
"Cepat bawa mobilnya!" Perintah Pak Arman pada Andre.
Andre cukup kikuk dengan permintaan Pak Arman. "Baiklah..." Andre segera berganti tempat duduk karena desakan Pak Arman.
"Sani dalam masalah dan Bapak yakin dia tidak baik-baik saja." Ucap Pak Arman menjelaskan.
"Jadi dia benar-benar tersesat, tidak tahu apapun?" Tebak Andre dalam hati, tanpa mendengarkan jawaban dia langsung tahu situasi yang terjadi.
"Sekarang kita akan pergi kemana?" Tanya Andre segera. Namun Pak Arman masih sibuk memandangi layar hp nya.
"Pak!" Tegur Andre karena tidak mendapatkan respon juga.
"Neng Sani belum mengirimkan lokasinya, harusnya dia masih bisa ditelpon." Ucap Pak Arman.
Reaksi Andre berubah, dia lebih memiliki naluri yang cukup tajam. Tentang Sani karena dirinya sudah meyakini jika masalah ini bukanlah hal yang biasa.
"Bapak bisa cari Sani kan?" Tanya Andre ketika dia sudah bersiap akan mengemudikan mobil.
Pak Arman menghentikan kesibukan, diam sejenak diam dan tampak tenang. "Seharusnya bisa." Tegasnya.
Andre mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Pak Arman, sama halnya seperti yang pernah dilakukan nenek ketika mencarinya saat itu, persis ketika dia ada di suatu tempat yang tidak bisa ditemukan dengan mudah.
__ADS_1
Ilmu semacam itu tidak bisa disepelekan, dan mungkin sekarang hanya orang-orang tertentu yang bisa menguasainya. Andre ingat betul Neneknya pernah mengatakan jika secara batin dalam alam bawah sadarnya roh mereka benar-benar bisa pergi dalam waktu dan dimensi yang diinginkan, sulitnya hanya ketika roh itu harus kembali mencari tempat untuk pulang. Hanya mendengarkannya saja Andre sudah bisa menebaknya, seseorang dengan kemampuan itu memiliki resiko untuk tersesat di dimensi dan waktu yang berbeda. Sama seperti ketika dirinya memasuki dunia lain.
Andre tertegun mencerna kembali apa yang dipikirkannya baru saja, andai itu benar mungkin kejadiannya sama seperti ketika dia masuk ke dalam dunia lain, memang keadaannya sulit untuk bisa pulang bahkan setelah beberapa kali dia juga tidak tahu mengenai caranya.
"Hey. Astaga." Andre menggerutu karena Pak Arman masih belum menjawab. Dia harus kembali sabar dan tenang menunggu seperti sebelumnya.
"Aku tidak tahu kemana perginya Sani." Tiba-tiba Pak Arman dengan napas yang tersengal dia bicara pada Andre.
"Kau harus melakukannya!" Ucap Pak Arman.
"APA?" Andre langsung membulatkan mata tanda tak mengerti. Melakukan apa? Menurutmu apakah itu? Andre masih tidak bisa mempercayainya.
"Ayolah. Kita harus menemukan Sani. Kau pikir apakah dia pantas untuk tetap dibiarkan saja?" Jawab Pak Arman yang tak kalah kekehnya.
"Sani ya? Aku sampai lupa sesuatu." Batin Andre. Dia kini membayangkan detik-detik tadi. Sebuah kenyataan yang tidak akan dia lupakan lagi Mulai dari sekarang.
Tentu saja Sani dan bayangan Ayah Sani membuat dada Andre terasa sakit saat itu juga. Dia tidak bisa membayangkan harus menolong seseorang seperti Sani?
"Kau sudah sadar sesuatu rupanya." Gumam Pak Arman ketik melihat tingkah Andre.
Andre berbalik nampak tajam melotot ke arah Pak Arman. Di mata Andre dia dan Pak Arman bukanlah dua orang yang sedang mengobrol, karena ada banyak makhluk yang menjijikan dan membuat Andre tidak bisa tahan tinggal di dalam mobil.
__ADS_1
Andre tiba-tiba membuka pintu mobil. Namun tangan seseorang mencegahnya saat itu.
