Dunia Mu

Dunia Mu
Akhirnya semua tersampaikan


__ADS_3

Andre masih duduk di tempat yang saat itu dia akan menyelesaikan tugasnya sebagai saksi utama kasus ini. Dihirupnya dalam-dalam udara yang masuk ke hidungnya, sampai saat ini rasanya masih sama, seperti sedang bermimpi di siang hari. Hatinya masih terus bertanya mengapa ada begitu cobaan yang terjadi pada orang-orang yang begitu baik padanya, sampai saat ini juga pikirannya masih menolak untuk menerima kenyataan yang terjadi. Tapi mau tidak mau untuk saat ini bukan saatnya lagi bagi Andre untuk tetap larut dalam perasaannya.


"Saya tinggal begitu lama di rumah keluarga Tri, dengan kebaikan dan sikap yang terbuka membuat saya begitu nyaman meskipun saya memang orang asing. Saya seperti merasa satu keberuntungan yang sangat baik untuk hidup saya. Tapi saat itu, saya juga berpikir akhirnya tidak ingin melihat sesuatu yang seharusnya tidak saya saksikan. Jika harus memilih lebih baik saya diam saja dan tidak tahu apa-aoa sampai sekarang." Ucap Andre. Matanya masih menerawang dalam-dalam pada ingatan yang sudah berbaur di dalam pikiran Andre. Rasanya sangat begitu berat tapi memang bukan saatnya lagi untuk tetap diam.


"Saya kembali melihat kejadian itu di malam yang berbeda. Sontak seluruh kewarasan daya terasa dipermainkan, emosi saya tiba-tiba hilang kendali, dan membuat Saya mengadu pada Pak Rais. Saya berpikir tidak akan terjadi apapun jika kejadian ini diketahui Pak Rais dan saya pikir kejadiannya akan berakhir dengan rasa penyesalan saja. Kemudian semua baik-baik saja kembali." Terang Andre menceritakan semua isi hatinya saat itu, begitupun emosinya juga.


"Jadi Saudara memberitahukan semuanya pada Pak Rais? Malam itu?" Tegas polisi saat Andre tiba-tiba diam.


Andre menganggukkan kepala. "Saya memberitahukannya kemudian saya pergi bersama Sani, saya pikir tidak akan terjadi keributan apapun dan masalahnya tidak akan sebesar itu. Beberapa saat saya berniat untuk melihat ke dalam rumah karena saat itu tidak terdengar apapun, saat membuka gorden jendela Sani melihat Pak Tarman yang berlari dari arah rumah. Itu membuat saya penasaran. Dan saat kembali saya melihat semuanya." Perkataan Andre tertahan lagi, memang hati siapa yang sanggup untuk mengatakan kebenaran itu, apalagi dia sebagai saksi sekaligus orang yang ada di TKP dan melapor polisi.


"Pak Rais sudah meninggal di tempat, dan Sani membantu Tri untuk berpakaian setelah dia sadar." Andre seperti ingin cepat mengakhiri percakapannya itu. Dia tidak berniat untuk berbicara lagi karena semuanya sudah dia katakan tanpa ada yang dia rubah.

__ADS_1


Tak lama terlihat polisi memanggil rekannya untuk masuk, entah apa yang akan terjadi tapi saat itu Pak Tarman langsung dibawa sebagai tahanan ke dalam penjara.


Andre masih diam, meski semua beban kini sudah keluar, semua yang dia tahu sudah berhasil dia sampaikan. Di satu sisi Andre berharap jika Pak Tarman bisa menyesal dan mendapatkan hukuman yang adil, tapi di sisi lain Andre merasa tak tega. Namun melihat kasus ini bukanlah kasus yang biasa karena di dalamnya juga ada pembunuhan Pak Rais yang dilakukan oleh Pak Tarman.


Pan Dean kemudian masuk menyusul dan membawa Andre dengan dibantu olehnya untuk berdiri dan berjalan keluar ruangan.


Pak Dean tidak bertanya apapun saat itu, mungkin dia cukup paham dengan semua beban yang masih terlihat di wajah Andre.


"Kau baik-baik saja kan? Apa sekarang kita langsung pulang?" Tanya Pak Dean cukup perhatian pada Andre.


Saat berniat untuk pergi seorang polisi kembali memanggilnya, tapi Pak Dean berinisiatif untuk menggantikan Andre mendapatkan panggilannya itu. Tak mungkin kondisi Andre yang masih sangat terpukul dan hanya bisa diam setelah keluar dari ruangan tadi.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, polisi tadi hanya memberitahu akan dilakukan persidangan terutama karena memang kasus ini. Kamu diminta untuk menjadi saksi." Ucap Pak Dean yang langsung membuat Andre merasa sesak. Saksi apalagi Andre tak menginginkan jika kali ini dia harus datang di pengadilan. Apa yang akan terjadi lagi? Itu hanya semakin mengingatkannya pada perasaan bersalah yang cukup membekas di hatinya saat ini.


"Sebaiknya kita ke mobil dan pulang sekarang." Pak Dean langsung mengajak Andre untuk ke mobil. Kaki ini pasti Istrinya, Bu Ratih, dan Sani sudah menunggu lama di rumah Bu Ratih.


Pak Dean seperti biasa, dia tenang saat menyetir membawa mobilnya ke lintasan jalan dengan selamat.


Andre tak bisa berhenti memuji sikap Pak Dean saat itu terutama dengan sifat Pak Dean yang sangat tenang.


Andre duduk tepat di samping Pak Dean saat itu, tiba-tiba dia langsung menangis. Dnegan wajah yang datar dan pandangan kosong Andre menangis seolah sekarang adalah waktu baginya untuk merasa bersyukur karena semua beban sudah dia lepaskan, dan keharusan yang dia lakukan untuk membantu keadilan Tri sudah dilakukannya dengan puas, karena perasaannya itu Andre sampai menangis di samping Pak Dean.


Saat ini Andre tak begitu peduli meskipun dia seorang lelaki, dia juga tak peduli jika Pak Dean menyaksikan tangisannya.

__ADS_1


Tapi saat sedang menangis tiba-tiba pandangan Andre tertahan, dia melihat ke arah kaca yang mengarah pada jok di belakangnya, dari pantulan kaca itu memperlihatkan jika di dalam mobil juga ada Tri yang duduk menundukkan wajah. Andre tak terkejut lagi, yang ada perasaannya semakin meleleh seperti lilin saat terkena panas. Andre semakin merasa sedih saat harus menerima kenyataan bahwa Tri sudah meninggal dengan sebab yang belum sempat dia ketahui. Cukup hanya matanya saja yang melihat dan merasakan rasa sedih itu.


Tak membutuhkan waktu lama, mobil sudah diparkir lagi di halaman rumah Bu Ratih.


__ADS_2