
"Sayang, mau nggak kita pindah rumah?" tanyaku membelai kepalanya lembut.
Chaca yang sedari tadi sibuk memainkan jemarinya pada dada bidangku terhenti seketika. Ia menatapku lamat-lamat. Aku meraih tangannya lalu mengecupnya.
"Kenapa harus pindah, Sayang? Apa kamu tidak suka tinggal bersama Mommy dan Daddy? Bukankah sudah lama kalian terpisah?" tanyanya pelan.
Aku menghela napas panjang, "Bukan seperti itu. Tapi tidak selamanya kita terus bergantung pada mereka, Sayang. Kita juga harus belajar mandiri."
Chaca nampak berpikir, "Kalau aku pribadi sih tentunya harus mengikuti kemanapun suamiku pergi. Tapi ...."
"Aku akan membicarakannya dengan Mama. Lagian, rumah kita lebih dekat dengan hotel tempat aku bekerja," jelasku.
Chaca mengangguk paham. Ia sebenarnya berat jika harus meninggalkan kedua orang tua angkatnya itu. Namun, aku kembali meyakinkannya. Hingga akhirnya ia menurut.
Aku melakukannya bukan tanpa alasan. Aku memikirkan jauh ke depan. Setiap rumah tangga pasti tidak selalu mulus terus. Pasti akan ada jalan terjal, curam, cobaan dan rintangan.
Dan aku tidak mau ada campur tangan orang lain. Aku ingin selalu menyelesaikan setiap masalah hanya berdua dengan istriku. Termasuk kedua orang tuaku.
Apalagi Chaca orangnya labil. Aku takut dia mudah terpengaruh dengan masukan orang lain. Khawatir saja jika akan membuat keputusan yang salah. Untuk itu aku ingin hanya ada aku dan Chaca.
"Kenapa? Kamu terpesona dengan ketampanan suamimu ini?" godaku saat memergoki Chaca menatapku tanpa berkedip.
"Iya, suamiku semakin tampan," ucapnya memeluk perutku.
Aku mengatur deru napas naik turun yang sudah semakin memanas. Setiap sentuhan Chaca selalu membuatnya terbangun. Aku tidak memiliki cara untuk bisa menghentikannya. Kecuali ....
"Sayang," erangku tertahan memejamkan mata.
Chaca melepas pelukannya, ia mendudukkan tubuhnya menangkup kedua pipiku. Kedua mataku sudah penuh kobaran hasrat yang semakin tersulut.
Tanpa kuduga, Chaca semakin mendekatkan kepalanya. Bahkan ia menarik tengkukku, lalu menempelkan bibirnya pada bibirku. Tentu saja aku langsung mengambil alih. Hingga kami melakukan penyatuan kembali.
Tadinya mau istirahat, tapi tubuhmu seperti magnet yang selalu menarikku, Sayang.
Peluh yang muncul hingga mengalir pada permukaan kulit kami, menjadi saksi pergulatan panas malam ini. Dinginnya ruangan ini bahkan sampai terpental. Tidak mampu menembus pori-pori kami.
__ADS_1
Setelahnya, kami tertidur di bawah balutan selimut saling berpelukan. Aku mengecupnya bertubi-tubi dan mengucapkan terima kasih, atas segalanya yang telah diberikan kepadaku.
...----------------...
Keesokan harinya, saat ini kami tengah berkumpul di meja makan. Mama dan Papa sudah bersiap untuk pergi ke kantor masing-masing.
"Pa, Ma, Gandhi boleh minta izin?" ucapku pelan setelah piring di hadapanku kosong.
"Apa Sayang?" tanya Mama memperhatikanku seksama.
Chaca menundukkan kepalanya. Ia takut akan menyinggung perasaan Mama dan Papa. Papa juga telah menyelesaikan makanannya. Pandangannya beralih ke arahku sambil menyesap kopinya.
"Gandhi harap Mama dan Papa tidak tersinggung ya. Emmm ... Gandhi izin untuk tinggal di rumah sendiri Ma, Pa," ucapku ragu meremas jari jemariku di meja.
Sesuai dugaan, Mama begitu terkejut. Beliau membanting sendok dengan kasar lalu pergi meninggalkan meja makan. Kami semua terlonjak kaget, Chaca tidak berani mengungkapkan pendapatnya. Ia sudah sepakat untuk mendukung apapun kemauanku.
"Kenapa Gan?" Kalimat yang tadinya sudah kupersiapkan jawabannya matang-matang, kini telah buyar saat sekilas melihat Mama menitikkan air mata.
