
"Jadi sekarang rencana Nak Andre ini mau berkunjung lagi ke rumah sakit?" Tiba-tiba pertanyaan Pak Tarman mendominasi seolah itu adalah pertanyaan semua orang.
Andre langsung menghentikan suapannya, melihat ke setiap ekspresi dari masing-masing orang.
"Ya, saya mau ke sana!" Ucap Andre.
"Saya akan ikut Nak Andre pergi!" Pak Tarman kembali mengambil keputusan sepihak.
Andre sampai tersedak mendengarnya. "Pergi ke rumah sakit?" Tanya Andre tidak percaya.
"Biar saya antar Nak Andre." Tegas Pak Tarman yang langsung mengambil keputusan tanpa persetujuan Andre.
"Ia Nak Andre ini kan orang baru, kasihan biar kami bantu selama disini." Timpal Nenek sepuh semakin membuat Pak Tarman yakin.
"Ah Bapak ini mau ngerepotin bukan mau membantu." Ucap Tri terdengar seperti guyonan karena yang lainnya langsung tertawa.
"Padahal aku harus ke kosan itu lagi!" Pikir Andre mulai merasa bingung.
Andre hanya diam dia tersenyum saja ketika orang-orang menatapnya.
Apa yang bisa dilakukannya jika sudah seperti ini Andre harus terpaksa menuruti kemauan dari Pak Tarman.
"Kalau saya ikut gimana?" Tiba-tiba pernyataan lain terlontar dari orang yang berbeda dan tak lain adalah teman dari Pak Tarman.
Andre hanya bisa membulatkan matanya.
"Ah kamu ngapain ikut, udah disini saja jagain Nenek sama Tri." Saran Pak Tarman, beruntung sekali karena sudah mewakili hati Andre.
"Ia nih, gimana sih masa kita berdua di rumah." Protes Tri.
__ADS_1
Setidaknya Andre bisa menghela napas lega karena tidak ada lagi orang yang ikut. Andre tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Pak Tarman nanti, maksud dari tujuannya pun dia tidak tahu apa.
"Mas, biar saya yang rapihkan piringnya." Ucap Tri dengan lembut. Andre sedikit terkejut dan langsung menyerahkan piring di tangannya.
Obrolan yang riuh dan akrab kembali terdengar, setelah makan orang-orang tetap mengobrol seperti keluarga meski keluarga itu tidak bisa dimengerti oleh Andre, kejadian semalam saja terus terbayang dipikiran Andre, jauh dalam hatinya masih merasa malu dan risih tapi apa yang bisa dilakukannya? Mungkin mereka memiliki alasan tersendiri yang tidak bisa dipahami Andre.
"Saya permisi mau ke kamar mandi!" Ucap Andre.
Orang-orang langsung mempersilahkannya pergi.
Andre berjalan ke kamar mandi yang tidak jauh, karena setelah keluar dari pintu itu pintu kamar mandi langsung terlihat.
Andre memutar handle pintu dengan pelan, dan matanya langsung melotot kedua kaki yang tadinya ingin pergi ke kamar mandi langsung berhenti. Andre tepat melihat sosok menakutkan yang berhenti di depan wajahnya atau mungkin sosok itu memang ada di sana. Andre kembali menutup pintu, mengatur napas yang masih kaget. Dia memang belum terbiasa dengan sosok astral seperti itu, bagi Andre mereka terlihat sama dan sulit membedakannya.
"Loh Mas udah ke kamar mandinya?" Tanya Tri heran karena Andre yang terus saja diam mengatur napas di luar.
"Gak jadi, saya mau langsung pergi saja." Ucap Andre membalas pertanyaan Tri. Dia juga langsung kembali ke ruangan tadi.
"Ia Pak sekarang saja sudah jam 08.00 pagi." Balas Andre padahal jauh dalam hatinya dia sangat tidak berharap harus pergi ke sana bersama Pak Tarman. Tapi harus bagaimana lagi.
