
"Istighfar Tarman. Kau tega sekali." Hardik Pak Rais nampak sudah kehilangan akalnya, sangat kecewa dengan Pak Tarman.
Pergulatan terjadi di luar rumah hingga suara Tri dari arah kamar membuat semua orang langsung teralihkan, kecuali Andre yang saat itu sudah pergi ke kamar Sani untuk bertanya lagi apakah tadi Sani mengalami sesuatu yang aneh.
"Neng Tri." Ucap Pak Rais panik. Segera disusul dengan tubuh Pak Rais yang langsung menyelinap ke dalam ruangan.
"Astagfirullah, Neng Tri!" Ucap Pak Rais seraya membuang wajah karena saat itu Tri masih belum berbusana menjerit di dalam kamar. Pandangannya sebagai orang tua sangat sedih apalagi kejadian yang tidak diketahuinya ini melibatkan sahabatnya sendiri, yaitu Tarman.
Bola mata Pak Rais berubah murka menatap Tarman seakan ingin sekali dia segera menghabisi lelaki sekaligus orang tua sama sepertinya.
"Tarman!" Seru Pak Rais yang terdengar berat seperti sudah tidak sudi memanggil nama orang dengan semua perbuatan yang tidak bisa diterima akal sehat. Lamanya memandangi wajah Pak Tarman yang sama sekali tidak balik membalas tatapan Rais, sahabat sejak dari kecil.
Kemudian suara jeritan Tri langsung mengalihkan seluruh kesadaran Pak Rais. Tri nampak membuka mulut lebar, telentang di atas kasur dan tiba-tiba detik berlalu tubuhnya nampak kejang. "Panggil Nenek sepuh!" Tegas Pak Rais sangat ketakutan dan bingung dengan pemandangan Tri yang tidak bisa dijelaskan oleh akalnya lagi. Tapi seruan kedua kalinya tidak dihiraukan bahkan sudah beberapa kali terjadi.
"Tarman jangan bercanda!" Bentak Pak Rais kecewa karena tak ada itikad ataupun usaha yang dilakukan Tarman sesuai dengan instruksinya. Pak Rais berbalik dan mendekati Pak Tarman dengan nanar, tapi seketika Tarman yang masih menunduk langsung mengangkat wajah dan memperlihatkan sorot matanya dingin dan mengerikan, tak disangka Pak Tarman berlari ke arah Pak Rais membuat Pak Rais langsung menghentikan langkah kakinya seketika, tapi sebelum berkomentar mulut Pak Rais yang sudah siap berbicara itu langsung bisu membungkam. Tepat tangan Pak Tarman yang sudah menyilang kan pisau ke arah perut sahabat kecilnya itu.
Siapa yang akan menduga jika kejadian ini berlangsung pada tubuhnya yang masih mengandung ruh dan dalam sekarat merasakan tusukan demi tusukan dari benda tajam oleh tangan seorang sahabatnya itu. Pak Rais tersungkur mendapatkan serangan beberapa kali tanpa perlawanan darinya. Matanya berkaca-kaca kembali dilihatnya sosok Tarman yang masih muda dan ceria pernah menemani hidupnya dari dulu sampai sekarang. Dan sekarang seiring kesadarannya berangsur hilang bahkan melihat apapun di depan mata tuanya kali ini benar-benar sudah suram dan samar tak terlihat, sampai semuanya gelap dan mengunci kesadaran terakhir kalinya di tempat yang masih sama.
Bak tak berperasaan Pak Tarman sama sekali tak mengedipkan mata dan melihat Pak Rais dengan santai tergeletak di lantai. Tujuannya bukan lagi untuk meluruskan urusan dan menyadari letak kesalahannya, Pak Tarman tak ingin jika hubungannya dengan Tri terlanjur terbongkar dengan begitu saja.
