
"Tolong di sini! Ada orang pingsan!" Teriak seorang warga berusaha menarik perhatian dari yang lain.
Tidak lama orang-orang datang termasuk Ibu-ibu yang dari awal sudah menggunjing Ira.
"Tuh kan ini sih karena gak mau dengar peringatan orang lain. Udah seperti ini kan yang lain jadi repot." Celoteh seorang Ibu-ibu tampak kesal.
"Tolong panggil Pak kyai saja Bu jangan ngomel!" Jawab bapak-bapak yang tampak kesulitan saat mengangkat tubuh Ira.
"Mang itu kenapa?" Tanya salah seorang warga lagi.
"Biasa. Berat badannya." Jawabnya meringis Karena kedua tangannya tidak kuat mengangkat tubuh Ira.
"Bilang dari tadi Mang!" Jawabnya lagi langsung membantu.
Setelah dua orang turun tapi beberapa menit tubuh Ira masih tidak berhasil diangkat juga, keduanya tampak kesulitan.
"Udah mau malam juga, ayo bubar aja Ibu-ibu!" Ucap nya berhasil membubarkan kerumunan.
"Nah yang lain malah pergi itu Mang!" Ucapnya sedikit terlihat berniat untuk menyusul.
"Eh ini dibantu dulu! Kita tunggu sampai pak Kyai datang!" Ucapnya mengingatkan lagi.
"Ini kok bisa berat ya Mang?" Tanyanya seorang pemuda lebih muda.
Di tempat itu hanya tersisa dua orang lagi, sedangkan hari sudah semakin gelap saja.
"Mang udah mau Maghrib ini, saya pulang ah!" Ucapnya mulai ketakutan.
Mata Bapak-bapak yang dipanggil Mang itu juga menyaksikan hutan lebat di depan yang tidak begitu jauh. Terbayang jelas sosok wanita yang sering muncul di hutan. Warga sudah terbiasa dengan sosoknya, tapi mengingat lagi sosok itu tetap menakutkan bagi warga.
"Eh jangan pulang, ini kasihan orang kita tunggu sampai Pak Kyai datang!"
"Ada yang nyusul Pak Kyai kan?" Tanyanya khawatir.
__ADS_1
"Ada tadi, semoga cepat sampai saja ya." Timpalnya lagi yang tidak bisa menyembunyikan perasaan takutnya.
Beberapa menit kemudian.
Keduanya terlihat sangat gelisah, rasanya sudah tidak sanggup jika harus menunggu lagi.
"Itu Pak Kyai datang!" Sebutnya langsung memberitahu Mang-mang yang tetap mengangkat tubuh Ira
Pak Kyai tak lama langsung datang dan tidak membutuhkan banyak waktu langsung menghampiri Ira yang lemas tergeletak di atas tanah.
"Pak ini tadi saya temukan sudah di tanah pingsan." Jelas seorang lelaki yang lebih tua.
"Oh Neng ini, dia temannya Jang Andre Mang Tarmin. Ayo dibantu bawa ke rumah pak RT saja." Ucap Pak Kyai.
"Ini sulit diangkat pak!" Jelas seorang pemuda yang tetap menemani Mang Tarmin dari awal menemukan Ira.
Pak Kyai langsung. menghampiri dan terllihat berdoa dengan khusuk.
"Sekarang bisa diangkat!" Ucap Pak Kyai mempersilahkan Mang Tarmin dan seorang pemuda itu untuk memindahkan Ira.
Beberapa orang mengobrol sedikit, Pak Kyai mengusulkan agar di rumah Pak RT tetap ada yang jaga dan harus laki-laki. Karena hari sudah semakin sore tiba-tiba suara Adzan Maghrib juga sudah berkumandang. Semuanya ikut Pak Kyai ke mesjid terdekat.
"Bu RT tolong ya jangan sampai keluar rumah." Ucap Pak Kyai memperingatkan, terdengar sedikit kengerian dari arti peringatan Pak Kyai itu.