Andre terpaksa pergi menyeret kakinya keluar dari rumah itu. Saat pikirannya tenang di luar pintu langsung terlihat Nenek-nenek yang sama di sana. Kalau tidak salah Tri pernah menyebutkan sosok dari Nenek-nenek itu dan melarangnya untuk berpapasan. Entah kenapa tapi Tri memberi peringatan seolah sosok Nenek-nenek akan menyulitkan.
"Kita mau naik motor?" Tanya Pak Tarman.
Andre langsung menggelengkan kepala. "Ah terlalu dekat pak! Olahraga!" Ucapnya sambil tersenyum. Pak Tarman setuju dan langsung berjalan di belakang Andre.
"Sebenarnya teman Nak Andre ini sudah lama sakitnya (gila)?" Tanya Pak Tarman membuka obrolan sepanjang keduanya berjalan.
"Tidak juga Pak, awalnya Sani baik-baik saja dan baru dua Minggu yang lalu Sani dinyatakan mengalami gangguan jiwa." Jelas Andre apa adanya.
__ADS_1
"Kok bisa ya, sebelumnya ada kejadian yang membuat Dek Sani trauma?" Tanyanya lagi.
Andre terlihat menarik napas. "Temannya meninggal dengan tragis, kebetulan keduanya tersesat di dalam hutan." Jawab Andre masih terus terang. Tapi sepertinya Andre tak berniat untuk menutupi kejadian itu pada sekarang ini.
"Tersesat di hutan? Kok bisa sampai seperti itu? Kalian lagi kemah?" Tebak Pak Tarman semakin antusias dengan ceritanya.
Andre berpikir lagi, dia bingung akan mengatakannya seperti apa karena sedikit perasaannya masih merasa cemas untuk mengatakan. "Em. Tidak kemah Pak." Ucap Andre singkat kemudian dia terlihat berpikir lagi. "Kami semua kebetulan datang ke suatu desa, di sana banyak yang terjadi termasuk dengan Sani dan temannya."
"Kayaknya rumit. Bapak gak bisa mengerti ada kejadian selain kemah yang bisa seperti itu. Apa mereka sengaja datang ke hutan? Atau seperti apa?" Pak Tarman masih saja terus bertanya seolah belum ada niat untuk menghentikan kata-katanya.
"Saya juga bingung pak. Mungkin karena tempatnya angker kejadian apapun bisa terjadi." Andre mengatakannya sesuai yang dia tahu bahwa hutan itu memang angker di desanya.
"Oh pantas saja. Kalau boleh bapak saran nih gimana temen Nak Andre dibawa ke Pak Kyai saja, takutnya ya itu bukan sakit jiwa melainkan karena ada gangguan lain." Jelas Pak Tarman terdengar memberikan saran.
"Dokter itu juga mengatakan yang sama. Sani memang tidak gila, tapi apa?" Batin Andre yang masih bingung.
"Saya harus bawa Sani pulang sepertinya Pak!" Ucap Andre.
"Kalau menurut keluarganya gimana? Apa sudah kamu sarankan cara lain selain dirawat di sana?" Perkataan Pak Tarman seolah langsung masuk tajam ke dalam otaknya, Andre masih tidak tahu apakah keluarganya sudah bisa ditemukan atau tidak? Setahunya tidak ada petunjuk untuk menemukan keluarganya itu.
"Sepertinya saya harus bawa Sani pulang duku pak, saya pikir keluarganya bisa mengurus Sani lebih baik." Andre memberikan alasan yang terdengar logis menurutnya.
"Apa mau Bapak bantu aja?" Ucap Pak Tarman.
Mendengarnya Andre langsung membalikan wajah melihat keseriusan Pak Tarman.
"Bapak bisa bantu sedikit-sedikit itu juga kalau Bapak bisa." Ucap Pak Tarman yang di mata Andre sedang berusaha merendah entah memang Pak Tarman seperti orang bisa atau seperti apa?
"Saya sangat berterima kasih karena terus dibantu Pak!" Ucap Andre.
__ADS_1
"Nah gak kerasa kan, sekarang kita bersiap pergi ke rumah sakit." Seru Pak Tarman terlihat lebih antusias dan semangat darinya.
.Padahal Andre tak ingin duku pergi ke rumah sakit itu, dia ingin pergi ke tempat Anis.