
Sepanjang perjalanan Gandhi terus menggenggam jemari Chaca, sesekali menciumnya. Mereka berdua setiap hari selalu dimabuk asmara. Tidak pernah ada kata bosan terselip di dalamnya.
Tak lama, mereka telah sampai di kediaman lama Gandhi. Ternyata sudah ada dua orang pria paruh baya yang menunggu di teras. Keduanya lalu turun dan segera menghampiri mereka.
"Halo Tuan Burhan, senang bertemu Anda. Mohon maaf menunggu lama," sapa Gandhi menjabat tangan keduanya. Chaca hanya mengangguk dengan senyuman melihat mereka. Dibalas dengan hal serupa.
"Tidak apa-apa, Mas. Kami baru sampai beberapa menit yang lalu. Langsung saja ya, kita cek dulu. Saya masih ada urusan setelah ini," tandas Burhan calon pembeli rumah itu.
Dengan ramah, Gandhi menggiring mereka masuk ke rumah tersebut. Mereka berkeliling selama kurang lebih tiga puluh menit. Lalu mereka berunding soal harga.
Sampai akhirnya, pada putusan final. Mereka menandatangani surat jual beli tanah dan bangunan yang dibuat oleh asisten Burhan, penyerahan dokumen-dokumen, juga tak lupa surat tanah dan bangunan untuk balik nama.
Genap satu jam mereka berbincang. Setelah membaca detail isi surat satu per satu, keduanya membubuhkan tanda tangan beserta para saksi.
Burhan pun segera mengeluarkan selembar cek senilai nominal yang tertera pada surat jual beli tersebut.
"Terima kasih banyak, Pak. Semoga betah tinggal di sini," ucap Gandhi menjabat tangan mereka.
"Sama-sama, Mas. Sebenarnya rumah ini untuk anak saya kok. Dia ingin mandiri katanya," sahutnya.
Gandhi memanggutkan kepalanya. Mereka pun lalu berpamitan setelah Gandhi menyerahkan seluruh kunci rumah. Gandhi dan Chaca pun segera bergegas dari rumah tersebut.
"Sayang, tadi aku udah nemu tempat sewa buat buka resto. Tempatnya strategis dan murah banget biaya sewanya," ucap Gandhi saat mereka sudah kembali masuk ke mobil.
"Oh iya? Di mana?" tanya Chaca memalingkan muka padanya.
"Kita ke sana dulu ya. Nanti kalau cocok, kita langsung bayar saja," sahut Gandhi mulai membelai lembut kepala sang istri.
"Oke, Sayang," sahut Chaca membulatkan jari telunjuk dan ibu jarinya dengan senyuman yang selalu memabukkan laki-laki di sampingnya.
Gandhi mulai melajukan mobilnya setelah meraih kepala Chaca memberikan kecupan di keningnya.
Setelah sampai, keduanya turun dari mobil. Chaca terkejut, ternyata lokasinya bersebrangan dengan hotel Majesty tempat mereka bekerja dulu.
Gandhi merengkuh pinggang Chaca yang masih terbengong di samping mobil. Ia lalu mengajak istrinya masuk ke sebuah bangunan yang hendak disulap menjadi restoran seperti keinginan mereka.
"Sayang! Ternyata dekat hotel ya. Wah kita bisa ketemu terus dong sama temen-temen," seru Chaca mengeratkan pelukannya.
Gandhi mengulas senyum, ia menganggukkan kepala. Mereka mulai menyusuri tempat yang lumayan luas itu. Chaca langsung suka dengan pemilihan tempat tersebut. Karena letaknya strategis, dekat dengan hotel, tempatnya dekat dengan sebuah taman juga kampus swasta di kota ini.
Keduanya berunding mendesain lokasi agar nyaman dalam beraktivitas, terutama kenyamanan pelanggan nantinya. Sesekali mereka berdebat jika tidak sependapat.
Chaca suka yang serba kekinian, sebaliknya Gandhi yang memang pada dasarnya kaku dan kurang gaul, seringkali tidak sepemikiran. Ia lebih menyukai sesuatu yang berbau klasik.
Tiba-tiba Chaca berlari keluar. Gandhi merasa bersalah, takut ada perkataan yang tidak sengaja menyakiti hati Chaca. Ia pun segera menyusul istrinya itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu marah? Maaf," ujar Gandhi meraih lengan Chaca.
"Siapa yang marah, Sayang? Aku mau ambil minum. Berdebat denganmu membuatku haus dan lapar," celetuk Chaca mencebikkan bibirnya.
"Astaga, aku takut sekali kamu marah. Aku takut tanpa sengaja menyakiti kamu. Maafin aku ya, Sayang," aku Gandhi memeluk istrinya.
Chaca terharu dengan perlakuan suaminya. Padahal sedari tadi ia yang keras kepala. Ia yang selalu marah-marah. Tapi, suaminya yang meminta maaf.
"Iya Sayang, aku mau minum ini," ucap Chaca menepuk punggung suaminya pelan.
Gandhi melepaskan pelukannya, ia kembali menutup dan mengunci pintu tempat itu. Lalu menghampiri Chaca yang sedang minum di mobil.
"Kok ditutup, Mas?" tanya Chaca menyerahkan botol yang masih tersisa setengah.
Gandhi duduk dengan nyaman lalu menerimanya, kemudian meneguk minuman itu hingga tandas. Ia juga merasa kehausan.
"Udah sore, Sayang. Kita mandi, makan malam dulu nanti lanjut lagi," ucap Gandhi menyeka keringat istrinya.
