
"Nak Andre!"
"Andre!"
"Bangun."
Pak satpam masih berusaha membangunkan Andre, setengah jam yang lalu Pak penjaga juga membangunkannya tanpa respons.
"Loh, Pak! Kenapa?" Sani turun dari kamarnya menatap heran ke arah Andre yang masih tertidur.
Bapak penjaga segera melihat ke arah Sani. "Teman Non ini kenapa tidak bangun-bangun juga ya." Ucapnya bingung.
Binar mata Sani langsung berubah mendengar penjelasan itu, rasa khawatir kian menguat.
"Dre, bangun dong!"
"ANDRE!"
Ketika nada bicara Sani berubah bahkan terkesan membentaknya namun seperti yang terlihat, tubuh Andre terkulai lemas di atas kasur.
"Pingsan ini Pak." Komentar Sani. Dia langsung berlari kembali ke kamarnya bermaksud mengambil Hp nya di kamar.
Bapak penjaga masih menatap heran ke arah Andre. "Padahal tidak ada yang aneh semalam Andre masih biasa saja." Tapi sekali lagi kekhawatiran Bapak penjaga kembali mengingatkannya. Apalagi dia yang paling tahu tentang rumah tuannya ini, termasuk sesuatu yang memang sangat berbahaya mengintai di luar kamar. Tatapannya berubah arah melihat ke balik pintu, di sana juga tampak kertas itu masih menempel harusnya tidak ada yang bisa masuk ke dalam kamar.
"Pak aku sudah telpon dokter keluarga kesini." Seru Sani saat kembali menuruni anak tangga.
__ADS_1
Karena belum bisa mengatur emosinya termasuk sesuatu yang mengkhawatirkan, segaris ekspresi cemas mengintai wajah Bapak penjaga. "Saya turun ke bawah dulu Non." Ucapnya pamit.
Sani tidak mencegahnya untuk turun dari kamar ini, alasannya karena baru saja dia merasa ada sesuatu yang ganjil dari ekspresi Bapak penjaga itu. Jika karena khawatir dengan keadaan Andre, tidak mungkin sampai berekspresi berlebihan seperti itu.
Sani kembali menatap ke arah Andre dan tampak syok karena Andre tiba-tiba saja sudah membuka matanya, alhasil sepasang mata mereka saling bertemu.
"Baru bangun ternyata, tadi ke apa susah bangun!" Komentar Sani sambil langsung membuang wajah ke arah lain, dia sebenarnya sedang menghindari tatapan tadi.
"Ia baru bangun, maaf." Terdengar nada canggung dari mulut Andre.
Tidak terdengar lagi Andre berbicara membuat Sani langsung merasa aneh. Sani kembali mengintip ke arah Andre, tingkah Andre juga aneh. Sani bisa melihat dengan jelas keringat yang membasahi wajahnya, Andre seperti baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk.
"Andre!" Panggil Sani. Tanpa maksud lain dia hanya ingin memastikan sesuatu. Dan ternyata ekspresi Andre lebih jelas memperlihatkan jika dia tidak baik-baik saja.
"Kenapa?" Tanya Andre. Dia berusaha untuk terlihat normal seperti biasanya, anggap saja bahwa dia tidak bermimpi buruk tentang Pak Dean, mimpi itu hanya bunga tidur. Namun, entah mengapa rasa khawatir dalam mimpinya terasa nyata sekali ketika dia sudah bangun sekalipun.
Andre diam mengingatnya. "Oh, ia. Aku mau pamit bersiap dulu." Dia ingat jelas bagaimana rencana dalam pekerjaan pertamanya sekarang. Harus pergi ke kampus dengan Sani.
"Aku tunggu di bawah." Seru Sani.
Andre segera berbalik mendengar kata-kata Sani, dia tampak terkejut.
"Kenapa?" Sani bertanya ketika melihat respons Andre.
"Tidak ada. Aku, mandi dulu." Andre buru-buru kembali berjalan ke arah kamar mandi. Padahal dia cukup ketakutan dengan mimpi itu, dia juga merasa takut sendirian di kamar ini. Tapi tidak mungkin mengatakannya pada Sani dan menahannya agar tetap di sini menunggu kan?
