Dunia Mu

Dunia Mu
Permohonan Pak Arman


__ADS_3

Terik matahari saat itu lumayan cerah, hawa panas masuk ke dalam mobil yang dikendarai Pak Arman. Kemacetan di jalan, arus mobil yang tidak ada jeda keluar masuk dari berbagai jalur di jalanan dan bertemu di lampu merah.


Sepanjang perjalanan Pak Arman terus memandangi lagi jam tangan yang dia pakai, hatinya sekarat melihat waktu yang terus berlalu tanpa bisa dihentikan.


Dia mencari ke tempat dimana memungkinkan Andre melewatinya ke sana. Tidak salah, meski di mata Andre dia egois tapi tidak ada salahnya karena Sani tidak tahu apapun. Tidak ada alasan bagi Andre untuk benar-benar pergi tanpa menolongnya dulu kan?


tak terasa waktu terus berjalan hingga sudah setengah jam berlalu. Hampir putus asa, wajah Pak Arman menjelaskannya.


Tepat ketika Pak Arman ingin kembali dia melihat seseorang berjalan yang dari postur tubuhnya itu tidaklah asing lagi.


Buru-buru mobil diparkirkan dan Pak Arman turun dari mobil mengejar orang itu.


"Andre!" Panggil pak Arman.


Sebelum Andre berbalik Pak Arman sudah lebih dulu berlari dan berhenti di hadapannya.


Sepasang matanya memohon, menatap Andre dan berharap jika dia langsung tahu kesulitan apa yang tidak bisa diatasinya sampai harus mencari lagi Andre tanpa rasa malu.


"Aku bersalah, ayahnya Sani bersalah, tapi tidak dengan Sani. Ku mohon dia tidak tahu apapun, dia hanya korban sama seperti mu juga." Ucap Pak Arman menghentikan langkah Andre.


Andre tampak menghela napas. "Kau tidak membutuhkan bantuan ku kan? Kenapa seperti ini Pak?" Andre mengeluh saat itu. Jauh dalam hatinya dia benar-benar merasakan sakit dari siapapun. Andre hanya ingin sebuah ketenangan dan mengubur dalam-dalam apa yang telah dia ketahui.

__ADS_1


"Aku takut, kau tahu aku tidak bisa berpikir lagi. Sani benar-benar butuh bantuan dia mungkin sengaja dibiarkan dalam kondisi seperti itu. Dan aku tak akan membiarkan Sani bersama ayahnya lagi. Ku mohon, izinkan Sani selamat dan tolong lah!" Pak Arman terus memohon, dia tidak bisa diam saja dan menunggu persetujuan Andre, tapi harus bisa meyakinkan Andre agar tetap menolongnya.


Andre terdiam saat itu, matanya mengabsen ke setiap sudut kota yang ramai. Dia tidak pernah berpikir akan melangkah ke depan dan membantu anak dari seseorang yang sangat dibencinya. Karena itu hidup keluarganya juga hancur.


Untuk apa? Apakah dia akan diuntungkan dalam hal ini? Jika dia berhasil menolong Sani apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah nanti akan semudah itu pergi dari hadapan Sani? Tidak mudah, sebenarnya Andre merasa terlalu berat, tidak ada beban yang membuatnya tenang apalagi dia masih tidak bisa menerima jika Sani adalah saudaranya sendiri. Kenapa harus Sani.


Hati Andre terus bimbang, dia tidak ingin melewatinya, bahkan jika bisa memilih lebih baik jangan pernah ada pertemuan diantara dia dan Sani, tidak perlu mengenalnya karena ternyata akhirnya Andre malah menemukan sesuatu yang tidak dia harapkan.


"Bapak sudah tahu kan bagaimana hubungan kami? Dari awal bapak tahu? Bapak sudah membuatku beberapa kali harus pergi kan? Aku ingin melakukannya sekarang, jadi tolong Pak jangan paksa aku untuk bersabar dan menghadapinya." Nada bicara Andre terdengar lemah.