Saat Pak Rais sekarat bahkan kewalahan, kedua tangannya berusaha menahan aliran darah dan rasa sakit seperti ditancapkan paku di ubun-ubun kepala, atau sesuatu pisau ditarik dari dalam tubuhnya sekaligus, bahkan bisa lebih dari itu rasa sakitnya melawan maut dan dia sendiri mungkin tak akan pernah menyangka bisa kehilangan nyawa ditangan sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Tak pernah disangka Pak Tarman yang sudah kehilangan akal dan kewarasannya sudah membuat dia lebih kejam dari hewan. Membunuh sahabat yang paling dekat, teman diusia senjanya. Bahkan setelah berhasil membuat Pak Rais tak bergerak dan tidak terlihat gerakkan napas lagi, tidak membuat Pak Tarman merasa bersalah sedikitpun, matanya juga tidak melihat ke arah Tri, seolah tak peduli dia hanya memikirkan untuk segera pergi dari rumah. Begitulah naluri sejatinya seorang penjahat yang hanya memikirkan lari dari masalah.
Sedangkan di dalam kamar Tri masih tak sadarkan diri tanpa berbusana terlentang di atas kasur. Pak Tarman sedikit melihat ke arahnya, namun seketika dia langsung memperlihatkan wajah paniknya. Sesegera mungkin Pak Tarman mengemas beberapa uang yang tersimpan di dalam lemari Tri dan dimasukannya ke kantong celana. Nampak dia sangat siaga melakukan hal itu, karena satu hal yang ditakutkannya yaitu kedatangan orang lain yang bisa menjadi saksi kunci dari perbuatan pidana yang dilakukannya, yaitu kedatangan Andre dan satu temannya.
Pak Tarman sudah mengantongi begitu banyak rupiah, dan tak tinggal diam dia segera menerobos pintu utama keluar dari rumah dengan berlari sejadinya. Beruntung sekali keadaan saat itu, karena Sani dan Andre tak kunjung keluar dari kamar.
****
"Bener Lu gak ada merasa sesuatu?" Tanya Andre masih melontarkan bahasan yang sama.
"Bener Andre, lagian aku juga gak tahu kenapa bisa sampai ada di sana." Elak Sani masih menepis dugaan Andre.
"Kenapa sih penasaran banget. Ribet!" Hardik Sani yang tidak mengindahkan rasa khawatir Andre saat itu.
Sebenarnya Andre sangat penasaran jika saja Sani membahas tentang sosok perempuan yang terus mengikutinya dan membuat dia kesurupan seperti tadi. Tapi mengapa Sani tak membahas hal itu membuat Andre kecewa. Tak mungkin juga di sisi lain Andre menjelaskan jika dia sangat penasaran dengan sosok jin itu, karena jin itu Ibunya sampai meninggal.
Beberapa saat Andre diam.
"Eh ngomong-ngomong Kok sepi di luar. Tadi kan Pak Rais sama Pak Tarman emang lagi berantem kan." Cetus Sani langsung membuat perhatian Andre teralihkan padanya.
Benar juga.
__ADS_1
"Cepat deh kita lihat ke rumah!" Ajak Sani memperlihatkan jika saat itu dia benar-benar tidak memperlihatkan Andre sesuatu yang Andre harapkan.
Andre diam dan menghela napas.
"Cepat!" Seru Sani nampak cemas.
Saat membuka pintu tatapan Sani langsung diserbu oleh seseorang yang berlari keluar dari pintu rumah seperti maling. "Maling!" Cetus Sani cemas.
"Itu Pak Tarman. Kok dia lari gitu?" Tanya Andre spontan tak paham dengan tingkah Pak Tarman.
Santainya Andre dan Sani tanpa menyimpan satupun prasangka pada Pak Tarman.
Andre dan Sani sudah sepakat untuk memastikan ke dalam rumah, tapi sepertinya Andre harus menuruti perkataan Sani agar cepat pulang dari rumah Pak Tarman, bagaimanapun masalahnya dia harus menyelesaikannya dulu dan pulang.
"Dre, pintu kebuka tapi gak ada suara." Komentar Sani menghentikan lamunan Andre yang memperdebatkan masalah lain.
"Kenapa?" Dengan polosnya Andre menatap Sani aneh. "Cepat masuk!" Seru Andre.
"Astagfirullah." Sepatah kata yang terucap dari mulut Andre saat itu, sedangkan Sani sebagai wanita hanya langsung menjerit melihat pemandangan yang mungkin untuk pertama kalinya ini dia lihat.
Andre mematung diam, aliran darahnya seolah berhenti seketika dan napasnya juga. Dia tidak bisa berpikiran baik dalam keadaan ketir, pertanyaan yang langsung muncul hanya siapa yang sudah melakukan semua ini?
__ADS_1