Dunia Mu

Dunia Mu
Bagaimana Jadinya?


__ADS_3

Semua pasang mata hanya bisa menangis, memalingkan wajah untuk menyembunyikan tangisan yang seketika memecah.


Kali ini siapa yang harus bertanggung jawab? Gadis yang sudah direnggut kebebasannya dan sekarang harus menanggung sendiri beban dari kesalahan yang dilakukan oleh seorang Ayah.


Tri adalah anak yatim memiliki saudara bernama Sri, dulu Ibunya masih muda sekali karena janda menikah dengan seorang lelaki yang terpaut usia 7 tahun. Terbiasa hidup satu rumah dengan seorang figur Ayah membuat rasa sedih sebagai anak yatim perlahan terobati, keakraban yang langsung dibangun tak perlu memakan waktu bertahun-tahun, karena sikap Pak Tarman yang terbuka dan gampang bergaul juga penyayang pada keluarga bisa membuat hati kedua orang gadis sebagai anak sambungnya bisa menerima Pak Tarman dengan mudah.


Cerita keharmonisan Ayah sambung dan dua gadis bahkan menjadi cerita yang sangat diidamkan oleh banyak Ibu janda, siapapun pasti sangat bersyukur karena kehadiran Ayah sambung menjadi pelengkap bagi keluarga kecil.


Dan itu hanya berlangsung sekitar beberapa tahun sampai Tri berusia 17 tahun saat itu. Siapa yang tahu kematian tak mengenal waktu datang menjemput dan membawa pulang untuk selamanya. Tinggal bersama Nenek dari kecil bahkan tidak bisa menggantikan sosok ibu yang sangat dia rindukan dalam setiap waktu dan helaan napas. Dan rasa kehilangan juga dirasakan oleh Pak Tarman sebagai suami yang sudah bersama lebih dari 7 tahun.


Hari-hari sunyi terpaksa harus dilalui, dua gadis yang dulunya periang kini menjadi murung. Berbagai cara dari mulai kesibukan yang dilakukan di luar rumah, tapi saat harus kembali pulang dan menyaksikan atap rumah yang dulunya juga pernah menjadi saksi kehidupan Ibunya, Saat di dalam rumah Tri tetap saja akan murung dan bersedih lagi dalam waktu yang lama. Semua kenangan seperti jelas terhirup di setiap napasnya.


Tri memang bekerja keras saat Ibunya meninggal dia akan senang hati berdagang keliling menjajakan makanan, sedangkan di rumah hanya tinggal Sri dan Neneknya.


Tapi siapa yang mampu menebak, kehidupan anak yatim piatu akan berujung dengan kisah yang sama. Sri meninggal saat dia tiba-tiba mengalami gangguan jiwa, sekarang di hadapan semua orang yang menyaksikan Tri harus bernasib sama. Sebenarnya kesalahan apa yang sudah diperbuat oleh kedua anak yatim piatu sampai-sampai mereka harus mengalami kisah yang tak pernah bisa mereka pilih sendiri untuk kebebasannya.


Isak tangis pasangan suami istri yang tak lain adalah anak Pak Rais sahabat dari Pak Tarman nampak tak berhenti juga, terutama alasannya karena mereka dua yang paling tahu dengan keluarga Tri dan Ibunya. Tentu saja membuat seolah mereka yang paling mengerti bagaimana itu perasaannya.

__ADS_1


Di sisi lain Andre masih membisu, kedua matanya tampak dingin memandangi lantai keramik rumah sakit yang berwarna putih itu. Bukan hanya mereka saja, di sini yang merasakan kesedihan termasuk Andre tapi kesedihan itu bercampur dengan perasaan kesal yang selalu ia pendam di hadapan orang-orang. Andai saja jika dia bisa menghentikan perlakuan biadab Pak Tarman saat pertama kalinya tahu, pasti tidak akan pernah ada insiden seperti ini yang harus membuat Pak Rais meninggal juga. Tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur bukan?


Ada satu hal lagi yang belum Andre jelaskan, yaitu tentang Pak Tarman yang sudah melakukan kekejian pada Tri.


