
"Nek. Nek itu setan! Dia datang Nek!" Teriakkan Andre setiap kali melihat sosok yang tak kasat mata bagi orang normal.
Sejak usia 12 tahun setelah kematian Ibunya penglihatan Andre menjadi lain lagi, yang dalam istilahnya indigo. Beruntung Neneknya adalah orang yang cukup paham akan ilmu dan karena turun temurun juga dulu kakek buyut Andre juga orang yang biasa mengobati orang-orang. Sebuah kalung diyakini sebagai penangkal roh jahat dihadiahkan Neneknya untuk Andre, kabar baiknya kalung itu membantu Andre berangsur membaik hingga dia tidak lagi melihat penampakan yang tidak dilihat oleh orang lain.
Sekarang waktu sudah berlalu terlalu lama, Nenek Andre sudah sepuh juga dan itu berpengaruh pada fungsi kalung yang biasanya Andre pakai. Kejadiannya setelah Andre menolong Sani dan kembali pulang ke desanya.
Di kesempatan yang tak terduga Andre melihat benda yang dia miliki sama persis, padahal sebelumnya Andre pikir jika kalung miliknya adalah satu-satunya. Ternyata lain lagi.
Setelah melihat hantu dari gadis yang asyik di tengah jalan Andre bisa melihat hantu lainnya lagi, dia hanya bisa menghela napas dan memejamkan mata saat tak sengaja harus berpapasan lagi dengan sosok mereka.
Ternyata Andre cukup menyesal karena mempercayai perkataan Anis tentang kalung itu, kenyataannya sama saja tidak ada yang berbeda dia masih melihat dan semakin jelas menyaksikan mereka seperti melihat tajam ke arahnya.
Sekarang Andre harus meyakinkan diri untuk melepaskan kalung yang tidak berguna.
Kedua tangannya sudah siap melepaskan kalung yang ada di leher.
"Anggap saja ini sebagai kenang-kenangan, setelah dipakai jangan dilepaskan lagi ya Mas."
Kata-kata Anis terngiang lagi membuat Andre ragu dan menurunkan kedua tangannya.
Sebagian hatinya berasumsi jika kalung yang Anis berikan sedikit berbeda, buktinya saat malam tiba Andre tidak bisa melihat dan memiliki penglihatan seperti sekarang. Apa artinya?
Andre melanjutkan lagi jalannya, mungkin dia hanya perlu bertanya kepada warga mengenai kontrakan sementara untuk ia tinggali.
Saat berdiri di sisi kiri jalan matanya mengarah lagi ke seberang jalan di depannya, di sana adalah arah jalan menuju Anis hanya tinggal melewati jalan itu dan masuk sedikit ke dalam gang. Mengapa dia terpikirkan tentang Anis? Andre menggelengkan kepala dan berharap dia tidak lagi memikirkan Anis, anggap saja kejadian yang menimpanya kemarin malam tidak pernah terjadi dan dia tidak pernah bertemu dengan Anis, tekad Andre. Tapi yang benar saja? Bagaimana hal itu bisa terjadi jika saja kalung yang diberikan Anis masih menempel rapih di lehernya?
Matanya melihat ke sepanjang jalan dari arahnya, di sepanjang penglihatan Andre melihat rumah-rumah warga uang menghadap langsung ke jalan. Apakah dia harus menyusuri jalan itu untuk menemukan maksud dan tujuannya? Andre sedikit ragu tapi apa salahnya untuk mencoba.
__ADS_1
Setelah berjalan beberapa meter jauh Andre tidak pernah melepaskan penglihatannya ke samping kiri dan kanan, terlihat rumah-rumah di sana yang tertutup dan suasana masih sepi. Mungkin orang-orang tidak ada di rumah di jam pagi seperti ini? Atau orang-orang belum bangun?
Lelah rasanya sudah berjalan jauh hingga saat berbalik ke belakang Andre tidak melihat lagi toko yang paling dekat dengan jalan, kesimpulannya dia sudah cukup jauh berjalan. Andre menghela napas merasakan cape dan lapar, jika diingat-ingat lagi dia belum makan dari malam.
