Dunia Mu

Dunia Mu
Kejadian lagi.


__ADS_3

Pikirannya yang tidak tenang semenjak Andre harus melepaskan kalung karena kejadian waktu itu. Sekarang apa yang akan terjadi selanjutnya? Siang dan malam dia harus terbiasa dengan kemunculan mereka semua.


Andre melihat ke seberang rumah ada 3 ruang kontrakan yang dimaksud oleh Pak Tarman. Salah satunya lampu sudah menyala.


Entah mengapa saat melangkahkan kaki keluar dari rumah perasaannya ragu-ragu. Ingin sekali dia berbalik ke dalam rumah untuk menuntaskan rasa penasarannya, alasan Pak Tarman yang menyarankan dirinya untuk terlebih dulu tidur di kontrakan. Mengingat perkataan Pak Tarman dia semakin tidak tenang.


Tak terasa Andre sudah berjalan dan di hadapannya adalah pintu kontrakan yang mungkin di dalam sana dia akan tidur menghabiskan malam ini. Tidak ada alasan lain untuk kembali ke sana, terpaksa Andre harus menelan pahit keinginan yang sempat terbersit tadi.


Sudah lupakan saja pikiran yang kian mengganggu ini. Andre hanya perlu pergi ke dalam kamar yang mungkin tidak terkunci.


Kakinya melangkah naik ke atas lantai teras di kontrakan itu, Andre hanya perlu menarik kenop pintu dan membuka kamar lalu beristirahat.


"Dikunci." Batinnya. Sekilas Andre melihat lagi ke arah rumah, dia harus bertanya mengenai kunci kontrakan ke Pak Tarman. Sedikit menyesal mungkin tadi Pak Tarman lupa memberikannya kunci. Tapi apa harus pergi lagi ke rumah? Andre tidak mungkin memergoki Pak Tarman dengan Tri di dalam kamar lagi.


Pikirannya saat itu gusar, beberapa saat dia memilih diam menunggu lama waktu berlalu sampai akhirnya Pak Tarman sadar kalau kontrakan masih dikunci. Hanya harus berapa lama lagi? Andre terlihat bingung dan tidak tenang.


Beberapa kali matanya melihat ke arah rumah. Sebagian besar hatinya mengharuskan pergi ke sana lagi, tapi bagaimana jika sekarang? Apa yang sedang dilakukan Pak Tarman?


Ngeri rasanya saat Andre harus mengingat bahwa Pak Tarman adalah Ayah sambung Tri, dan reka adegan pada malam itu semakin lama terllihat jelas membayangi saja.


Andre menarik napas, dia berdiri memikirkan hal lain yang harus dilakukannya. Apakah harus menunggu sampai Pak Tarman sendiri yang keluar rumah? Andre tidak yakin bisa menahan rasa penasarannya, selain itu menunggu di luar ruangan seperti ini jika malam semakin larut itu tidak mungkin juga kan?


Akhirnya keputusan terakhir dia tekad kan. Anggap saja jika saat itu dia tidak pernah melihat Pak Tarman dengan Tri, dan seperti kali ini jika kejadian itu terulang lagi anggap saja jika itu tidak disengaja kan?


Tak terasa lama berpikir sambil berjalan sudah mengantarkan langkah kakinya di depan rumah, kedua mata Andre langsung terbelalak tak menyangka dia harus melewati momen seperti ini. Dan saat sudut matanya melihat ke arah kamar spontan dia langsung merinding, Andre segera menarik kembali pandangannya menahan rasa penasaran hang tidak boleh dia lanjutkan.

__ADS_1


Buug...


Suara sesuatu yang jatuh terdengar dari dalam rumah sampai begitu jelas meskipun Andre sedang berada di luar. Sontak saja dia berlari ke arah pintu rumah. Tapi lagi-lagi saat inggin menarik pintu dia terganggu dengan sebuah suara yang mengundang birahinya sebagai lelaki.


Tentu saja itu adalah suara Tri dari dalam kamar. Membayangkan bagaimana Tri saat itu dan sedang melakukan apa membuat Andre ketakutan setengah mati, yang paling dia takutkan anehnya jika ada orang lain selain dirinya yang memergoki kelakuan dua orang itu.


