
Tok...tok...tok..
Suara pintu terdengar diketuk.
Anis terperanjat mendengar pintu kamarnya diketuk seseorang, tak lama handle pintu bergerak ke bawah dan dengan sendirinya pintu terbuka.
"Neng Anis, bisa bantu Mamang sekarang?" Tanya Pak Parman di luar dengan gayanya yang santai.
Segenap hatinya tersentak kaget mendengar suara Pak Parman menyapanya dengan nada santai seperti biasa, padahal kenyataan tentang pesugihan yang dilakukan sudah diketahui jelas oleh Anis, tapi melihat raut wajah dan cara bicaranya sekarang seolah memberi tahu bahwa tidak ada yang terjadi lebih buruk dari itu. Membuat Anis harus menahan napas sampai Pak Parman pergi dari hadapannya.
"Ada apa Mang?" Tanya Anis masih tidak bisa membuang nada gemetar yang keluar dari mulutnya.
"Mamang sudah siapkan dupa dan bahan-bahan yang lain, tolong segera ya!" Ucap Pak Parman datar dan langsung pergi tanpa mendengarkan persetujuan Anis.
Pesugihan lagi, Pak Parman masih berani memerintah Anis untuk pemujaan yang dilakukannya?
Anis hanya melotot diam tidak memperhatikan jika Pak Parman sudah berlalu, di dalam pikirannya saat ini hanya dipenuhi dengan persoalan mimpi yang layaknya kenyataan, dan beribu pertanyaan menghujani otaknya. Apakah benar tidak terjadi sesuatu? Dia hanya bermimpi?
Mendengar penuturan Pak Parman saja dan maksudnya datang membuat Anis tak berdaya tidak bisa mengatakan apapun untuk menolak, tapi ketika Pak Parman pergi rasa kesal seolah langsung mendidih dengan darahnya.
Sampai kapanpun Anis akan mengingatnya, tapi dia tidak bisa berbuat apapun dan kali ini sudah terlanjur setelah mendapat ancaman dari mimpinya Anis tidak bisa memilih jalan lain. Agar selamat dia harus menyetujui setiap permintaan tentang pesugihan itu dari Pak Parman dan entah sampai kapan dia akan melakukannya.
Sebagian besar hatinya tidak pernah ingin melakukan pekerjaan kotor dengan kedua tangan yang sangat bersusah payah untuk tegar. Hanya bagaimana bisa dia sanggup menolak sebuah permintaan itu? Bagaimana caranya?
Permintaan Pak Parman kembali terngiang, tidak memberinya sedikit waktu untuk bernapas tenang. Kesadaran Anis terasa dipaksa lagi untuk menurut, memenuhi tuntutan yang akan sangat berpengaruh untuk hidup dan matinya, rasanya jika langsung menolak sesuatu yang buruk akan langsung terjadi.
Mau tidak mau permintaan Pak Parman tak terasa menjadi kebiasaan Anis dan mulai harus dilakukannya setiap waktu, hingga satu persatu insiden buruk banyak terjadi di depan mata, Anis hanya menjadi saksi bisu tanpa mengutarakan apa yang dia tahu, pikirnya tentang keselamatan nya saja itu sudah cukup dan tidak ada yang lain.
Hari berganti dan tak butuh waktu lama, setelah sebulan berlalu para penghuni kosan berkurang sampai semua kamar kosong, hingga sekarang setelah 2 tahun dari kejadian Anis seorang diri di sana masih mengerjakan permintaan dari Pak Parman menyediakan sesajen dan mengajak orang lain dari luar untuk mampir menginap di sana. Semua dilakukannya selama 2 tahun tanpa dia bertanya lagi, tanpa dia merasa was-was lagi.
__ADS_1
*****
Andre menggelengkan kepala setelah mengalami perjalanan panjang dalam mimpinya, melewati waktu singkat yang dialami Anis dengan hidupnya di tempat terkutuk itu. Bahkan rasanya Andre ikut kesal, geram dengan kelakuan pemilik kosan.
Penglihatannya sekarang menjelaskan saat hari dimana awal pertemuan dengan Anis dan sebagai pertemuan terakhirnya.
