
"Mati." Gumam Andre lirih. Kesadarannya seperti langsung melayang, berharap jika dia tidak lagi mengenang Ira yang juga mati karenanya. Sekarang dia sudah bisa menebak bagaimana publik akan membicarakannya lebih dari tersangka karena kematian Sani?
Padahal masalah Anis juga belum selesai.
"Nak Andre! Andre!" Panggilan yang terus diserukan pada Andre.
"Bagaimana Pak?" Tanya Andre saat terperanjat dari lamunannya. Melihat ekspresi Pak Rais dia sadar mungkin sudah melewatkan obrolan mereka.
"Maaf, Pak. Aku melamun." Sambung Andre menyesal.
"Jawaban dari Nak Andre sendiri gimana? Kita baiknya sekarang langsung ke rumah sakit aja?" Ucap Pak Rais dengan ejaan yang pelan.
Andre menundukkan kepala. "Sepertinya begitu Pak, saya ngikut aja." Balas Andre. Segenap pikirannya masih tidak bisa tenang, perkataan Pak Rais terngiang-ngiang belum lagi bayangan masalah Anis, sampai sekarang dia tidak bercerita tentang masalah itu pada Pak Tarman dan keluarga. Bagaimana jadinya jika Pak Tarman tahu?
"Nak Andre. Ayo kita pergi sekarang!" Ajak Pak Rais lekat memperhatikan gerak-gerik Andre.
Andre berdiri mengikuti dua orang tua yang berjalan di depannya, sampai detik itu dia tidak bisa fokus dan tenang. Baru pertama kalinya Andre harus berurusan dengan polisi, dengan kasus kematian, dengan masalah kecurigaan yang dilatari dari kematian Sri adik dari De Tri.
Tiba-tiba De Tri berlari melewati Andre hampir saja tubuhnya bertabrakan. Andre melihatnya heran, begitupun Pak Rais dan Pak Tarman. "Sudah biarkan! Kita pergi sekarang saja." Saran Pak Tarman yang menjelaskan bagaimana menyikapi Tri. Jelas-jelas Andre melihat Tri menangis, tapi mengapa dia menangis?
"Tri memang selalu keberatan untuk mengungkap kematian adiknya, Sri. Dia selalu yang paling bersikeras untuk menghalangi dari dulu alasannya yaitu, Tri tidak ingin mempermasalahkan Adiknya yang sudah meninggal tak wajar." Bener Pak Rais dengan mata sendu memandangi punggung Tri yang sudah berlalu ke kamarnya.
__ADS_1
"Kita izin dulu dengan Nenek! Saya dari tadi tidak lihat Nenek." Ucap Andre saat teringat Nenek sepuh yang juga tinggal di sana, memang sampai saat terakhir Nenek sepuh tidak juga terlihat.
"Udahlah gampang, nanti juga Tri yang cerita dengan Nenek." Pak Tarman terburu-buru menjawab seolah dia tak ingin sedikit saja waktu di jeda.
"Benar, biar nanti Tri yang bicara, kita fokus saja untuk pergi ke rumah sakit. Takut-takut terlambat." Timpal Pak Rais sambil menghela napas.
Walau pikiran tentang Nenek itu mengganggu Andre tapi apa boleh buat dia tidak bisa memaksakan kehendak.
Akhirnya Andre kembali mengikuti kedua orang dari belakang. Saat keluar dari rumah sudut matanya mengintip lagi pada sosok sepuh yang Andre tebak itu bukan manusia. Tapi kali ini pakaiannya berbeda. Andre tidak terlalu menggubris apa yang dilihatnya kali ini, bahkan dengan tenang dia berjalan melewati penampakan yang berdiri di depannya. Bagaimanapun saat ini dia harus fokus dengan kasus Sani, hanya saat ini saja kan.
Sebelum pergi ke jalan raya Andre akan melewati gang keluar dari arah rumah Pak Tarman. Sepintas pikiran tentang Anis kembali mengingatkannya lagi, harusnya kan dia tenang tapi Anis seperti terlihat di depan mata saat tadi melihat Andre dari gang yang sudah dilaluinya. Sebaiknya jika ada waktu Andre memutuskan untuk mencari Anis.
