
Jika dalam keadaan sadar dan setengah mengantuk, terkadang lebih banyak yang dibayangkan oleh pikirannya. Melihat jauh dalam gelapnya ruangan di baliknya terbayang sosok yang sedang menyeringai kan senyum, atau melihat ke setiap sudut tampak ada sesuatu yang duduk tertunduk di pojokan. Tidak ada pikiran yang normal.
Beberapa kali Andre berusaha agar membuat dirinya cepat tidur, setidaknya itulah pilihan baik untuk sekarang. Padahal matanya juga sudah tak tahan, namun setelah beberapa menit dengan sendirinya lagi dia tersadar. Menjengkelkan.
Berjalan lagi ke arah pintu dengan tubuh yang terhuyung membungkuk. Andre harus menemui Bapak penjaga itu, setidaknya sudah cukup menjadi teman di malam seperti ini.
Saat sudah berada dekat dengan pintu lagi-lagi ada sesuatu yang membuatnya terjaga. Jelas sekali kedua telinga Andre menangkap sebuah suara seperti seseorang sedang makan, namun suara orang tak biasa itu membuat bulu kuduknya berdiri. Ketika fokus mendengarkan sialnya suara itu langsung menghilang. Bukan merasa lega secara naluri Andre merasa jika sosok di balik suara itu tengah menyadari keberadaannya. Andre tak tinggal diam, dia segera mengambil langkah mundur secepatnya menjauhi pintu dengan perasaan kalut.
Kedua pasang matanya sekarang 100 persen terjaga, bukan halusinasi lagi dia jelas sekali mendengar langkah yang awalnya pelan teratur tiba-tiba seperti sesuatu yang cepat berlari menuju pintu di hadapannya.
Seketika Andre merasa sesuatu tengah berlari menyerbu pintu. Tubuhnya langsung tersungkur di sudut kasur, napasnya tak beraturan karena takut. Dan sebuah hantaman yang nyata menabrak pintu saat itu juga menambah perasaan Andre yang semakin kalut.
Seperti dobrakan yang disengaja, seseorang yang waras tak mungkin melakukan hal menakutkan seperti itu. Batinnya juga mengatakan jika itu bukanlah ulah dari manusia biasa, ada sesuatu di balik pintu kamar.
Beruntung sekali tak berlangsung lama, Andre menebak jika sosok yang tadi mungkin sudah pergi dari tempat itu.
Entah apa namun sesuatu yang ada di luar tadi bukanlah hal baik yang akan ditemuinya. Tiba-tiba ucapan Pak Arman terngiang jelas lagi di pikiran, Andre merasa karena itulah Pak Arman melarang dirinya dan Sani untuk turun dari kamar.
"Sani? Apakah dia baik-baik saja?" Gumamnya dalam hati setengah mati panik.
Andre berlari menuju anak tangga dia berniat untuk naik ke kamar atas dan memastikan jika tidak ada apapun yang terjadi dengan Sani.
Sesuai dengan nalurinya, Andre berjalan menaiki anak tangga hingga sampai di depan pintu kamar. Awalnya beberapa ketukan namun dia juga tidak mendapatkan respon. Andre ingin mencoba memutar kenop pintu, dia pikir akan memastikan tanpa meminta izin dulu, hanya melihat Sani saja sekilas tidak salahkan?
__ADS_1
Tangannya gemetar memegang kenop pintu, setelah diputar ke kiri ternyata pintu tidak dalam keadaan terkunci. Di dorongnya sedikit hingga pintu meninggalkan celah bagi Andre untuk bisa sedikit mengintip.
Sangat tenang, suasana kamar yang lampunya dalam keadaan mati. Sejauh yang Andre lihat tidak ada apapun di dalam sana, tidak membuatnya khawatir syukurlah.
Andre menghela napas lega kembali menutup pintu. Sani sudah tidur rupanya, hanya tinggal dia sendirian yang tidak bisa tidur di malam panjang seperti ini.
Andre tiba-tiba membayangkan apa yang akan dia lihat nanti setelah pagi di rumah ini, tentu saja sesuatu yang menakutkan dan mungkin bisa lebih dari itu.
