutnya sehabis makan.


"Tidak usah Ma," ucapku dan Chaca bersamaan.


"Kompak sekali kalian," celetuk Papa sambil tertawa.


"Hehe, kami masih ada pakaian di sana kok Ma," ucapku membuat Mama mengangguk pelan.


Aku mendorong Chaca kembali ke kamar. Sejak ia duduk di kursi roda, Papa membangun jalan khusus di samping tangga memudahkan kami mendorongnya ke lantai atas.


Setelah kurebahkan tubuh kecilnya di kasur, aku membelai rambutnya, mengecup keningnya sangat lama. Sebenarnya aku tersiksa ketika terus dekat dengannya tanpa melakukan apapun.


Tetapi, aku sangat mencintainya. Aku tidak akan merusaknya sebelum ia benar-benar menjadi milikku seutuhnya.


"Selamat istirahat, Sayang," kataku setelah menjauhkan wajah kami.


"Maaf, aku selalu merepotkanmu juga Mama Papamu," ucapnya sendu.


Astaga, kenapa Chaca berpikiran seperti itu! Aku segera berbalik dan duduk kembali di tepi ranjang. Kuraih jemarinya, kuletakkan di dadaku yang selalu bergemuruh saat di dekatnya.


"Sayang, aku tidak pernah merasa repot. Ini adalah bentuk tanggung jawabku sebagai calon suami kamu. Dan ingat, Mama dan Papa juga orang tua kamu Sayang. Kenapa kamu berkata seperti itu?" ucapku mencium kedua tangan mungilnya.


"Aku ...."


"Ssssttt ... sudah, jangan berpikiran macam-macam. Sekarang tidur besok kita pulang ke rumah Bunda," seruku menyelimutinya dan beranjak mematikan lampu utama.


***


Keesokan harinya, aku dan Chaca sudah dalam perjalanan menuju rumah Bunda. Kami mampir dulu ke swalayan. Berbelanja dan membelikan mainan serta alat tulis untuk adik-adik panti.


Aku tidak nyaman dengan sikap Chaca yang seperti ini. Aku rindu dengan Chaca yang bawel, cerewet dan ceria. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengembalikan senyum itu lagi.

__ADS_1


Hanya deru suara mesin mobil memenuhi suasana pagi ini. Sampai pada akhirnya mobil terparkir di halaman rumah Bunda.


"Sayang," ku raih jemarinya. Ia menoleh dan tersenyum. Aku tahu itu senyuman palsu.


"Ayo Om, kita kasih kejutan Bunda," ujarnya menangkup kedua pipiku.


Aku mengangguk, membuka pintu dan menyiapkan kursi rodanya. Aku mengangkat dan mendudukkannya di sana. Kemudian kuambil semua belanjaan dari bagasi.


Adik-adik yang tahu kehadiran kami berlari dan berteriak. Berhambur ke pangkuan Chaca, melepas kerinduan. Aku terharu dengan kedekatan mereka.


Aku masuk ke dalam terlebih dahulu, meletakkan belanjaan di dapur. Lalu mencari keberadaan Bunda.


"Bunda! Bun!" teriakku bersemangat.


"Gandhi," seru Bunda dari lorong kamarnya.


Aku segera menghambur ke pelukan Bunda. Lama kami saling melepas rindu. Hingga Santi datang membuyarkannya.


"Mas Gandhi datang sendiri?" pekiknya dengan senyuman tak luput dari wajahnya.


Aku melepas pelukan Bunda. "Eh Santi, enggak. Aku sama Chaca, masih sama adik-adik di luar," tukasku membuat raut wajahnya berubah.


Santi hanya melingkarkan bibirnya dan bersikap tak acuh. Bunda segera berlari menghampiri Chaca. Aku mengikutinya dari belakang.


Kulihat, Chaca membagi-bagikan mainan dan alat tulis untuk adik-adik. Mereka sangat kegirangan.


Langkah Bunda yang semakin dekat, membuat Chaca kembali berkaca-kaca. Seolah ada banyak hal yang ingin ia sampaikan. Aku hanya berdiri memperhatikannya.


"Bunda, ajak Chaca bicara berdua. Sepertinya banyak hal yang dipendamnya. Dia berubah Bun, aku merindukan Chaca yang dulu. Tolong kembalikan Chaca yang ceria Bun," bisikku di belakang Bunda tanpa bisa didengar orang lain.


Bunda mengangguk paham. Lalu ia mendorong Chaca ke kamarnya. Aku beranjak menuju kamar. Lama sekali rasanya aku meninggalkan tempat ini.


Aku berjalan perlahan, meraba setiap jengkal meja dan ranjang di kamar itu. Mengingat kebersamaanku dengan Chaca beberapa waktu silam. Membuatku senyum-senyum sendiri.


Aku penasaran dengan Chaca, bermaksud mengintip dari balik pintu. Ingin mendengarkan keluhan Chaca. Dengan mengendap-endap, aku berdiri di ambang pintu kamar Bunda yang sedikit terbuka.


"Maafin Gandhi Bun, Cha bukan maksudku menguping. Tapi hanya sekedar ingin tahu apa yang membuat Chaca seperti itu," gumamku dalam hati.

__ADS_1


Bersambung~


Like Comennya jangan purapura lupa ya 🤭


__ADS_2