Dunia Mu

Dunia Mu
Rahasia pintu lain di rumah Sani


__ADS_3

Seorang gadis kecil berlari senang tertawa dan hidup bahagia bersama lelaki yang kerap menjadi hantu menakutkan bagi Andre. Itulah Ayahnya yang sedang bahagia dengan keluarga baru. Bahkan Ayah tidak bertanya tentang kabarnya dan kabar Ibunya. Setelah Ayah pergi satu persatu orang-orang pergi dari hidup Andre, termasuk Ibunya.


Pedih sekali rasanya ditinggalkan seorang Ibu, apalagi kisah kematian Ibu yang membuat trauma itu menjadi mimpi rutin ketika malam sudah datang dan matanya terlelap tidur.


Andre membayangkan lagi tentang keluarganya yang hancur. Ayah yang tidak pernah datang lagi setelah pertengkaran itu, tapi tiba-tiba suatu hari membawa seorang anak perempuan yang usianya masih sangat kecil, memohon agar dibesarkan oleh Ibu. Seorang anak dari wanita lain yang dinikahi oleh Ayah, entah siapa Ayah tak pernah memperkenalkan keluarganya yang lain.


Rasa kecewa Ibu dengan Ayah, mungkin itulah alasannya Ibu selalu menjadikan Andre yang terbaik, lelaki yang bisa menghargai perempuan. Namun setiap hari Andre terus melihat lagi Ibunya yang membentak, memaki, bahkan Ibunya yang tak puas melayangkan pukulan ke tubuh Andre. Ibu Marah dengan tatapan mata yang sangat mengiris hati Andre sampai sekarang. Sorot mata yang tampak sangat putus asa, penuh dengan kesedihan yang dia pendam dan hadapi sendiri.


Andre masih ingat dengan jelas bagaimana Ibu yang frustasi begitupun Ayah yang berubah, Andre tahu alasan keluarganya hancur adalah karena perempuan lain. Namun penyesalan terbesar bagi dirinya bukanlah tentang hidupnya sendiri, bukan tentang Ibunya. Andre menyesal karena kehadiran dirinya sendiri tak bisa menghentikan hati Ibu yang sakit, Andre menyesal karena tidak membuat Ayah mengerti tentang keluarganya, Andre menyesal karena dia hanya diam saja sedangkan Ibu yang hatinya mati secara pelan-pelan. Akal sehatnya, kewarasannya mungkin sudah lama meninggalkan Ibu, hingga akhir hayatnya Ibu meninggal dalam kemalangan.


Lalu bayangan itu menyeret Andre kembali masuk ke dalam dunianya 20 tahun. Adegan dimana sosok hantu perempuan yang keluar dari ubun-ubun kepala Ibu. Seperti asap hitam namun tampak rambutnya panjang keluar dan Ibu pun meninggal.


"Ibu!"


Teriak Andre. Matanya melotot syok, Andre langsung menangkap langit-langit kamar yang berwarna putih dan sebuah lampu di atasnya. Andre kemudian duduk dan mengatur napas, mengambil napas dan mencoba berpikir tenang lagi. Mimpi yang benar-benar menakutkan. Entah sampai kapan dia akan dihantui oleh mimpi yang sama, padahal sudah 20 tahun berlalu.


Andre sekarang ingat, dia harusnya ada di dalam kamar Sani. Saat berbalik memastikan ternyata Sani sudah tidak ada di atas kasur. Andre langsung berdiri panik, apa karena dia sudah terlalu lama tidur?


Pintu menuju kamar Sani di lantai atas tertutup, pintu menuju ke lantai bawah juga tertutup. Andre mencoba mendengarkan dengan seksama memeriksa apakah Sani masih ada di sekitar.


Suasana benar-benar sepi, Andre menganggap jika Sani tidak ada di sekitar dan dia harus memastikan ke dua tempat yang berbeda dulu. Setelah memikirkan untuk pergi ke bawah Andre langsung ingat jika di rumah tidak ada siapapun kan? Ayah Sani juga sudah pergi keluar.