"Ku mohon, tolonglah Sani. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, jika dibiarkan bagaimana dengan hidupnya. Dia satu-satunya keluarga ku. Dia adalah anakku, dia satu-satunya yang aku miliki. Ku mohon!" Tanpa berhenti memohon, Pak Arman tidak memperdulikan apapun karena dalam pikirannya dia hanya memiliki satu pilihan yaitu menyelamatkan Sani.


Andre tak tahan lagi, apakah seburuk itu membaurkan Sani? Apakah Sani akan benar-benar tidak jika dibiarkan?


"Jangan. Aku mohon jangan seperti itu, kau bisa menolongnya dan jangan membuat jalannya sulit. Tolong lah Sani!" Pak Arman sampai limbung dan jatuh ke tanah.


Cukup tak nyaman dengan kejadian itu Andre segera menarik Pak Arman untuk berdiri. Apa yang akan dipikirkan oleh orang lain jika melihat orang tua sepertinya memohon dengan cara seperti itu.


"Cepat lakukan dan aku benar-benar harus pergi." Ucap Andre berbisik.


Pak Arman segera pergi ke dalam mobil, begitupun Andre yang mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Kita harus mencari tempat yang cocok untuk masuk lagi ke sana, aku tidak bisa melakukannya tanpa ada sebuah pintu yang terbuka. Dan salah satu pintu adalah jiwa mu sendiri." Terang Pak Arman sepanjang perjalanan. Dia tampak tak ingin menunda lagi waktu.


"Kau bisa melakukannya sambil menyetir?" Cetus Andre asal.


"Kita akan berhenti di salah satu tempat di sana. Kau hanya melakukannya seperti tadi lagi." Terang Pak Arman.


Andre tidak begitu merespon ketika dijelaskan karena dia sudah tahu dia tinggal kembali ke tempat itu lagi, membebaskan Sani dari belenggu makhluk itu lagi.


10 menit perjalanan mobil terparkir di salah satu bangunan yang kosong, tampak seperti perumahan lama yang sudah lama ditinggalkan. Andre menatap heran, mengapa harus di tempat seperti itu juga.


"Biasanya di tempat ini cendrung memiliki pendukung yang lebih kuat, aku bisa tahu dari aura tempatnya. Tapi kau jangan khawatir tidak ada satupun makhluk yang akan mengganggu kita. Kau hanya harus fokus dan pergi ke tempat yang sebelumnya kau datang ke sana." Pak Arman masih menjelaskan meski sudah bisa dilihat sendiri jika Andre tidak begitu tertarik.


Keduanya berjalan dan duduk di salah satu ruangan, beralaskan tikar bersih yang entah mengapa bisa ada sebuah tikar di rumah itu. Namun Andre menebak jika Pak Arman mungkin sering melakukan sesuatu yang tidak diketahuinya di tempat itu.


"Duduklah lagi. Dan pejamkan mata mu. Kau harus fokus dan mencari pintu itu. Hanya dengarkan kata-kata ku saja." Tampak menegangkan, bagi Andre yang sudah berapa kali masuk ke dunia itu namun rasa takutnya masih sama tidak ada yang berubah.


Ketika Andre duduk dia merasa sesuatu seperti mulai melingkarinya, Pak Arman tampak melafalkan bacaan mantranya, Andre tidak tahu apa itu namun mungkin perlu dilakukan.


Selanjutnya Andre merasa kini sesuatu yang banyak tengah melihat ke arahnya, dari sudut manapun Andre merasa dia tidak aman, terancam, perasaannya penuh dengan rasa takut yang tiba-tiba datang.


"Fokuslah, Lupakan perasaan itu. Jangan melihat apapun yang tidak perlu kau lihat, dan abaikan apapun yang perlu kau abaikan. Tutup mata mu, batin mu sendiri yang akan menemukan pintu itu." Pak Arman diam lagi beberapa saat.

__ADS_1


"Mulailah!" Ucapnya.


Andre langsung menutup mata dia melihat sesuatu yang tampak silau di matanya. Namun ketika dia membuka mata semua penglihatannya sudah berubah. Dia yakin sudah masuk ke dimensi lain. Namun sekarang tempatnya berbeda, mungkin karena tempatnya juga berbeda.


__ADS_2