Dunia Mu

Dunia Mu
Kecemasan


__ADS_3

Jika dalam keadaan hening seperti ini membuat keduanya canggung juga.


Andre berhenti di sekitaran jalan dimana tempat itu hanya lahan kosong taman kota. Diantara banyak kursi yang kosong Andre duduk di sana dengan Sani, pandangan Andre yang tertunduk saja dari tadi sangat berbeda jauh dengan yang dilakukan Sani karena dari tadi dia tampak sibuk melihat ke kiri lalu ke kanan. Heran rasanya jika terus berdiam diri saja di tempat itu tanpa orang lain, Sani tak biasa dengan suasananya.


Beberapa saat Andre memang Hanya diam saja, dia tidak tahu harus melakukan apa dan tidak bermaksud membawa orang lain ke tempat yang menjenuhkan seperti itu. Perasaannya hanya tak kuasa, terus menahan amarah dan kesalnya yang membuat dia bingung dan tidak nyaman serba salah.


"Dre, kok di sini sih?" Protes Sani yang sudah tidak tahan karena suasana dan juga sikap Andre saat itu.


"Cepet deh kita nyari tempat lain aja gimana?" Sani masih merengek.


Baru Sani mengatakan itu Andre cepat mendongakkan kepala menatap Sani yang kesal. Andre sedikit berdecik kesal.


"Aku mau pulang kampung kamu bawa sendiri aja mobilnya." Seru Andre sambil menyerahkan kunci mobil ke tangan Sani.


"Eh, apaan ini?" Sani tampak terkejut dibuatnya. Dia merasa sudah bersikap salah. "Maaf... Udahlah cepet balik bareng aja!" Sani bersikeras mengejar dengan panik karena Andre yang begitu saja pergi tanpa menyebutkan pasti alasannya.


Andre tak bergeming dia lalu berhenti dengan raut wajah yang sangat muram, bahkan Andre tak sedikit pun menatap Sani saat itu.


Merasa sangat kikuk dengan tingkah Andre, Sani langsung terdiam seribu bahasa dia merasa ada sedikit masalah dan sebaiknya Sani diam saja, itu pilihan yang lebih baik.


Ragu-ragu Sani ingin mengatakan sesuatu, dia sangat takut kali ini entah apa yang akan dilakukan Andre apakah lebih dari sekarang?


"Sebaiknya kamu pikirkan lagi, masa mau pulang kampung sekarang? Setidaknya udah cukup uang dan punya sesuatu buat keluarga." Tegur Sani, logisnya memang seperti itu. Tidak mungkin Andre harus pergi dengan kondisinya yang tak baik seperti sekarang. Tidak memiliki apapun juga.


Andre menghela napas, mungkin itu tanda hatinya juga sedikit melunak bukan.


"Maafkan aku, kita kembali ke mobil." Lirih Andre saat itu.


Sani menyerahkan kunci mobil yang tadi sempat dia berikan.

__ADS_1


Seberapa jauh dia pergi, seberapa lama dia harus berdiam diri, mencoba berdamai dengan suasana hatinya yang kian terpuruk saat itu. Andre sampai tak tahu bagaimana dia harus bersikap lebih baik dan kembali menggunakan logikanya untuk mengambil keputusan.


Bayangan orang yang sama terus saja muncul lagi di pikiran. Entah sampai kapan, ketika Andre menyetir membawa mobil dimanapun bayangan itu terus muncul.


Tak terasa sudah beberapa tempat dia datangi, itupun memang karena keinginan Sani untuk berhenti di beberapa tempat seperti pergi ke minimarket, ke salon, terakhir ke apotek. Dan waktu sudah hampir Maghrib.


"Eh udah sore aja. Langsung pulang sekarang?" Tanya Sani. Seharusnya Sani tidak bertanya seperti itu kan.


Andre tersenyum. "Terserah saja kan mau kemana juga." Kata-kata Andre terdengar sudah melunak.


"Udah balik aja yuk capek!" Keluh Sani di dalam mobil.


Sesuai keinginan Sani Andre bersiap pergi ke rumah untuk pulang. Meski keadaan hatinya masih tidak tenang dan tak menentu tapi dia juga tidak bisa membuat orang lain direpotkan oleh masalah pribadinya sendiri.


