
Berat rasanya menyusun sebuah rencana yang dia sendiri tidak yakin jika rencana itu bisa berakhir baik. Tapi setelah tahu dari sebuah mimpi yang mungkin memang sengaja ingin diberitahukan padanya membuat Andre tak punya pilihan lain.
Sekarang mungkin tidak banyak yang bisa membantu terutama dia akan menyusun segala rencananya sendirian. Andre hanya butuh seseorang untuk memergoki aksi biadab Pak Tarman pada Tri. Siapapun selain Sani. Jelas Sani sudah tahu tapi dia tidak terlalu peduli kan.
Lantas siapa yang akan Andre jadikan sebagai saksi dari perbuatan Pak Tarman.
"Nenek sepuh." Batin Andre seolah memberinya sebuah petunjuk besar. Apakah nenek sepuh sudah cukup untuk memberikan pengaruh dan menghentikan Pak Tarman?
Andre terdiam lagi berpikir cara lain. Karena dia tidak mungkin melibatkan Nenek sepuh dalam rencananya.
"Pak Rais." Cetus batinnya.
Andre sedikit merubah raut wajahnya yang dari tadi terlihat bingung dan murung, tapi setelah rencana yang sudah dibayangkan oleh isi kepalanya membuat dia sedikit bisa bernapas lagi. Sekarang yang harus dilakukan hanya mengarahkan Pan Rais pada waktu yang tepat untuk memergoki aksi Pak Tarman. Itu sudah cukup kan?
Kali ini rencana sudah dia pegang, tinggal satu langkah untuk melakukannya.
Jujur saja meski Andre merasa gemetar yang hebat hingga ke ujung jari-jari tangannya tapi dia tidak bisa sedetikpun lupa dengan banyak kejadian yang sudah dia ketahui itu. Andre tidak ingin membiarkan Tri bernasib sama, dan itu yang dimaksudkan oleh Sri padanya agar Andre bisa menolong Tri, membebaskan Tri dari ancaman dan kendali Pak Tarman.
Tak ingin menunggu waktu lagi, Andre sudah bangkit dari duduknya. Dia bersiap untuk melakukan rangkaian rencana utama.
__ADS_1
Pertama Andre harus memastikan jika Pak Tarman benar bermaksud ingin melakukan rencana itu. Tidak sulit, Andre hanya harus mengintip seperti yang dilakukan oleh Sani. Semoga saja rencana awal ibu berhasil.
Baru langkah lanjutannya Andre tinggal memanggil Pak Rais dengan dalih yang tidak mencurigakan. Tidak mungkin jika dia langsung memberitahukan maksud pada Pak Rais. Kalau saja rencananya sesuai hak itu memang lebih mudah, tapi bagaimana jika Pak Tarman lebih dulu peka dan menutupi diri dengan berbohong pada Pak Rais. Dalam masalah ini Andre tidak dibutuhkan, karena hanya dia yang akan mengalami rugi karena ulah Pak Tarman.
Setelah menimbang dan berpikir beberapa saat menimbangnya menjadi sebuah keputusan yang akan dia lakukan. Andre melangkahkan kaki, mengendap di balik pintu. Saat pintu terbuka matanya langsung tertuju pada pemandangan teras rumah di seberangnya yang berjarak tak cukup jauh.
Saat ini Andre mengatur napas lagi, mencoba menahan perasaan gemetar untuk melakukan suatu kebaikan yang hanya bisa dilakukan olehnya. Ingat saja itu untuk menolong seseorang maka Andre bisa leluasa untuk melakukan rencananya agar bisa berhasil.
Satu langkah pelan kakinya menginjak tanah, jangan ditanya bagaimana perasaannya saat itu. Andre sangat merasa takut tapi disisi lain lebih kasihan pada Tri. Apa yang akan terjadi jika saja rencana ini berhasil dan dia terpergok oleh Pak Rais, apakah Tri akan malu?
Baru saja melangkahkan kaki Andre langsung diam lagi, perasaannya menjadi bimbang padahal itu tidak boleh dilakukannya.