Chaca hanya ber-oh ria. Gandhi lalu melajukan mobil menuju rumahnya. Tak berapa lama mereka telah sampai, karena jarak dengan rumahnya tidak terlalu jauh.
Sesampainya di rumah, ia buru-buru masuk rumah. Karena ingin segera membersihkan diri. Gandhi menyusulnya perlahan, meniti tangga satu per satu hingga ke kamar.
"Sayang, mandi bareng ya," goda Gandhi berbisik di telinga Chaca yang sedang menyiapkan baju ganti dari lemari.
Gandhi mundur beberapa langkah. Ia bersandar di pintu lemari memperhatikan Chaca yang cekatan menyiapkan baju ganti untuknya pula. Sejurus kemudian, pria itu tertawa menyeringai.
Chaca sudah membawa handuk ke kamar mandi. Terdengar suara pintu kamar mandi terkunci. Gandhi membuka seluruh pakaiannya mengganti dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Ia berjalan menuju kamar mandi, jemarinya mematikan saklar lampu kamar mandi yang kebetulan terletak di luar.
"Aaaaaaaaa!" Chaca menjerit sangat keras.
"Mas Gandhi! Sayang! Suamiku, tolong!" pekiknya di dalam sana.
"Ya, Sayang. Buka pintunya," sahut Gandhi menahan tawa.
Dia sudah bersiap di depan pintu. Lengannya masih tertahan di tembok tepat pada saklar lampu. Pintu terbuka, Gandhi menyalakannya namun kaki kirinya menahan pintu berjaga saja kalau pintu ditutup lagi oleh Chaca.
"Mas, aku takut," ucap Chaca memeluk suaminya.
Gandhi membalas pelukan itu, ia lalu mulai memasuki kamar mandi masih berpelukan. Chaca yang sudah polos tanpa sehelai benang pun itu, seketika membangkitkan gairah Gandhi.
"Aku di sini, Sayang," sahut Gandhi.
Chaca tersadar, ia membelalakkan mata mendorong suaminya. "Mas! Kamu sengaja?" geram Chaca.
__ADS_1
"Kamu yang menggodaku," ucap Gandhi mulai menahan tubuh Chaca pada dinding.
Ia mulai meraup bibir ranum istrinya, ciuman yang semakin lama semakin liar dan menuntut lebih. Chaca mengalungkan lengannya pada suaminya. Menikmati setiap sentuhan pria itu.
"Jangan buat aku kedinginan, Sayang," desah Chaca dengan napas memburu saat melepas ciumannya.
Keduanya terbuai, Gandhi mulai menyusuri setiap lekuk tubuh Chaca hingga penyatuan terjadi. Pancaran shower mampu meredam setiap lenguhan dan desahan keduanya.
Satu jam lamanya, mereka melakukannya. Diakhiri dengan mandi bersama. Gandhi dengan lembut membantu menggosok punggung istrinya, yang sudah terkulai lemas itu karena telah klimaks beberapa kali.
Setelahnya terbilas bersih, ia membelitkan handuk pada istri kesayangannya juga handuknya sendiri.
"Makasih, Sayang," tukas Gandhi mencium kening istrinya.
"Gendong," ucap Chaca manja.
"Dengan senang hati ratuku," ucapnya lalu meraup tubuh mungil istrinya keluar kamar mandi.
Mereka lalu berganti pakaian. Seperti biasa, Gandhi akan membantu Chaca mengeringkan rambut dan menyisir rambut panjangnya.
"Sayang, mau makan di rumah? Apa di luar aja?" tawar Gandhi yang sudah selesai dengan menyisirnya.
"Di rumah aja sih, Mas. Bikin nasi goreng yang cepet. Nanti keburu tutup toko perabotannya," sahut Chaca.
Gandhi dengan senang hati menuruti istrinya. Keduanya segera turun ke dapur. Chaca meminta diajari cara membuat nasi goreng. Gandhi mulai menyiapkan bumbu-bumbunya. Chaca mengambil nasi dari rice cooker, tak lupa ia menyiapkan juga sosis, telur, kol dan timun dari kulkas.
"Sayang, kenapa nggak di blender aja sih bumbunya biar cepet," ucap Chaca merajang bahan pelengkapnya.
"Nggak enak, Sayang. Lebih sedep diuleg seperti ini," sahut Gandhi menghaluskan bumbu-bumbu dengan tangannya.
Setelah semua bahan siap, Chaca yang bertugas mengeksekusinya. Yah, meskipun semuanya berantakan. Dia begitu bersemangat mengorek dengan spatula, hingga banyak yang bercecer.
"Pelan-pelan aja, Sayang," Gandhi yang tidak tahan melihatnya, meraih tangan Chaca lalu mengerakkannya perlahan. Satu tangannya melingkar di perut Chaca.
Mereka terus memasaknya berdua, setelah dirasa cukup Gandhi baru melepas kedua lengannya. Mematikan kompor dan mengambil piring.
Kemudian Gandhi melangkah di meja makan dan mendudukkan diri di kursi. Chaca menyajikan hasil karyanya pada piring yang disediakan oleh Gandhi. Lalu membawanya ke meja makan.
Sebelum duduk, Chaca memeluk suaminya. "Sayang, terima kasih banyak," ucapnya sambil mencium kedua pipi dan bibir Gandhi.
Bersambung~
Nggak gantung yah tumben... wkwkwk
Ini hampir 1500 ya gengs... jangan bilang kurang banyak lagi isinya...wkwkwk... semoga ga bosen 😘
__ADS_1