Duda Tapi Perjaka

Duda Tapi Perjaka
Bab 48


__ADS_3

"Iya, kita mulai lembaran baru. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Oh iya, tinggallah di rumah itu dulu. Aku bakal balik ke rumah Bunda," ucap Gandhi pelan segera melepaskan pelukannya karena ia melihat sekelebat bayangan Chaca.


"Tapi, Mas...."


"Udah, nggak apa-apa. Bapakmu masih marah 'kan?" tanyanya mulai melangkah keluar. "Aku duluan," pamitnya.


Gandhi segera berlari keluar ruang pengadilan. Pandangannya mengedar mencari keberadaan gadis yang mengenakan pakaian kebaya itu. Ia yakin Chaca belum jauh, karena tak mungkin bisa berlari dengan pakaian adat itu.


Ia hampir menyerah, namun dari tempatnya berpijak, sayup-sayup terdengar isak tangis seorang perempuan. Langkahnya memelan, sampai ekor matanya menemukan high heels yang tergeletak di lantai.


Sebuah senyuman terbit di bibir tipis Gandhi. Ia merogoh saku dan mengulurkan sebuah sapu tangan tepat di hadapan Chaca. Tanpa melihat sang pemilik, Chaca menerimanya. Ia gunakan untuk mengusap air matanya.


"Sendirian aja, nggak takut diculik, Neng?" sindir Gandhi menundukkan tubuhnya.


DEG!


Sebuah suara yang sangat familiar di telinga Chaca, membuat gadis itu buru-buru mendongak. Matanya membelalak diikuti mulut yang terbuka.


Gandhi terkekeh, ia ikut duduk di lantai dekat dengan Chaca, menumpukan kedua lengannya di atas lutut yang ditekuk.


"Kenapa enggak masuk?" tanya Gandhi menatap lurus ke depan. Sedikit melirik dengan ekor matanya.

__ADS_1


"Nggak mau ganggu pasutri yang lagi balikan," cebik Chaca mengerucutkan bibirnya.


"Ciyee cemburu," sindir Gandhi menggodanya.


"Iiihh pergi sana!" Chaca mendorong Gandhi dengan kedua tangan kecilnya. Ia semakin sesenggukan, takut yang apa yang dipikirkannya bensr, bahwa Gandhi justru balikan sama mantan istrinya.


Dua tangan kecil itu segera ditangkap Gandhi, mereka saling menatap, memancarkan kerinduan setelah satu bulan tidak bertemu.


"Siapa bilang aku balikan? Aku udah duda sekarang. Tinggal nunggu akta cerai. Duda, tapi perjaka lho!" ucap Gandhi mendekatkan bibirnya di telinga Chaca. Membuat gadis itu menahan napasnya sesaat.


Berada di dekat Gandhi, selalu membuat jantungnya berdegub tidak karuan. Manik mata hitamnya menatap milik Gandhi bergantian.


"Mau coba nggak?" goda Gandhi menaik turunkan alisnya.


"Ahahaha!" Gandhi berdiri memberihkan celananya. "Bercanda, Sayang. Yuk ah." Mengulurkan tangannya.


"Kemana?" tanya Chaca mendongak, menatap pria yang menjulang di depannya.


"KUA!" cetus Gandhi asal.


Gadis itu menyebikkan bibirnya. Sedari tadi ucapan pria itu membuatnya kesal. Ia bangun tanpa meraih tangan lebar Gandhi. "Bodo amat ah. Canda mulu!"

__ADS_1


"Jangan marah-marah terus dong, nanti cepet tua," bisiknya merengkuh bahu Chaca. "Ayo pulang, aku mau memintamu dari orang tuamu," ucap Gandhi berjalan santai.


"Serius?" tanya Chaca tak percaya. Gandhi mengangguk menatapnya dengan senyuman yang indah. "Om! Sepatu aku ketinggalan!" pekik Chaca setelah berjalan beberapa langkah.


"Tunggu di sini!" ujar Gandhi berbalik mengambilkannya.


Kemudian pria itu berjongkok dan memakaikan heels itu di kaki mulus Chaca. Membuat gadis itu merasa tak enak.


"Jangan gini dong, kan malu, Om," bisik Chaca pelan.


Usai dengan heels, Gandhi kembali berdiri dan mengacak rambut Chaca yang masih rapi itu. "Dibiasain ya, mulai sekarang," balas Gandhi menangkup kedua pipinya.


Kebahagiaan tengah mendera gadis yang beranjak remaja itu. Ia tidak pernah memikirkan, bagaimana reaksi orang tuanya nanti ketika Gandhi melamarnya. Ia menepis dua tangan Gandhi, lalu merangkul lengan pria itu menyandarkan kepalanya. "Sweet banget sih, calon suami aku," ucap Chaca malu-malu.


Dan disinilah mereka berada. Di sebuah sofa mewah yang mungkin seharga rumah Gandhi. Ia duduk dengan tenang, meski sebenarnya hatinya berdentum tak karuan.


Chaca sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya yang lebih santai. Mereka sedang menunggu Alexander beserta sang istri yang kebetulan pulang kantor lebih cepat.


Tak butuh waktu lama, orang tua Chaca sudah duduk di hadapan mereka. Chaca meremas ujung bajunya, ia tak berani sekedar menatap sang ayah. Kedua kakinya terus bergerak karena gugup. Jantungnya seperti sedang lari marathon.


"Kata Chaca, ada yang mau kamu bicarakan?" Suara barinton milik Alexander memecah keheningan di ruang tamu itu.

__ADS_1


Gandhi menghela napas panjang, lalu memberikan senyum terbaiknya. "Iya, Om. Saya berniat ingin meminang Chaca. Saya memang bukan orang kaya, saya tidak bisa menjanjikan kemewahan dan kedudukan tinggi, tapi saya berjanji akan berusaha membuat putri Om selalu bahagia," ucap Gandhi lantang menatap Chaca yang sedang gugup.


Bersambung~


__ADS_2