
Setidaknya satu beban lepas dari dalam pikirannya. Tentang Sani dia sudah sadar lagi seiring berjalannya waktu, setelah banyak insiden dan drama selama di tempatnya sekarang membuat Andre ingin cepat-cepat pergi setelah menyelesaikan masalah. Tujuannya tak lain kembali berkunjung ke rumah neneknya yang sudah ditinggalkan cukup lama.
"Semoga masalah ini yang terakhir." Batin Andre. Sambil menarik napas Andre mengumpulkan semua niat dan keberaniannya lagi, hanya tinggal satu langkah dia sekarang harus siap bertemu dengan para polisi tadi.
Andre sudah yakin dengan niatnya, dia akan mengatakan semua tentang Anis pada polisi. Saat menuju lobi rumah sakit langkah Andre terhenti, di depannya yang lumayan berjarak beberapa meter ada polisi dan dokter yang mengurus Sani sedang saling berbicara. Andre memutar bola matanya merasa heran, hatinya yakin pasti ada sesuatu hal lain dari pembicaraan uang mereka lakukan.
Seharusnya dulu setelah mendengar pernyataan dokter tentang Sani, Andre tidak diam diri saja dan mengabaikannya setidaknya dia harus memanfaatkan situasi dengan banyak mencari informasi lain, siapa yang tahu jika dokter sama baik dengan petugas tadi yang akan membantu.
Sekarang Andre sudah bisa menyimpulkan dugaan bahwa jika dokter itu cukup berpihak, setidaknya terdengar mungkin. Tanpa ragu Andre berjalan dan menghampiri polisi juga seorang dokter yang langsung menghentikan obrolan dan balas menatapnya dengan tajam.
"Maaf pak! Saya sudah siap." Ucap Andre menengahi obrolan antara polisi dan dokter yang langsung terhenti karena kedatangannya.
Dokter itu langsung melihat heran ke arah Andre, tapi tidak berlangsung lama dia mengabaikannya lagi.
"Rekan saya ada di lobi, silahkan menyusul ke sana sekarang." Sarannya yang kemudian Andre langsung menyetujui tanpa berpikir lagi.
"Dia keluarga pasien saya, sepertinya ada hal penting dengan Bapak, apa alasannya karena keluarga (pasien)?" Tanya dokter sebelum mengakhiri obrolan.
"Saya merasa ada yang ingin disampaikan pemuda itu tentang kasus perawat yang bunuh diri." Jawab polisi itu.
"Baiklah silahkan diselesaikan, semoga saja dia bisa membantu penyelidikan bapak." Ucap dokter tiba-tiba ingin segera menyudahi obrolannya. "Saya juga mau melanjutkan perawatan dengan pasien sepertinya." Jawabnya lagi sambil memandangi jam di pergelangan tangan kiri.
"Baiklah, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya saya berharap pihak rumah sakit bisa bekerjasama dengan pihak kepolisian." Tegasnya kembali mengingatkan.
"Tentu saja Pak, silahkan saya tidak akan menghalangi apapun tentang penyelidikan." Jawaban dokter meyakinkan.
"Baiklah terimakasih atas pengertiannya." Kemudian polisi menjabat tangan dokter dan segera disambut lalu pergi menyusul Andre yang sudah lebih dulu pergi.
Dokter juga kembali masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
"Aku harus mengatakan semuanya." Tekad Andre yang masih mengatur langkah kakinya berjalan menyusuri satu persatu ruangan.
Meski sudah berusaha untuk mengumpulkan keberanian tapi tetap saja, Andre masih merasa gugup dan takut salah mengatakan apapun yang malah sebaliknya mengecewakan kepolisian.
Tak terasa lamanya berjalan kini Andre sudah melihat rekan polisi tadi dari kaca berada di dalam ruangan menunggu. Andre langsung menggerakkan handle pintu dan pintu terbuka.
Baru saja masuk dan menyaksikan sepasang mata polisi yang melihat ke arahnya, membuat hati Andre terhenyak kaget. Dia tidak bisa mengelak jantungnya yang berpacu tidak normal dari mulai Andre melangkahkan kaki mendekat ke petugas yang sudah dari tadi menunggu.
"Maaf pak saya ada urusan sebentar." Ucap Andre terlihat sangat tidak enak.
"Silahkan duduk di sini." Usulnya.