Tidak ada salahnya kan? Jika sedikit melihat-lihat tidak akan membuat dirinya bersalah, karena yang terpenting Ayahnya Sani tidak ada itu membuat Andre sedikit merasa lega dan leluasa.

__ADS_1


Andre kemudian membuka pintu dia akan turun ke bawah dan memastikan dari sana. Belum sempat turun Andre mengingat lagi jika ada baiknya memeriksa ke atas dulu. Ke kamar Sani.


Pintu ditutupnya lagi, Andre tahu jika di rumah ini banyak sekali hal yang tidak wajar, termasuk kamar Sani yang ada di lantai atas. Dan mungkin sekarang dia harus sudah siap dengan setiap kejadian yang akan terjadi, dia tidak perlu memikirkannya dan membuatnya rumit. Jika sudah waktunya pas dia akan mulai mencari tahu.


Andre sudah memapah kakinya menaiki setiap anak tangga dengan gemetar. Satu langkah naik ke atas bayangan muncul bersama dengan serangan sakit pada sebelah kepalanya lagi. Andre diam mempertahankan agar tubuhnya tidak limbung, terutama dia harus tetap tenang agar tidak sembarangan lagi masuk ke dunia mereka.


Hatinya sekarang ragu, rasa sakit di kepala semakin membuat dia sulit untuk fokus. Entah mengapa dia berpikir jika bukan saatnya untuk naik ke atas, dia tidak akan berhasil.


Dan tanpa diharapkan tubuh Andre benar-benar limbung hingga membuatnya terjatuh, beruntung sedikit tenaga membuat tangannya cepat berpegangan.


Andre masih berusaha untuk bisa sadar, namun matanya semakin buram, penglihatannya kabur.


"Andre!" Teriak Sani ketika melihat Andre yang sudah lemas duduk di tangga. Beruntung Sani sudah datang lagi dan menemukan Andre.


Saat itu mungkin kesadaran Andre berangsur hilang, dia tidak tahu jika wanita yang memapahnya ke atas kasur adalah Sani.


Masih dengan cemas Sani berlari lagi ke atas, ke kamarnya. Namun matanya menatap heran karena pintu sudah ditutup. Ditariknya handle pintu dan entah mengapa dia merasa sudah terkunci.


"Andre!"


"Kamu gak apa-apa?"


"Andre!"

__ADS_1


Teriak Sani memastikan.


"Buka pintunya jangan dikunci!"


Tidak mungkin ulah orang lain kan? Karena yang ada di dalam kamar hanya Andre seorang diri.


Beberapa kali Sani mengetuk pintu, namun pintu tidak terbuka juga.


"Pak! Minta kunci kamar ini!" Teriak Sani meminta penjaganya yang ada di lantai bawah. Tidak ada sebuah jawaban, Sani langsung ingat jika tadi dia menugaskannya untuk menghubungi dokter. Tidak ada cara lain selain dia mencari sendiri kunci itu.


Tidak membuang waktu Sani pergi lagi ke bawah, tepatnya dia mencari beberapa kunci yang biasa Ayah simpan di kamarnya.


Saat berjalan dengan langkah yang gesit dan cepat, Sani tidak memperdulikan jika Ayahnya pernah melarang Sani untuk pergi ke kamar, tapi memangnya apa yang salah?


Setelah di depan pintu Sani menatap sebuah pintu besar, dia mulai ragu apakah lebih baik mendengarkan cerita Ayahnya? Tapi tidak ada cara lain kan selain datang ke kamar Ayah mengambil kunci.


Sani masih ragu-ragu sebenarnya dia setengah ragu untuk pergi ke kamar Ayah, namun tangannya sudah bergerak dan menarik handle.


"Non!"


Sebuah panggilan yang menghentikan Sani saat itu juga.


"Non mau cari apa?" Tanya seorang penjaga yang tadi. "Jangan dibuka, Non!" Larangnya. Heran sekali Sani hanya bisa menuruti saja.

__ADS_1


"Tadi aku mau cari kunci kamar di atas, itu pintunya tiba-tiba ke kunci." Jawab Sani.


"Semua kunci ada di saya, ayo saya bantu." Akhirnya Sani langsung berjalan lagi ke arah tangga.


__ADS_2