Rasanya telinga Andre masih memekik tertahan oleh suara rintihan Tri dari dalam kamar, terdengar seperti orang kesurupan saja, bagaimana bisa ayah dan anak melakukan hal itu di rumah?


Andre tidak bisa berpikiran jernih lagi.


"Woy!!" Suara teriakkan dari arah luar dan Andre melihat Sani dengan santainya meneriaki ke arah jendela dengan tangan yang kemudian bersiap untuk memukul pintu beberapa kali.


Tapi suara Tri semakin keras erangan Pak Tarman dari dalam kamar juga semakin membuat Andre melotot ngeri.


"Ngapain di dalam? Berisik!" Protes Sani yang membuat Andre semakin dah Dig dug dengan tingkah beraninya itu.


"Ngapain sih? Lepas lah!" Protes Sani saat Andre berhasil menyeretnya beberapa meter dari tempat awal.


"Diam!" Perintah Andre panik.


"Ngapain diam? Mereka lagi enak-enak di kamar? Lo tahu kan?" Celoteh Sani yang langsung membuat Andre terdiam.


"Lagian biarin aja, itu urusan mereka!" Sambung Sani membuat Andre menaikkan sebelah alisnya dan memutar mata menatap heran ke arah Sani.


"Terus ngapain berdiri di sana? Ya ampun bikin malu." Keluh Andre yang langsung ditertawakan.

__ADS_1


"Yang ngelakuin itu kan mereka, kenapa Lu yang ribet sih?" Ejek Sani masih tertawa.


Benar juga dengan perkataan Sani, kenapa dia harus merasa malu sendiri dan khawatir seperti tadi?


Tanpa mengatakan apapun Andre berbalik dan melepaskan tangan Sani. Anehnya saat melihat ke arah rumah sosok nenek tua keluar dari kamar Sani dan Pak Tarman tadi. Andre sempat bertanya-tanya mengapa hantu itu berkeliaran di rumah? Dia harus menanyakannya segera.


Saat akan memastikan lagi tiba-tiba Sani hilang dari tempat, Andre langsung panik dan memastikan ke beberapa arah mencari Sani. Ternyata perempuan itu sudah kembali diam-diam ke dalam kamar yang ada di luar. Dia bisa sampai merasa tidak apa-apa atau sedikit risih saja? Andre bingung memikirkan sikap Sani seorang perempuan yang baru ditemuinya.


Sekarang tidak ada alasan untuk kembali ker dalam rumah kan? Tidak mungkin dia berani bertatapan langsung dengan Pak Tarman. Apa yang akan terjadi besok pagi? Andre tidak bisa membayangkannya.


*****


"Neng, ikut Bapak!" Ucap Pak Tarman saat Andre sudah terlihat berlalu dari rumah.


Tri menunduk menahan sesuatu dengan tangannya yang meremas baju.


"Pokoknya malam ini lagi, anak itu pasti selamat tenang saja!" Goda Pak Tarman tak tahan tangannya sudah menangkap paha Tri yang tubuhnya kaku saat tangan tua yang langsung menjamah ke langkah paha dan memaksakan tangannya meremas menerobos ingin bergerak lagi maju.


"Sudah, Pak! Ampun!" Ucap Tri lirih yang sudah berderai air mata.


"Kenapa? Gara-garanya pemuda itu ya?" Terdengar suara Pak Tarman yang geram.


Tri diam menahan pilu dengan bibirnya.


"Pakai kalung ini! Pokoknya ritual dilakukan lagi sekarang kalau tidak." Pak Tarman seperti mengancam dan Tri hanya bisa menatap lesu ke arah Pak Tarman lalu menunduk lagi.

__ADS_1


"Seperti biasakan? Kamu gak akan merasa apapun karena aku hari ini hanya sedang rindu dengan sosok Ibumu yang masih ranum dan muda. Dia akan datang dan mengambil raga mu, saat itu aku bisa menikmatinya." Ucap Pak Tarman tak bisa memperingatkan.


Tri sedih tapi dia tidak bisa melakukan apapun karena Tri yang paling tahu bagaimana sebenarnya orang tua yang ada di hadapannya saat itu. Semua sifatnya seperti binatang saja.


__ADS_2