"Mudah-mudahan kali ini kita bisa mengungkap kasusnya, saya terlalu geram dengan kejadian di masalalu kasihan Sri sudah lama sebenarnya dia meninggal dan itu tanpa ada kejelasan dari pihak rumah sakit sampai saat ini." Pak Rais kembali mengungkit tentang Sri di hadapan Andre. "Nak Andre, rencana kalau temannya sudah pulang dari rumah sakit itu apa Nak Andre akan segera pulang?" Tanya Pak Rais masih mengajaknya bicara.
"Keluarganya belum ada yang datang kesini? Gak ada yang menghubungi sama sekali?" Pak Rais terkejut saat mendengar penjelasan Andre.
Andre sampai lupa jika dia juga belum cerita soal Sani dan keluarganya, tapi berbohong pun tidak mungkin. Andre hanya menggelengkan kepala membalas pertanyaan Pak Rais.
"Kok seperti itu, memangnya sebab Sani dibawa ke rumah sakit itu gimana?" Sudah bisa ditebak jika pertanyaan Pak Rais akan langsung mengarah kesana dan paling membuat Andre bingung untuk menjawab. Andre terdiam bingung dia harus mengatakan kasus kematian Ira di desanya? Dan semua karena dia, kan.
Andre menarik napas, dia sadar jika kebohongan tak akan memberikannya apapun yang ada hanya masalah yang bertambah. Dengan berharap jika penjelasan yang diutarakannya bisa membuat siapapun orang yang mendengarkan mengerti, itu saja Andre tak ingin membayangkan cara berpikir mereka terhadapnya dari sudut matanya sendiri.
__ADS_1
"Udah Rais jangan banyak tanya, kita fokus saja sekarang. Apa kamu pikir rencana ini akan mudah?" Pak Tarman berhasil membuat obrolan Pak Rais dan rasa antusiasnya berubah.
"Aku kan hanya nanya, cuman ingin tahu aja." Celoteh Pak Rais yang sepertinya merasa tersinggung. Justru pertanyaannya itu selalu membuat jantung Andre berdebar saja, sekarang Andre merasa beruntung karena Pak Tarman menyelamatkannya.
"Kamu jangan kepo. Udah kita lanjut jalan aja!" Ajak Pak Tarman yang tidak peduli dengan perasan Pak Rais.
Akhirnya Andre merasa lega.
"Sebentar lagi kita sampai, sebelum pergi kesana kita amati dari sini dulu." Ucap Pak Tarman.
Andre melongo tak percaya saat melihat dia sudah berada di salah satu kios di sana, jarak kios dan rumah sakit tidak begitu jauh cukup untuk mengamati semua gerak-gerik di rumah sakit dan sepertinya memang itu yang direncanakan Pak Tarman.
"Rais, sekarang kamu bicara rencana kita!" Ucap Pak Tarman.
"Kok aku, aku kira sampean sudah punya rencana dari tadi. Kan yang paling bersemangat kan situ, nah ini malah nyuruh-nyuruh orang." Keluh Pak Rais. Andre tahu Pak Rais masih belum siap. Jadi kesimpulannya pergi tanpa rencana dan persiapan apapun.
Andre menghela napas, dia tak mengerti mengapa tindakannya ini terburu-buru. Kalau saja menunggu sampai waktu yang dijanjikan tiba, baru mencari rencana dan bertindak jika saja petugas rumah sakit mangkir dari janji. Nah ini?
"Udah kita amati saja dari sini!" Ucap lagi Pak Tarman.
Pak Tarman dan Pak Rais, mereka berdua mengamati dari kios melihat ke arah rumah sakit. Sedangkan Andre hanya duduk diam, dia bingung apa yang sedang dilakukan kedua orang tua yang dari awal sangat bersemangat mengajaknya sampai ke tempat ini.
__ADS_1
Andre menengadah mengedarkan penglihatannya ke arah jalan raya.
Keramaian di sana masih memperlihatkan sesuatu yang sama, kali ini Andre tak akan berkomentar lagi dengan sosok yang masih berdiam diri di tengah jalan, sama seperti waktu itu.