__ADS_1
Untuk kali ini Andre merasa sudah bertekad bulat, dia ingin hidup normal andai saja itu bisa. Dia tidak ingin merasakan lagi sensasi yang membakar akal sehatnya itu, kewarasannya juga ikut dipertaruhkan setiap detik. Melihat banyak hal yang tak normal, mendengarkan banyak hal tak biasa, bahkan sekarang hidupnya serasa sudah berantakan. Terkadang dia takut jika setelah memasuki dunia itu dia tidak bisa kembali lagi. Itu sudah memberikannya alasan mengapa Andre tidak bisa menerima sisi abnormal itu.
Andre sudah berada di dalam kamar mandi, jangan tanyakan lagi sesuatu yang lain di sana. Ketika perasaannya mengatakan ada sesuatu di dalam kamar mandi, maka sudah lebih dulu wujudnya terlihat berseliweran datang dan pergi tampak berganti. Berusaha kuat dia tetap bersikap biasa saja, karena pesan neneknya yang selalu diingat agar dia tidak merasa takut, jika ketakutan itu menguasainya maka mereka bisa melihat ke arahnya juga. Jadi meskipun Andre melihat mereka semua, tapi sebaliknya mereka yang tak kasat mata tidak akan bisa melihat Andre selama dia tetap waras.
Brakk...
Suara nyaring seperti orang yang ingin mendobrak pintu kamar mandi.
Jantungnya tidak bisa berdegup normal, Andre tidak bisa tenang dan menganggap itu bukan sesuatu yang aneh. Wajar saja kali ini dia merasa sedikit parno.
Buru-buru Andre menyudahi mandinya, yang terpenting sekarang dia harus bersiap cepat dan turun menemui Sani di bawah.
Ketika Andre menarik pintu kamar mandi dan melihat langsung ke arah tempat tidur, dia langsung syok karena tampak Sani sudah menunggu di sana. Andre tak percaya apakah Sani sudah menunggunya dari tadi? Lantas suara yang dia dengar itu ulah siapa?
"Udah beres? Wah maaf aku dari tadi nunggu disini. Tapi sekarang aku keluar kamar ya!" Sani segera memalingkan wajah mendapati Andre yang hanya berbalut handuk mandi.
"Kalau mau di situ gak apa-apa, aku ganti bajunya di dalam kamar mandi saja." Andre sungkan sekali tak enak jika menyuruh Sani uang keluar kamar.
Sani tidak terdengar bicara seperti tadi untuk menanggapi pembicaraan Andre.
Saat berjalan menuju kamar mandi dengan beberapa helai baju yang sudah ditenteng oleh tangannya, Andre berbalik sekilas ke arah Sani. Tapi, tidak ada siapapun di sana. Padahal harusnya Sani masih ada di tempat itu duduk kan? Jika. keluar beberapa detik yang lalu tidak mungkin, karena pintu kamar masih tertutup. Sontak panik, Andre berburu mencari Sani.
"Loh, mau di sini aja ganti bajunya?" Andre tampak syok melihat Sani yang ada di depan cermin. Ternyata dia terlalu parno hingga tidak berpikir realistis lagi. "Andre!" Panggil Sani mendapati Andre sedikit melamun.
"Udah kamu di situ aja, aku mau ganti baju sekarang." Andre terburu-buru kembali ke kamar mandi. Dia merasa bersalah, harusnya tidak sampai berpikir jika ada makhluk halus yang menyerupai Sani, kenyataannya itu tidak terjadi kan? Bodohnya.
__ADS_1
Andre menggantung beberapa pakaian yang akan dia pakai sekarang, meski berusaha agar tetap tenang, namun dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri jika sedari tadi dia terlalu cemas, pikirannya terlalu banyak mencerna kejadian tak masuk akal yang kadang kala membuat Andre merasa kacau seperti sekarang. Padahal tidak ada gunanya, tapi dia sendiri tidak tahu bagaimana cara agar dirinya bisa tenang seperti dulu.