Licik sekali, Andre mulai sangat marah dan tidak bisa menerima jika dalam sepihak seperti ini artinya dia benar-benar dipaksa untuk ke dalam dunia lain.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Andre tidak begitu panik saat dia sudah masuk ke dalam dunia lain. Apa yang dilakukan Pak Arman tidak bisa dimaafkan, harusnya dia meminta izin namun seenaknya membuat Andre masuk kembali ke tempat yang sempat dia bayangkan tadi.
Andre kemudian berdiri, tempatnya benar-benar seperti ruang waktu yang sangat mengerikan. Andre merasa dia sudah masuk ke dalam dunia lain, dan khasnya dimensi ini tidak memiliki langit yang sama seperti di dunia manusia.
Setengah frustasi membuat amarahnya semakin tertanam dalam di dadanya. Untuk apa sebenarnya dia melakukan semua ini, lalu biarkan Sani dimanapun dia harusnya tidak membuat dirinya peduli. Untuk sejauh ini, untuk waktu yang sudah dibuang percuma, dan mereka terus-terusan memanggil nama satu sama lain, melakukan banyak hal, bahkan Andre pernah berpikir untuk tidak pergi dari sisi Sani, mengkhawatirkannya karena kenyataan yang dia ketahui. Apa salahnya semua itu.
Andre benar-benar terpuruk, sekarang hatinya terjebak dengan semua bayangan yang perlahan satu demi satu membuat dia muak untuk mengenangnya. Tidak ada yang lebih membuatnya menjadi sesuatu yang paling buruk, karena mengenal Sani dan perempuan itu juga memanggil ayah kandungnya dengan sebutan Ayah. Itu artinya Sani adalah saudaranya sendiri?
Lamanya melamun sampai mungkin Andre tidak sadar sekarang dia benar-benar ada pada dimensi apa, dia hanya diam tidak melakukan apapun. Bahkan ketika suara Pak Arman yang terdengar memanggil, baginya itu bukan apa-apa. Baginya tidak ada satu suara pun yang terdengar, dia tidak bisa peduli untuk sesuatu yang sudah membuat keluarganya hancur.
Tapi mengapa alasan di balik semuanya harus berhubungan dengan Sani, andai saja itu bukan Sani. Mengapa sekarang Andre berpikir anak dari wanita pelakor itu adalah Sani, kenapa harus dia?
Waktu terus berlalu, ada begitu banyak makhluk bermunculan dan mendekat. Andai saja Andre tahu, bagi makhluk itu kedatangannya tak lain adalah makanan renyah yang bisa membuat dia selamanya tidak bisa kembali. Andai saja dia tahu kenyataan itu. Namun apa yang akan terjadi? Andre masih tidak peduli dan berdiam diri saja.
Orang lain tidak akan pernah tahu sekeras apa dia harus berusaha untuk semuanya, dia harus melupakan trauma yang datang dan pergi melalui pikirannya. Dia harus berjuang untuk tetap hidup meski amarahnya terus tersimpan.
Dan bayangkan saja pada waktu yang sama, pada saat dirinya sudah bertekad untuk melupakan trauma itu, menghapus masalalu dengan menghadapinya. Namun, kenyataan tak seindah langit malam yang berhiaskan bintang, tidak seindah itu. Bahkan lebih buruk dibandingkan wajah-wajah dari para makhluk yang terus mendekatinya.
__ADS_1
Tiba-tiba Andre mengangkat wajah, tatapannya yang tajam dan sudah tampak bercampur dengan amarah tak berarti. Dia melihat satu persatu makhluk yang terus berdatangan dan mungkin akan mengepung dia di tempat itu. Entah apa yang terjadi dengan dirinya, kekuatan itu tampak sudah ada di kepalan tangan, dan dalam hitungan ketiga Andre langsung menyerbu mereka semua, berteriak sejadinya, melawan mereka semua sekuat tenaga, tak peduli bahkan jika itu ada ratusan, dia tidak peduli. Amarahnya mengalir bersama suara dari setiap teriakannya, dan dari setiap tenaga yang dia keluarkan melalui otot nya.
Apa yang akan dilakukannya sekarang?