Dunia Mu

Dunia Mu
Rahasia Anis 2


__ADS_3

Andre melihat Anis yang lebih cemas darinya. Sekarang dia ingin bertanya langsung apa yang terjadi sebenarnya.


Dengan irama napas yang naik turun Anis masih tidak bisa membuang cemas dan ketakutannya itu, mata Anis berbalik dan melihat Andre yang sedang berdiri di hadapannya dan memandanginya dengan penuh tanya.


Anis langsung memalingkan mata lagi ke sisi lain untuk menghindari tatapan langsung dengan Andre. Sikap gugup Anis terlihat tapi sepertinya dia tidak memiliki lagi alasan untuk terus menutupi fakta yang hanya dirinya sendiri yang tahu.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Maksudmu untuk apa sudah membawaku ke tempat ini? Aku sudah tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan" Tanya Andre tidak basa-basi lagi. Nada yang didengarkannya sangat serius.


Anis hanya bisa memandangi Andre dengan tatapan yang lemah, tapi tiba-tiba Andre melihat air mata langsung meluncur hingga Anis berusaha menahan tangis dan meminta maaf pada Andre.


"Maaf. Aku mohon ini hanya kau yang tahu, aku tidak punya pilihan lain." Jelas Anis, nada bicaranya yang bercampur dengan sebuah tangisan.


Andre semakin memandanginya bingung, mengapa Anis meminta maaf dan maksud dari kata-katanya itu untuk apa?


Andre semakin tidak tenang, dia yakin Anis sudah menyembunyikan sesuatu seperti kesalahan yang disengaja atau melakukan sesuatu pada dirinya.


"Sekarang lebih baik kamu jujur, katakan semuanya alasan membawaku ke sini?" Tekan Andre, semakin lama nada bicaranya terdengar naik karena kesal.


Tapi Anis hanya terus menangis tersedu-sedu seperti benar-benar sangat merasa bersalah.


Dalam satu sisi Andre bingung, dia merasakan ada sesuatu yang salah terutama dengan tempatnya sekarang dan hal itu pasti ada erat kaitannya dengan alasan Anis yang sudah membawanya kemari. Sekarang cukup wajar jika Andre mulai merasa sangat kesal, mungkin dia sudah tidak bisa mengendalikan lagi amarahnya yang kapan saja bisa meledak menjadi cacian, bentakan, atau makian. Dari awal Andre memang sudah ragu untuk mengikuti niat baik Anis apalagi jika dia tahu akan terjadi sesuatu yang membuatnya tidak bisa bernapas tenang seperti sekarang. Dan yang membuatnya mulai emosi ketika Anis tidak menjawab satu katapun dari pertanyaannya padahal Andre sangat berharap jika Anis secepatnya bisa berterus-terang.


Ekspresi Andre berubah menjadi dingin, tapi bukan karena dia bisa menerima maksud Anis yang tidak diketahuinya itu dan karena emosinya sudah mereda. Tapi Andre melihat Anis adalah seorang perempuan, dia tidak bisa harus meluapkan semua emosinya dengan membentak atau memakinya.


Tanpa bicara apapun lagi Andre menarik tangan Anis dan meraih kunci di pintu lalu memutarnya. Dia bermaksud untuk pergi.


Anis langsung tercengang bingung dalam hatinya dia tidak ingin jika Andre keluar malam ini itu tidak boleh terjadi.


"Jangan Mas! Jangan pergi!" Cegah Anis menahan Andre yang sudah setengah membuka pintu.


Andre langsung melihatnya dengan tatapan dingin kemudian dia menghela napas mengatur agar emosinya tidak keluar saat dia harus berbicara dan berhadapan dengan Anis.

__ADS_1


"Ada alasan?" Tanya Andre singkat.


"Saya akan ceritakan semuanya." Anis masih berusaha memohon.


"Saya janji!" Ucap lagi Anis.


Andre masih tidak menjawab juga, dia pun terus memalingkan wajahnya ke arah yang tak terlihat oleh Anis.


"Setan itu akan datang lagi dan di luar sana Mas tidak akan bisa selamat dari ancamannya." Jelas Anis sambil kembali menangis.


Seperti sudah disambar petir di tengah hari. Tak ada angin mencurigakan sampai akhirnya Anis terdengar berterus terang mengatakan sesuatu yang ditahannya dari tadi.


Andre langsung menutup pintu dan menguncinya. Dia menatap Anis dengan tajam, tapi bukan untuk merasa iba lagi tatapan itu penuh dengan amarahnya.


"Apakah itu ancaman? Kau hanya mau aku tetap tinggal di sini?" Tebak Andre masih tidak percaya.