Beberapa kali Sani memperhatikan Andre dari tadi yang hanya diam saja, Sani juga tidak mengoceh seperti biasanya dia hanya perlu sedikit diam dan melihat situasi. Jika dipikirkan lagi dia harus bersyukur karena ada orang yang mau berteman dengannya. Ia karena dia tidak mempunyai banyak teman apalagi jika itu dari tempat tinggalnya, hanya karena Isyu ayahnya melakukan pesugihan banyak orang dan para tetangga yang enggan bicara apalagi kenal.


Merasa terkejut mendengar pernyataan Sani, dia mengatakannya dengan sangat jujur hal tersebut membuat Andre ingin menghargainya.


itu


"Wah sampai dituduh yang tidak-tidak ya." Jawab Andre dengan sedikit senyum.


Respon Andre membuat Sani semakin yakin jika orang yang ada di hadapannya bukan orang biasa, setidaknya dia harus memiliki teman yang mengetahui segala tentangnya.


"Miris ya, padahal aku sendiri gak sangka dan gak tahu kalau ayah melakukan pesugihan. Tapi orang lain kok nyangkanya kaya gitu." Timpal Sani.


"Abaikan saja, Gak penting kan!" Ucap Andre enteng seperti dia tidak mempermasalahkan sesuatu yang dipikirkan orang lain tentangnya.


"Apa kamu takut?" Tanya Sani, sebenarnya Sani ingin tahu apa Andre memang tidak seperti yang lain.

__ADS_1


Andre langsung tertawa renyah seolah itu adalah lelucon.


Sani terdiam mengamati dia tak mengerti apakah Andre benar-benar tidak tahu kalau dia sudah bicara jujur.


"aku sebenarnya pernah melihat banyak sesajen di kamar bawah." Ucap Sani. Baru Andre berhenti tertawa.


"Menurut hati mu sendiri bagaimana, apakah kamu percaya dengan cerita orang-orang?" Andre balik bertanya.


Padahal Andre tahu jika di rumahnya itu memang ada sesuatu yang tidak baik, ada semacam hubungan tidak baik di sana dan apa yang dikatakan Sani benar jika sesajen itu dan semua tradisi di rumah masih berjalan sampai sekarang. Tapi tidak penting apakah itu ayahnya atau orang lain yang dengan sengaja melakukan hal keji seperti itu, Andre hanya berniat untuk menyelamatkan Sani dari bahaya yang mungkin sudah mengincar.


"Sebaiknya kamu gak percaya hal itu, nenek aku pernah bilang jika kamu mulai memercayai sesuatu maka hal itu akan terjadi menjadi kenyataan." Bagaikan orang bijak Amdre mengatakan kembali pepatah Neneknya dulu. Padahal dia hanya ingin membuat Sani agar tidak terlalu memikirkan semuanya sendirian.


"Kalau ayah melakukan pesugihan, untuk apa dia melakukannya?" Ucap Sani lirih.


"Mulai lagi. Udah deh kok kamu yang jadi ribet kaya orang-orang." Ledek Andre yang tertawa seolah hal seperti itu bukan Maslaah besar baginya.


Sani menoleh melihat sikap Andre.


"Udah nyampe tenang, sampai dengan selamat kan." Ucap Andre sengaja mengalihkan perhatian Sani saat itu.


Sani menoleh dan melihat gerbang rumahnya di depan. Benar saja kali ini sudah sampai dan sudah lewat Maghrib harusnya dia tidak boleh keluar rumah atau datang di jam seperti ini kan?


"Non Sani, dari mana saja? Maghrib baru pulang cepet non masuk!" Ucap Pak Penjaga rumah sambil melihat Andre khawatir. Gerak-gerik nya juga cukup mencurigakan.


"Semua keperluan Non sudah Bapak siapin di atas, pokoknya kalian jangan keluar kamar dan turun ke bawah ya, seperti biasa!" Ucapnya dengan nada cemas.


Andre sedikit menatapnya heran tapi ketika melihat Sani yang menurut saja apa boleh buat dia juga mengikuti pilihan Sani dan langsung pergi ke lantai atas bersama.


Meski Andre memang tidak bisa melupakannya ada apa di rumah Sani?

__ADS_1


__ADS_2