
Entah sejak kapan kedekatan itu berlangsung, Andre yang sudah tahu beberapa hal tentang Sani, begitupun sebaliknya Sani yang tampak tak canggung lagi.
"Kau lupa diet ya?" Tanya Andre yang masih tenang ketika menggendong Sani di punggungnya.
"Aku tidak bisa diet tinggal bersama Bu Ratih, Pak Dean, dan juga istrinya membuatku nyaman bisa makan rumahan berbukan-buka " Jawab Sani. Andre langsung menebak jika Sani mungkin terbiasa makan dan minum yang dibeli atau dipesannya.
"Menyedihkan sekali. Bahkan aku saja jago masak, bagaimana dengan mu?" Tanya Andre yang masih bersemangat untuk mengobrol.
"Kau memang suami idaman." Puji Sani yang langsung tertawa.
"Malu gak?" Goda Andre.
"Gak perlu lah, lagian siapa juga yang mau mengajarkanku masak rumahan. Sepertinya tidak ada waktu." Jawab Sani manyun yang bersikeras mempertahankan asumsinya.
"Harusnya kau bisa masak, menyediakan makanan. Menyedihkan sekali." Timpal Andre. Sani hanya manyun saja mendengarkan kata-kata itu, yang paling tidak bisa diterima adalah kata-kata Andre yang menganggapnya terlalu menyedihkan. Namun jika Sani mengingat dengan jelas bagaimana cara hidupnya selama ini, hal itu membuat dia sedih sendiri.
Sani diam lagi bahkan Andre, keduanya tampak sibuk dengan sesuatu yang mereka pikirkan masing-masing.
Tapi jika diam lagi seperti ini ingatan itu pasti menyerangnya. Andre sangat lelah, menjalani hidup dengan bayang-bayang masa lalunya.
"Andre, lu mau kerja gak?" Tanya Sani tiba-tiba.
Andre langsung berhenti, menegaskan kembali apa yang dia dengar dari Sani.
"Udah ya, Lu kerja aja sama gua. Kerjanya enak tinggal antar jemput aja." Tutur kata Sani tampak memaksa Andre untuk tetap bersamanya dengan alasan bekerja.
Sebenarnya Andre sudah sedikit tahu masalah keluarga Sani, dia sedikit iba dan tak ada pilihan.
"Gaji nya gede ya, pokoknya cukup buat nyewa kosan sama makan, jajan, belanja." Jawab Andre enteng.
"Idih, segitu aja udah? Gampang!" Sani tak mau kalah. Memang dengan kekayaan Ayahnya bukan hanya hal sesepele itu, tentu saja Sani bisa langsung menyanggupinya.
__ADS_1
"Baguslah, pokoknya kerjanya harus enak." Tawar Andre.
"Banyak maunya banget." Gerutu Sani.
"Pokonya kerja enak gaji gede, kan sesuatu banget." Andre masih saja basa-basi.
"Udah turun!" Sani meminta Andre aga mau menurunkannya. Sesuai permintaan Sani Andre langsung berhenti dan menurunkan tubuh berat yang cukup membuat pegal pinggang Andre. Setelah turun Andre langsung meregangkan badannya.
"Lebay banget, baru gitu aja!" Ledek Sani.
"Cari taxi dong!" Tak hentinya Sani memang mengandalkan Andre, ketika dia mengajaknya untuk bekerja Sani langsung menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
Andre tak begitu keberatan, dia tidak akan mengeluh karena tentu saja hal seperti itu kan yang diinginkan Sani darinya.
Ketika berjalan beberapa langkah ke depan, Andre merasa penglihatannya sekarang sudah normal kembali. Dia tertegun beberapa saat ketika menyadari ada begitu banyak penampakan yang dilihatnya di depan mata. Andre merasa ada sesuatu yang aneh, padahal selama dia tadi di dekat Sani mereka tak menampakkan diri.
"Hey cepat dong!" Teriak Sani memang seenaknya.
Satu kali menarik napas, Andre berusaha menyeret kakinya memberanikan diri berjalan diantara tatapan sinis makhluk tak kasat mata. Satu hal yang harus dilakukan Andre ketika tak sengaja berpapasan dengan mereka, sepeti yang sudah dikatakan neneknya pantang sekali Andre merasa takut karena itu semua makhluk tak kasat mata tidak bisa menyadari keberadaannya dan juga kemampuannya. Ketika sekarang Andre baru paham maksud dari perkataan Nenek.