Bu RT yang tak lain adalah istri dari Pak RT pemilik rumah, hanya ada kedua orang anaknya dan juga seorang warga laki-laki yang jaga sampai rombongan Pak Kyai sudah kembali pulang. Ada pantangan yang memang warga di sana sudah menjadikannya kebiasaan.
Satu jam sudah berlalu dengan sangat lama.
"Astaghfirullah." ucap Bu RT karena kembali melihat rombongan tadi membawa Andre yang terkapar.
Tiba di dalam rumah Andre terus muntah beberapa kali, tapi yang dia keluarkan dari mulutnya adalah sebuah tanah merah.
Pak Kyai seperti sudah sangat biasa menangani kasus yang sering terjadi di tempat ini. Hal itu banyak sekali sebabnya.
__ADS_1
"Mah, ada kepala terbalik di atas!" Ucap Anak dari Bu RT yang saat itu ikut menyaksikan masalah yang ada.
Spontan yang mendengarnya langsung merasa terjaga. Sayup angin seperti melintas langsung ke Punduk leher hingga bulu kuduk langsung merinding.
"Ibu dia lari!" Teriaknya lagi histeris.
Bu RT sangat ketakutan dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan dengan anaknya.
Setengah ngamuk anaknya terus berteriak seperti melihat sosok lain yang tidak bisa dilihat oleh orang dewasa.
Pak RT tidak berkutik sedikitpun, matanya hanya sesekali melihat ke arah anaknya yang masih kecil. Apa daya karena membantu doa Pak Kyai tidak bisa menghampiri anaknya.
Bu RT bingung untuk menenangkan putrinya yang masih kecil itu.
"Dia turun, Dede takut Bu! Itu turun! Kepalanya terbalik!" Ucap putrinya yang sangat ketakutan.
Pak Kyai dengan tenang menghampiri, dan membacakan doa ke dalam gelas berisi air untuk segera di basuh ke wajah putrinya.
Di satu sisi Andre sudah sangat sekarat tidak tahan, tubuhnya tidak berdaya karena sudah sering muntah. Pak Kyai kembali menghampirinya lagi dan menyiramkan air dari dalam botol ke atas kepalanya hingga hitungan detik Andre terjatuh pingsan.
Pak RT langsung berlari ke arah putrinya dengan perasaan tidak tenang.
Orang lain yang menonton termasuk Mang Tarmin dan beberapa orang warga hampir saja akan keluar dari rumah karena takut.
"Jangan dibuka pintunya!" Ucap Pak Kyai segera menghentikan mereka.
"Cepat bantu ke dalam kamar!" Pak Kyai memberikan sebuah perintah lagi yang bagi orang-orang biasa malah saling tatap bingung dan takut.
"Insyaallah jadi amal baik Bapak-bapak dan hanya Allah yang akan melindungi kita, tapi ingat jangan dibuka pintunya!" Ucap Pak Kyai tetap mempertegas lagi peringatannya itu.
Dengan perasaan takut yang sudah tidak bisa terbendung lagi, langkah kaki beberapa orang secara perlahan menuju kamar yang di dalamnya ada Ira dan Sani.
Pak Kyai melangkah paling belakang.
__ADS_1
Tiba-tiba Pak Kyai langsung menghentikan langkahnya, sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain mendekat satu inci ke wajah Pak Kyai. Sosok perempuan yang mengikuti Sani dan yang mengganggu Ira tepat di hadapan wajah Pak Kyai. Rambutnya yang sangat panjang terurai hingga ke lantai, dan rambut itu sudah ada dimana-mana menutupi semua lantai di ruangan itu. Pak Kyai terus mengucapkan doa untuk mengusir sosok yang entah atas perintah dan kiriman dari mana yang sudah mengacau hingga ke desa ini. Pak Kyai melihat jika ada juga jin lain yang bisa dilihat oleh anak Pak RT tadi, dia rupanya yang berhasil mengganggu Andre, meskipun Andre memiliki semacam benda tapi itu tidak berpengaruh juga. Alhasil dia juga terkena dampak yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Pak Kyai mengucapkan doa lagi dan dalam satu kedipan mata sosok yang mengganggu Andre sudah tidak terlihat lagi.