Satu persatu setiap kejadian dilihat Andre dengan murung, tidak ada yang membuatnya lebih sedih dan frustasi dari ini karena setelah kematian Anis mungkin Andre adalah satu-satunya orang yang masih diam saja tanpa melakukan apapun seperti Anis. Diam dan tidak membiarkan Anis tenang.
"Mas bangun!"
"Mas!"
"Mas!"
Andre merasa tubuhnya digoyangkan beberapa kali oleh tangan seseorang dan suara samar yang terdengar lembut terngiang jelas masuk ke dalam telinganya.
"Astagfirullah." Ucap Andre karena kaget. Bola matanya bergerak dan melihat tubuhnya masih ada di atas kasur, jam dinding juga menunjukkan pukul 06.00 pagi.
"Eh, Tri!" Ucap Andre malu. Tanpa diundang bayangan kejadian malam kembali mengudara di dalam pikirannya.
"Saya mau permisi mandi dulu!" Ucap Andre tanpa melihat Tri yang masih duduk di samping kasurnya. Bahkan Andre sangat terburu-buru pergi tidak membiarkan dia lebih lama mengobrol.
"Kenapa dengan Mas Andre ini?" Gumam Tri dalam hati. Saat bola matanya bergerak melihat ke atas kasur yang belum dirapihkan membuat tangan Tri langsung bergerak naik ke atas dan merapihkan satu persatu bantal juga selimut.
Sedangkan Andre yang masih belum bisa melupakan kejadian semalam merasa malu sendiri menatap Tri yang ada di hadapannya. Padahal bukan dia sendiri kan yang berbuat? Tapi perasaan malunya sampai ke ubun-ubun kepala.
"Mas Andre! Lagi mandi ya?" Teriak lagi Tri dari luar.
Andre merasa kaget dan menatap dirinya yang masih diam belum menyalakan kran air. "Ia Dek Tri, maaf lama." Ucap Andre dan harus menghela napas untuk mengucapkannya.
__ADS_1
"Handuknya saya simpan di luar Mas, nanti kalau sudah Mas bisa ambil baju di lemari kamar Mas ya cari saja yang cukup." Tri memberitahunya lagi.
Andre sudah menyalakan Air berpura-pura tidak mendengar karena suara air, sehingga dia mengabaikan ucapan Tri yang berniat baik padanya.
"Kenapa sih harus aku yang lihat?" Gerutu Andre kesal, jika saja bukan dirinya yang melihat mungkin Andre tidak perlu salah tingkah.
Tok... tok... tok...
"Siapa di dalam?" Terdengar suara bapak-bapak dan seperti Pak Tarman.
Andre kembali membulatkan mata mendnegar suara Pak Tarman dari arah luar.
"Tadi Tri sekarang Pak Tarman?" Batin Andre.
Andre memutar kram air membiarkannya sampai berhenti. "Maaf saya di dalam Pak, permisi mandi dulu." Ucap Andre santun.
"Oh Nak Andre, baiklah saya langsung tunggu di depan ya." Balas Pak Tarman dengan nada santai bicara padanya.
Andre langsung menyalakan air lagi tanpa membalas perkataan Pak Tarman. Seperti sudah lari maraton, mendengarkan suara mereka membuat jantung Andre berpacu cepat, dia bisa tidak tenang karena perbuatan keduanya?
"Soal sekali!" Pekik Andre sambil mengambil air dan melanjutkan mandi.
*****
Semua orang tertawa senang di ruangan, Andre menebaknya mungkin orang-orang berada di ruangan setelah dapur. Begitu masuk Andre mendapatkan sebuah tikar yang digelar di atasnya ada sarapan dengan nasi dan lauk lengkap sayur. "Ini sih bukan sarapan, tapi makan berat." Batin Andre sambil masuk ke dalam.
Memang semua orang sangat ramah terhadapnya, jarang juga ada orang yang bersikap peduli di tengah kota seperti ini.
"Nak Andre jangan sungkan ya, silahkan makan sepuasnya di sini." Ucap Pak Tarman yang sudah siap dengan makanan di atas piringnya itu.
__ADS_1
Tri yang bertugas mengambilkan nasi setiap orang secara bergiliran. Dan kebetulan yang tidak membuat Andre senang, karena Tri tepat duduk di sampingnya membuat dia canggung sekali.