Anggap saja jika ini untuk kebaikan Tri dan atas permohonan Sri. Sudah itu saja, Andre hanya perlu memastikan apa yang dilakukan oleh Pak Tarman kan.
Ada satu hal lagi yang membuat Andre bertanya-tanya, tentang roh waktu tadi ternyata tidak terlihat lagi. Entah kemana perginya.
Harusnya dalam jarak itu Andre sudah bisa memastikan ke arah rumah apa yang akan dilakukan Pak Tarman.
Saat matanya fokus melihat ke arah kamar Tri tiba-tiba pandangannya terganggu dengan kemunculan Sani yang hanya diam duduk sendirian di luar rumah.
__ADS_1
Andre mulai meneliti dengan pikiran lain yang tidak bisa tenang juga, melihat Sani yang berdiam diri seperti itu membuat dia bergidik ngeri.
Langkah kakinya terhitung meninggalkan sedikit jarak lagi.
Saat tenang sudut mata Andre tetap terganggu dengan keberadaan Sani, sesekali melihat ke arahnya. Dan kali kedua melihat Andre sudah kehilangan Sani, spontan dia tertegun diam mengatur napas dan memutar bola matanya ke setiap sudut dalam jangkauan tapi Sani tidak terlihat juga. Hingga saat dia menengadah melihat ke atas pohon rimbun nampak memperlihatkan sepasang kaki berayun menjulur dari ranting hingga ke bawah.
Seketika jantung terasa jatuh ke bawah sekaligus membuat kedua kakinya diam dan kaku tak bergerak. Sedetikpun Andre tak bisa berpikir jika penampakan itu bukan apa-apa dan anggap saja dia tidak melihatnya, tapi bagaimana bisa dia berpikir jernih saat matanya turun dia melihat sebuah rambut panjang terurai menyentuh ujung kakinya, mau tidak mau bola matanya bergerak mengikuti rambut yang sangat panjang dan terhenti pada pohon yang dilihatnya dari tadi.
Beberapa saat Andre masih tidak bisa bergerak, matanya kembali mencari penglihatan lain dari arah yang berbeda. Dan muncul lagi Sani nampak sudah berdiri diantara gang. Hampir saja dia kehilangan napasnya, mengapa Sani masih berdiri di sana? Andre tak menemukan sebuah jawaban yang masuk ke dalam logikanya itu. Apapun yang dilihat dia harus terbiasa memang dan mau tidak mau mungkin penampakan lain terus menjadi teman di waktu siang dan malamnya.
Sekali lagi Andre kembali menyusun kewarasannya. Menarik napas dalam-dalam dan membuangnya seiring dengan setiap masalah yang diharapkan bisa larut utuh ke dalam udara yang keluar mengalir melalui dia celah hidung.
Anggap saja bukan apa-apa, anggap saja tidak ada mereka, dan mereka tidak pernah bisa melihat keberadaan kita sebagai manusia.
Berulangkali dia berusaha menghapal dan terus mencoba tanpa kembali mengalihkan penglihatannya ke arah tadi.
Andre tak berharap jika saat itu dia masih bisa melihat penampakan mereka dengan sangat jelas seperti ini seterusnya.
.Tapi benar saja dengan dugaannya saat itu, sekarang dalam jarak yang tidak jauh dia bisa menerawang ke balik jendela kamar Tri. Ada siluet seorang lelaki dan pasti itu adalah Pak Tarman dan juga perempuan di atasnya yang tak lain adalah Tri. Bagaimana bisa dia membiarkan pergumulan yang dilakukan Pak Tarman, masalahnya jika mimpi tadi yang dia mimpikan adalah sebuah kebenaran maka Andre tak akan pernah lupa bagaimana dia akan sangat merasa bersalah karena sudah membiarkan semuanya terlanjur.
__ADS_1
Andre tak sanggup lagi harus menyaksikan sebuah adegan yang membuat napasnya sesak sampai rasanya ingin berhenti seketika saja. Tapi kaki dan tubuhnya kaku tak kalah gemetar takut untuk melangkah melakukan sebuah rencana yang sudah disusunnya matang-matang.
Bagaimana jadinya sekarang? Apa yang bisa dilakukannya?