Saat berbalik Andre melihat seorang warga yang keluar dari gang kecil di pinggir rumah yang jaraknya beberapa langkah ke depan. Dengan antusias Andre mendekat bahkan dia berlari.
"Permisi Pak! Maaf Pak saya mau bertanya sesuatu." Sapa Andre lembut.
Kedua orang yang ada di hadapannya tidak langsung menjawab malah terus melihat Andre.
"Sudah dari mana? Sepertinya bukan orang sini ya?" Tanya satu orang yang terlihat lebih tua.
Andre tersenyum ramah. "Saya mencari kontrakan untuk tinggal sementara." Jawab Andre.
Kedua orang itu lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Andre langsung, dari tatapannya dan caranya berbicara membuat Andre mengerti. Tidak akan ada orang yang bisa langsung percaya dengan keadaannya sekarang, baju basah, penampilan yang berantakan.
"Rumah sakit yang mana?" Seseorang langsung antusias bertanya.
Di mata Andre kedua orang itu terlihat tertarik dengan pembahasannya terutama dengan rumah sakit yang di singgung tadi.
"RSJ cempaka raya." Jawab Andre dengan mata yang terus memperhatikan reaksi kedua orang di hadapannya.
"Ikut ya, ayo ikut!" Ajak keduanya kompak.
Melihat reaksi kedua orang itu membuat Andre bingung, dia juga merasa heran apa yang membuat mereka langsung bersikap seperti itu? Tapi Andre tidak bisa langsung percaya lagi setelah kejadian kemarin, anggap saja Andre berniat menolak ajakan.
Andre tersenyum lagi canggung. "Maaf pak, saya mau cari kontrakan terimakasih atas ajakannya." Komentar Andre.
__ADS_1
Keduanya saling pandang satu sama lain seperti sedang menyepakati sesuatu.
"Kontrakan ada di belakang, tapi saya sarankan jangan kembali lagi ke RSJ itu ya! Kalau bisa saudaranya di bawa ke tempat lain saja." Jelas bapak-bapak yang dari awal selalu menjawab pertanyaan Andre.
Mendengar itu Andre langsung merasa tidak tenang, dia takut jika saja maksudnya ada alasan buruk tentang rumah sakit itu. Bagaimana dengan Sani? Pikir Andre.
"Mas ini ikut saja dulu biar bisa percaya!" Anak lagi orang yang masih sama.
Lagi-lagi Andre merasa ragu tapi dia tidak bisa membiarkan rasa penasarannya lagi. Terpaksa dia harus menurut dengan alasan untuk mendapatkan kontrakan yang dia butuhkan sekarang.
Dari yang paling belakang Andre mengikuti langkah keduanya yang memasuki gang sempit di pinggiran rumah. Tidak begitu jauh karena Andre bisa langsung melihat ujung dari gang yang dia lewati saat itu.
"Assalamualaikum. Pak. Bu!" Ucap keduanya bergantian.
Andre berdiri menunggu keduanya memanggil pemilik rumah. Tak lama seorang yang sangat sepuh keluar dan anak gadis yang memapahnya.
"Aduh Bapak-bapak ini ada apa?" Tanya gadis itu. Tapi kemudian langsung diam saat menatap mata Bapak-bapak yang sudah membawa Andre.
"Masuk Mas ya silahkan! Semuanya masuk!" Gadis itu sangat ramah.
Andre hanya melihat ke samping kiri dan kanan sebagai orang yang bingung dan tidak tahu apapun. Dia hanya menebak jika ajakan dan sambutan gadis itu berarti mengajaknya bicara di dalam sesuatu yang penting, pembahasan yang akan dibicarakan mungkin sesuatu yang tidak boleh didengar oleh sembarangan orang.
Rumah yang lantainya masih memakai kayu sama persis seperti di desa Andre tinggal.
Andre, kedua orang baoak-bapak, gadis yang tak dikenal, dan orang sepuh duduk tertib di kursi di dalam rumah.
"Langsung saja ya Mas. Sebetulnya kejadian ini bukan sesuatu yang asing atau aneh lagi, malah sudah berulang terlalu sering. Kami semua warga di sini berharap Mas bisa mengikuti permintaan kami, anggap saja sebuah cara yang kami ceritakan demi kebaikan Mas di sini."
__ADS_1