"Pa, Gandhi senang bisa tinggal di sini bersama Mama dan Papa, sungguh. Tapi sekarang Gandhi sudah menikah, Pa. Papa pasti paham 'kan maksud Gandhi," tuturku meyakinkan.
"Daddy, kami akan selalu berkunjung ke sini," ucap Chaca meremas jemari Papa sambil tersenyum.
Papa menimpali tangan Chaca dan mengusapnya lembut. "Papa tahu, kalian ingin mandiri. Tapi pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk kalian. Dan kalian harus janji untuk sering mengunjungi kami!" pesan Papa.
Aku dan Chaca saling pandang dan melempar senyum, kami tidak menyangka Papa akan mengizinkannya. Sekarang, tinggal membujuk Mama.
"Kami janji, Pa," ucapku tersenyum.
Chaca beranjak dan memeluk Papa dari belakang. "Makasih ya Daddy, Chaca janji akan sering ke sini," ucapnya menopangkan dagu pada bahu kanan Papa.
"Yang paling penting, kalau ada apa-apa langsung hubungi Papa. Kalau gitu bujuk Mama kamu pelan-pelan. Papa berangkat dulu ya. Sudah telat ini," ucap Papa kemudian beranjak dari duduknya.
"Hati-hati Dad!" pesan Chaca mencium tangan beliau. Aku juga mengatakan dan melakukan hal yang sama.
Kemudian, aku meminta Chaca untuk berkemas. Sedangkan aku menghampiri Mama. Perlahan, kakiku melangkah ke kamar Mama. Tiga kali ketukan tidak ada sahutan dari dalam. Apa mungkin beliau tidak ke kamar?
__ADS_1
Ah, aku tidak melihat ke mana arah langkahnya tadi.
"Bi, lihat Mama?" tanyaku ketika Bi Ratih berjalan di depanku.
"Tadi sepertinya di taman, Den," sahutnya.
Aku berterima kasih dan menepuk bahunya. Kemudian memutar langkah menuju taman. Benar ternyata, beliau duduk termenung di sebuah kursi panjang membelakangiku. Aku melangkah pelan, lalu memeluknya dari belakang.
Bahunya semakin bergetar, isakan tangisnya kembali menyeru. Kuusap kedua bahunya naik turun. Kemudian mendudukkan diri di samping beliau.
"Ma," panggilku namun wanita paruh baya itu bergeming. Masih larut dalam tangisannya.
Aku meraih tubuhnya dalam dekapanku, memeluknya erat. Tidak ada sahutan apapun, hanya isakan tangis yang terdengar.
"Kamu nggak sayang sama Mama? Kamu mau ninggalin Mama? Kamu nggak suka dekat sama Mama? Kamu ...." Tangisnya kembali pecah bahkan lebih keras.
Aku turut meneteskan air mata. Terbesit rasa tidak tega melihat beliau seperti ini. Namun keputusanku sudah bulat. Lama sekali beliau dalam dekapanku. Sampai saat sudah lebih tenang, aku melepaskan pelukan tersebut.
"Gandhi sayang banget sama Mama. Bukannya berniat mau ninggalin Mama. Tapi, sekarang Gandhi harus menjalani kehidupan rumah tangga Gandhi." Aku menyeka sisa air mata di kedua pipinya.
"Ma, tolong izinkan Gandhi menjadi pribadi yang lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap keluarga Gandhi, Ma. Gandhi janji, akan sering datang ke sini," ujarku memegang kedua tangannya.
Mama menghela napas dan membuangnya kasar. Beliau tersenyum menatapku, menangkup kedua pipiku lalu mencium keningku.
"Ternyata Mama lupa kalau anak Mama sudah dewasa. Mama selalu masih menganggapmu bayi kecil Mama. Rasanya seperti baru kemarin Mama menemukan kamu, dan sekarang harus berpisah lagi," tuturnya sendu menatap kedua mataku bergantian.
"Mamaku sayang, Gandhi janji akan sering ke sini. Rumah baru Gandhi juga lebih dekat dengan hotel, Ma. Dekat dengan kampus Chaca juga. Boleh ya Ma," ucapku memohon.
Mama tampak berpikir. Beliau memutar tubuhnya menatap lurus ke depan. Mengarah pada hamparan bunga-bunga yang selalu terawat dengan baik.
"Baiklah. Mama izinkan, tapi ada syaratnya," cetus Mama mengangkat jari telunjuknya tepat di wajahku dengan sorot mata yang tajam.
"Apa syaratnya, Ma?" tanyaku penasaran.
Bersambung~
__ADS_1
Sorry for late update