"Kenapa ya, Pak Tarman kok tega ninggalin Nak Tri, apa masalahnya antara Pak Tarman dan Bapak kok sampai bisa sebesar ini?" Celoteh Istri dari Pak Dean yang masih sesenggukan.


Andre hanya bisa menundukkan wajah, dia tidak sanggup mengatakan alasan yang sebenarnya kali ini dia hanya mampu menghindar dalam sedikit waktu saja.


Sani yang memperhatikan semua orang seolah hanya dia yang saat itu merasa dirinya paling tidak bisa peka, di matanya orang-orang sudah menangis sedangkan dia hanya bisa berdiri mematung.


"Pokoknya kita harus cari Pak Tarman sampai ketemu Pak! Aku gak tega sama Neng Tri." Ucap lagi Istri Pak Dean. Sebuah pernyataan yang hanya bisa membuat Sani melongo bingung. Padahal yang sudah membunuh orang tua mereka adalah Pak Tarman harusnya mereka dendam atau ingin sekali memberikan pelajaran dan tuntutan mati sekalian.


"Sabar Bu. Sekarang yang terpenting berdoa untuk Bapak dulu. Semoga saja beliau tenang dan masalahnya akan kita tuntaskan segera." Balas Pak Dean sambil menenangkan Istrinya itu.


Sepasang suami istri itu tak hentinya memandangi Tri sambil terus meratap sedih.


"Kasihan banget kamu Tri, Kok malah ngalamin kayak gini sama seperti De Sri waktu itu."

__ADS_1


Mendengarnya entah mengapa seketika Andre mempunyai asumsi lain. Andre berpikir jika perlakuan biadab dan kekejian Pak Tarman pertama kali dia lakukan pada Sri yang tak lain adik dari Tri. Tapi di sisi lain Pak Tarman yang paling semangat untuk mencari sebab kematian Sri dan sering menuduh jika rumah sakit jiwa itu yang sangat bersalah seolah ada sesuatu yang disembunyikan di sana. Andre cukup bingung, dia tidak bisa menerka-nerka sesuatu yang kesannya juga belum pasti. Tapi apakah itu mungkin? Sangat mungkin terjadi. Untuk saat ini kasus itu masih tersimpan rahasia.


"Nak Andre, antar Bapak besok ke Pak Polisi yang waktu itu ke rumah. Bapak penasaran karena belum bertanya tentang semua kasus pembunuhan ini." Tiba-tiba pernyataan itu menyerang pikiran, Andre yang tadinya melamun tenang langsung seketika merasa terbakar di dadanya, dia merasa takut dan ragu karena apa yang akan terjadi dengan kedua orang ini setelah tahu bagaimana alasan sebenarnya dari polisi? Pasti mereka sangat murka dan bisa lebih murka padanya yang tidak menceritakannya lebih dulu.


"Nak Andre!" Panggil lagi Pak Dean untuk kedua kalinya. Pak Dean berusaha menarik kesadaran Andre yang tampak bingung.


"Ke kantor polisi?" Cetus Andre nampak syok.


"Antar Bapak ke sana ya!" Ucap Pak Dean kembali menegaskannya, sambil menepuk pundak Andre.


Seketika rasanya bagi Andre dunia sedang berputar sangat cepat, bagaimana dia akan mengantarnya ke kantor polisi? Karena polisi pun akan bertanya padanya tentang kesaksian yang belum dia jelaskan sepenuhnya itu.


Seketika suasana yang tak begitu bersahabat membuat hati Andre sangat tidak tenang. Apa yang akan terjadi di hari esok? Entahlah dia sendiri tidak bisa menghadapinya.


"Nak Andre barang kali mau istirahat, bisa pulang dengan Bapak dulu biar Ibu di sini menemani Neng Tri." Saran Istrinya Pak Dean.


Andre tak bisa menjawab, karena jika pulang ke rumahnya Pak Dean keadaan akan semakin sulit untuknya, dia belum siap untuk mengatakan segala hal.

__ADS_1


__ADS_2