Andre langsung menurut dan duduk di kursi.
Tok...tok...tok
Terdengar suara pintu diketuk.
"Baik, sekarang kita lanjutkan di kantor polisi. Bapak dimohon untuk ikut jika untuk menyampaikan kesaksian atau hal lainnya."
Andre sedikit berpikir, dia bingung jika harus ikut ke kantor polisi karena pasti itu menjadi bahan pertanyaan Pak Tarman. Bagaimana caranya nanti untuk menjelaskan?
"Bagaimana pak?" Tanya polisi lagi membuat Andre terperanjat.
Andre menganggukkan kepala pelan dan menyetujui usulnya.
"Apa tidak masalah?" Batin Andre yang mengekor di belakang kedua petugas kepolisian menuju mobil dinas.
Di sepanjang jalan dia terlihat semakin gelisah, bukan hanya takut menjadi saksi tapi juga dia takut jika kesaksiannya sampai terdengar oleh Pak Tarman dan malah menjadi masalah.
__ADS_1
Tanpa sadar sebenarnya masalah terbesar adalah Bapak pemilik kosan yang seperti sudah mencium bau penyelidikan dari polisi. Kemungkinannya penyelidikan sekarang juga sudah disadari oleh pemilik kosan. Dan bagaimana nasib Andre? Dia tidak cukup beruntung jika harus berhadapan lagi dengan makhluk seperti dalam mimpinya itu.
"Silahkan turun Pak!" Instruksi polisi yang dilihat Andre sudah keluar dari mobil. Entah karena terlalu memikirkan masalah yang membuat Andre tidak bisa fokus dan tanpa sadar terasa begitu cepat dia sudah berada di halaman kantor kepolisian terdekat lagi.
Andre menyambut instruksi polisi dan mencoba menarik napas dengan tenang, mengatur kewarasannya dan tujuan utama yang harus dia lakukan dari sekarang.
Satu persatu dia melihat sepasang mata yang menatap bergantian ke arahnya. Semua petugas kantor berseragam polisi dan suasana formal yang bagi Andre adalah kali pertama dia berkunjung.
Andre berjalan mengikuti kedua orang polisi yang sudah datang bersamanya dari tadi. Dia mulai canggung dan tak hentinya merasa gugup, masuk ke dalam ruangan yang menurutnya adalah ruangan khusus.
"Sekarang semua kesaksian Bapak akan saya rekam dan catat. Silahkan untuk mulai." Sebutnya mengawali penyelidikan.
Andre diam bingung, pertama apa yang akan dikatakannya? Beragam alasan muncul secara acak menjadi potongan ingatan Andre yang masing-masing berkaitan dengan Anis.
"Bisa kita mulai sekarang?" Ucap polisi kembali menyadarkan Andre yang beberapa saat melamun.
"Anis, perawat dari rumah sakit itu." Ucap Andre. Berat rasanya harus merangkai setiap kata yang terbelit di lidah, membuat kata yang diucapkannya terputus-putus.
"Saya akan mulai dari pertanyaan dan tolong dijawab dengan sejujurnya!" Timpal polisi yang sama mulai mengintrogasi Andre. "Apa saudara kenal dengan Anis sudah lama?" Tanyanya.
Terdengar pertanyaan pertama yang langsung membuat setiap katanya menghentak hati Andre.
Tidak boleh ragu-ragu bukankah dari awal dia tidak berniat berbohong lalu mengapa harus gugup atau takut?
"Saya bertemu Anis saat pertama kali datang ke sini." Jelas Andre.
Obrolan terus berlangsung panjang, tidak ada satupun pertanyaan yang menyulitkan bagi Andre, semua tentang yang dia tahu dan sudah disampaikan dengan sebenarnya.
"Pesugihan?" Tanya polisi terdengar kaget.
__ADS_1
Andre merasa bersalah sudah mengatakannya.
"Kasus seperti itu tidak akan menang di pengadilan dan tidak pernah ada kasus yang mempermasalahkan sampai ke ranah hukum tentang hal seperti itu. Kamu tahu? Karena kasusnya tidak pernah ada bukti yang menguatkan." Terang seorang polisi yang sudah menjawab semua masalah Andre. Dia tahu memang jika hanya bermodalkan kesaksiannya saja itu tidak cukup. Dan sekarang apa artinya sudah berakhir?