Beruntung sekali hanya butuh beberapa menit sebuah mobil taxi sudah terparkir.
"Udah ada, cepet lari!" Teriak Andre berharap Anak agar segera berlari dan naik taxi.
Sekarang giliran Andre, dia juga bisa bersikap angkuh seperti yang Sani lakukan. Andre langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu Sani terlebih dulu.
"Idih, berlagak banget maen masuk aja, gak bisa ya nunggu tuannya." Sindir Sani bagaikan seorang anak kecil di mata Andre, alhasil Andre tak tahan dan terkekeh sendiri.
"Jalan Mas! Orang gila jangan terlalu diperhatikan!" Sani memperingatkan. Tapi sebenarnya dia sedang bercanda.
Akhirnya hanya tinggal sebentar lagi, maka Sani akan kembali ke rumah yang telah lama dia tinggalkan.
__ADS_1
Sani masih ingat ketika reaksi Ayahnya di rumah sakit, tidak ada yang normal bahkan Ayah memang sudah tidak memperlakukannya seperti seorang anak. Normalnya yang Sani bayangkan adalah kekhawatiran Ayah karena Sani sudah cukup lama pergi, namun nyatanya tidak karena perhatian Ayahnya sudah sepenuhnya teralihkan.
Sudah 20 tahun ketika Ayahnya kembali. Namun tetap saja berbeda, semua sangat berbeda, Sani kadang merasa ragu jika dia adalah anak kandung dari Ayahnya, menyedihkan memang seperti yang dikatakan Andre.
"San, masih kuliah?" Tanya Andre tiba-tiba membuyarkan lamunan Sani.
"Masih, belum lulus. Sedih sekali jangan tanya soal kampus." Sani tampak tak nyaman, entah bagaimana kehidupannya tapi Sani tidak cukup bersyukur, dengannya yang mempunyai kekayaan namun dia tidak cukup pandai bersyukur.
"Enak banget ya bisa kuliah." Ungkap Andre.
"Mau kuliah juga? Boleh kok." Ucap Sani spontan seperti tidak perlu dia pikirkan.
Padahal Andre tidak bermaksud seperti itu.
"Gak gitu juga kali. Mana bisa aku nanti bayar hutang sisa kuliah." Jawab Andre yang tidak berharap banyak.
"Serius loh. Kalau mau kuliah harus jadi temen aku ya! Pokoknya jangan mikirin biaya, gampang!" Sani sudah mulai berusaha membujuk lagi Rendra.
"Yasudah kalau gak mau." Sani kembali menarik kata-kata nya karena Andre yang tidak begitu merespon.
"Eh anu, maksudnya, maksud aku gak punya uang sebanyak itu untuk kuliah. Lagian udah bersyukur banget udah bisa bekerja juga." Andre berusaha memperbaiki kata-katanya, dia tidak berharap Sani berpikiran seperti tadi.
Sani diam lagi sesaat, sebenarnya Andre sangat canggung ketika dekat dengan Sani. Apalagi Andre tahu jika Sani bukanlah orang biasa, dia orang kaya raya dengan materi yang banyak. "Apa seharusnya aku tolak saja soal kerja?" Batin Andre bimbang.
"Akhirnya sampai juga." Seru Sani tampak menghela napas lega. Andre langsung kembali mengalihkan perhatiannya.
"Sani benar-benar kaya." Ucapnya dalam hati. Serasa ingin berdecak kagum sekarang Andre tak menyangka bisa memasuki rumah yang mewah semudah itu. Benar apa yang dikatakan temannya dulu jika Sani bukan orang biasa.
Namun ketika gerbang dibuka Andre benar-benar melihat pemandangan yang langsung membuat matanya terbelalak. Halaman luas bagaikan istana, pembantu yang banyak sudah menyambut kedatangan mereka. Mobil perlu melewati jalan yang cukup panjang sebelum sampai di depan rumah yang begitu megahnya.
Andre tak berhenti mengamati sekeliling yang benar-benar membuatnya takjub.
__ADS_1