Akhirnya dia duduk saja di samping kasur tidur sambil menunggu rasa kantuknya datang lagi.
Suasananya tenang, sangat hening, lampu kamar setengah redup menambah penglihatannya yang mulai samar menata satu persatu setiap inci ke setiap sudut ruangan. Andai saja tidak ada lagi kejutan yang datang, semoga saja.
Setengah sadar dan samar ada sesuatu seperti manusia mendekat, kaki dan tangannya bergerak seperti kucing dengan kepala mendongak terbalik ke atas. Seperti mimpi, sosok nyata atau bukan? Beberapa kali Andre mengerjapkan mata sambil menggelengkan kepala berusaha membuat dia tetap sadar. Sosok tadi tidak ada lagi, kemudian tanpa sadar Andre benar-benar tertidur bersandar di ujung kasur saat itu.
Seperti sekejap mata saja. Kedua mata Andre langsung terjaga sesuai dengan jam kebiasaannya bangun. Mungkin baru jam 5 subuh.
Andre segera bangun, dia duduk melamun sambil mengamati ke arah lantai. Seingatnya tadi malam dia tertidur di bawah lantai itu.
Matanya kemudian menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi, tepat sekali sesuai dengan dugaannya.
Beberapa menit dia duduk, sekedar mengatur napas dan mengumpulkan kesadarannya. Yang paling pertama muncul lagi adalah ucapan Pak Arman, dia sudah berjanji akan pergi.
Andre segera turun dari kasur sekaligus merapihkan kasur dan malah berjalan bolak balik ke arah pintu keluar, matanya juga tidak diam terus menoleh ke arah pintu dan tangga.
__ADS_1
Bimbang, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dan sesuatu terjadi secepat cahaya. Pandangan Andre memudar seolah memberinya aba-aba seperti sedang menuju masuk ke dunia lain lagi.
Benar saja kali ini yang tampak di depan jendela sudah jelas memperlihatkan sosok aslinya. Bayangan yang dia lihat tadi malam mungkin karena ulah sosok yang sama. Meski tirai belum dibuka tapi sosok itu jelas menempel seperti cicak di atas jendela. Jika diingat lagi sosok itu sama persis seperti yang dia lihat dalam setengah kesadarannya tadi malam. Mengejutkan, karena bukan hanya satu yang berada di tempat itu namun ada begitu banyak nya sampai-sampai Andre mungkin tak bisa melihat celah.
Kakinya gemetar, perasaan takut yang dia rasakan dulu ketika awal-awal mendapatkan penglihatan itu kini dia alami dan rasakan lagi. Padahal dia sadar sudah berapa lama dan dia juga tidak ada dalam usia kanak-kanak, namun Andre masih tak bisa terbiasa juga.
Andre masih berdiri tak bergeming namun suara Pak Arman membuyarkan saat itu.
"Nak Andre!" Setengah berbisik di balik pintu, terdengar cukup nyaring bagi Andre.
Andre diam saja dan tampak menghembuskan napas berat. Dia tahu apa artinya panggilan itu untuknya, karena saat ini juga Andre harus menepati janji kan?
Langkahnya yang gontai dan pelan menghampiri pintu, karena pintu terkunci Pak Arman tidak bisa langsung masuk.
Ketika mendekat pintu matanya tertarik ke arah kertas yang menempel. Dia tahu kertas itu apa, entah mengapa nalurinya langsung mengatakan jika kertas itu semacam kunci pembatas agar tidak ada yang bisa masuk. Sekarang tanpa harus bersusah payah mencari tahu atau bertanya Andre sudah mengerti tujuan dari larangan Pak Arman itu.
Ceklek...
Pintu dibukanya saat itu.
Wajah Pak Arman langsung tampak cemas. "Cepat... cepat! Sekarang kamu bisa pergi." Ucap Pak Arman memberitahu untuk kedua kalinya lagi.
Sebagian besar hatinya masih enggan, menolak ketika Pak Arman mengatakan hal itu. Namun apa daya, apa yang bisa dia lakukan setelah mengatakan janji pada Pak Arman.
__ADS_1