"Apa yang kau ingin kan sebenarnya?"


"Maaf Mas." Ucap Anis masih terus meminta maaf, dia juga masih tidak bisa menghentikan tangisannya itu.


Andre masih merasakan amarah yang terasa sesak di dadanya tapi melihat Anis yang menangis rasanya dia bukan manusia harus terus marah pada perempuan.


Andre berjalan dan duduk melamun bersandar ke dinding kamar. Dia diam tidak bertanya lagi, sesekali dia melihat ke arah Anis yang membuatnya heran dan bertanya sendiri apa yang ditangisi oleh Anis sebenarnya?


Saat keduanya bungkam tidak saling bicara suasana menjadi sepi karena Anis juga sudah berhenti menangis. Andre masih tidak menghiraukannya dia diam tidak mengatakan apapun.


Semakin lama Andre terlihat lebih bosan dari tadi, dia tidak sabar tapi apa yang bisa dilakukannya?


Andre melihat ke arah Anis dan perhatiannya tak sengaja sekarang tertuju pada sebuah kertas yang ditempel di atas pintu hingga membuat Andre melotot melihatnya.


"Itu apa?" Tanya Andre pada Anis sambil berjalan lebih dekat memperjelas penglihatannya.

__ADS_1


"Semacam penangkal. Mas aman di kamar ini!" Jawab Anis singkat dan masih menundukkan wajah.


Sekilas mendengarnya membuat Andre tidak bisa percaya apalagi karena Anis yang masih belum memberinya sebuah penjelasan.


Andre diam dia memilih tidak mempermasalahkan apapun itu yang dilihatnya. Percaya atau tidak dalam hatinya Andre tidak memiliki keberanian untuk sejengkal pun pergi, mengingat kejadian yang baru saja terjadi sudah berhasil mematahkan mentalnya. Bagaimana pun Andre tidak bisa melupakan traumanya, dia tidak bisa menghadapi suatu masalah yang berbau sama.


"Mas aku bohong tentang dupa tadi." Ucap Anis.


Andre langsung melihatnya dan berdiri kemudian mendekat dengan tidak sabar. "Itu untuk memanggil setan? Kau bermaksud menjelaskannya kan?" Tebak Andre. Nada bicaranya pun terdengar kesal tidak selembut biasanya.


"Aku terpaksa." Jawab Anis dan masih menangis lagi.


"Terpaksa? Kau mau aku mati di tempat ini? Itu maksudnya?" Tanya Andre, sekarang di matanya perhatian dan perasaan tadi sudah hilang.


"Kau tidak bisa bermain-main dengan nyawa seseorang, aku ke sini terpaksa karena melihat kebaikan orang lain yang tidak bisa seenaknya diabaikan. Tapi bisa-bisanya kau meremehkan seorang manusia yang ingin hidup." Andre tak berhenti memaki Anis. Selama panjang lebar bicara Anis tak sedikitpun mengatakan satu kata untuk menyanggah atau bersikap tidak terima, hal itu membuat Andre yakin jika Anis memang bermaksud melakukan sesuatu seperti yang dia bicarakan.


Andre langsung menjauh dia tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia tidak ingin berakhir memaki Anis.


Anis masih menangis dan berjalan memberanikan diri mendekat ke arah Andre yang mematung.


"Ini bisa membantu mu, berjanjilah untuk tidak menceritakannya kepada siapapun." Pinta Anis.


Andre melihat Anis menyodorkan sebuah kalung yang sama seperti miliknya, bentuk dan rupanya sama persis.


Andre masih diam dia tidak menolak maupun menerimanya, tidak mungkin jika benda sepenting itu dia ambil dari Anis yang juga membutuhkannya.


"Ini untuk permintaan maaf ku. Dan terimakasih sudah mampir." Ucap Anis hingga sedikit tersenyum.


Apa boleh buat Andre tidak tahan untuk tidak cepat mengambilnya, alasannya sederhana dia ingin selamat. Jika benar setan itu terus mengincarnya Andre sangat membutuhkan benda itu dari Anis untuk jaga-jaga. Selain itu dia juga tidak bisa terus tinggal di tempat ini dia tidak pernah berniat dari awal dan itu cukup memberikannya alasan untuk pergi.


"Anggap saja ini sebagai kenang-kenangan, setelah dipakai jangan dilepaskan lagi ya Mas." Ucap Anis langsung menyerahkannya ke tangan Andre dengan paksa.

__ADS_1


Andre ingin sekali menolak tapi saat melihat wajah Anis dia tidak ingin mengecewakannya juga.


__ADS_2