Dunia Mu

Dunia Mu
ada apa dengan orang-orang?


__ADS_3

Kedua pasang mata Andre bahkan tak mampu berkedip, dia menundukkan wajah lagi dan berusaha mengatur kewarasannya saat itu juga.


"Nak Andre biar Bapak antar ya ke gerasi mobil, rupanya mobil yang kemarin kalian pakai itu perlu di servis." Pak Arman langsung memotong pandangan Ayah Sani yang mulai heran terhadap Andre, begitupun sebaliknya.


Beruntung karena Pak Arman langsung menyeret Andre yang saat itu bisa dikatakan tidak mungkin bagi Andre untuk bisa melangkahkan kaki meski satu langkah saja.


"Loh, mobilnya harus di servis lagi nih, padahal kan kemarin mobilnya baru saya pakai." Cela Sani yang cukup terkejut setelah mendengar pernyataan Pak Arman. Namun karena masih di dalam rumah Pak Arman membiarkan Sani bicara tanpa langsung menjawabnya.


"Tadi pagi sudah saya cek ternyata ada yang perlu diservis." Jawab Pak Arman setelah di luar rumah.


"Eh Non, saya lupa kuncinya. Bisa non ambilkan di tempat kunci untuk mobil hitam itu." Pinta Pak Arman nampak sengaja.


Sani tak menolak, meski malas untuk kembali memutar langkahnya ke arah rumah mencari kunci mobil yang dimaksud, tapi seperti biasa Sani tidak bisa menolak permintaan Pak Arman dan akhirnya dia kembali berbalik ke arah jalan tadi menuju rumah.


Pak Arman masih diam saja meski ketika itu sudah melepaskan Andre dari pegangan tangannya. Yang lebih bingung untuk dipikirkan adalah Andre sendiri, sikap Andre saat itu.


Pak Arman terus mengamati Andre yang tampak membisu, pikirannya pasti sangat kacau apapun itu Andre dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.


Kemudian Pak Arman menghela napas panjang. "Sebaiknya Bapak sendiri yang akan mengantarkan Nak Andre pulang." Cetus Pak Arman meski itu sia-sia karena sama sekali tak membuat Andre meresponnya.


Pak Arman tampak kecewa dan menggelengkan kepala. "Cepat ikut lagi!" Pak Arman terpaksa menyeret Andre saat itu juga. Padahal Pak Arman tidak memiliki waktu yang cukup kan, jika Sani kembali diantara mereka apa yang akan dilakukan Andre? Apakah Andre bisa bersikap biasa saja?


Buru-buru Pak Arman merogoh sebuah kunci di saku celananya, membuka kunci mobil merah yang tadi dia sebutkan perlu diservis kembali, kemudian menuntun Andre sampai masuk ke dalam mobil.


"Pak...Pak..." Teriak Sani ketika mobil yang dibawa Pak Arman melintas di depan rumah.

__ADS_1


Pak Arman tak langsung berhenti namun dia memberikan sedikit jarak, ketika ada dalam jarak berapa meter dengan Sani barulah Pak Arman membuka jendela mobil. "Non, saya sama Andre pergi servis dulu mobil. Andre ikut saya katanya sekalian ada perlu." Buru-buru Pak Arman menyimpulkan. Tanpa menunggu persetujuan Sani mobil kembali melaju.


Sani menatap heran karena baru kali ini Andre pergi keluar dengan Pak Arman padahal Andre sendiri sudah berjanji untuk pergi ke kampus.


"Kenapa San?" karena mendengar cukup keributan di luar, Ayahnya Sani langsung keluar rumah dan memandangi salah satu mobil Sani yang melaju keluar dari gerbang rumah.


Sani memandangi Ayahnya. "Gak ada yang penting." Ucapnya dingin dan berlalu begitu saja tanpa mengatakan apapun yang lebih pantas.


Ayahnya hanya berdecak kesal mendapati sikap Sani yang tidak berubah sedikitpun. Padahal rasanya ingin sekali ayah dan anak itu bersikap akur.


Tak lama setelah mobil keluar muncul lagi mobil lain yang masuk melalui gerbang rumah. Sani sempat sebentar berhenti dan melihat siapa yang datang. Namun setelah menoleh ke arah Ayahnya dia langsung bisa menebak siapa yang datang itu, pasti tak lain hanya pacar ayahnya sendiri, tampak jelas dari reaksinya kan.


Sani sangat kesal, raut wajahnya mengatakan semua itu. Dia tak menunggu menyaksikan lebih lama kedatangan pacar ayahnya, Sani memilih masuk ke dalam mobil untuk pergi keluar, bahkan dia juga tidak berpamitan.


Tidak ada yang diharapkan dari keluarga satu-satunya yang Sani miliki itu. Entah mengapa rasa penasaran yang dulu membuat dia berpikiran lagi untuk mencari keluarga dari Ibunya, dimanapun itu tak masalah, bahkan sejauh apapun itu dia pasti akan berusaha untuk datang, jika saja dia tahu dimana alamatnya. Lagipula ayahnya Sani tidak akan tahu jika dia pergi dengan alasan itu, contohnya saja ketika dia pergi berbulan-bulan ayahnya tidak mempermasalahkannya.


Sani tampak bingung ketika kembali mengamati jalan ternyata dia sudah salah jalan. Sialnya dia harus kembali memutar balik arah, sesuatu hal yang tidak ingin dilakukannya adalah menyetir mobil. Dengan sangat terpaksa Sani harus melakukannya sendirian sekarang.


Sani baru ingat lagi sesuatu, ternyata dia sudah melupakan tas dan Hp yang keduanya sangat penting. Semua uang tunai dan kartu lain di dalam dompet ada di dalam tas. Menyesal sekali mengapa hari ini Sani harus mengalami kesialan yang tidak diharapkan.


Tidak ada pilihan selain harus dengan sangat malasnya kembali pulang ke rumah. Lagi pula tidak ada satupun yang dia bawa kan, malas apapun itu Sani tak bisa pergi ke kampus tanpa HP, benda yang sangat penting sekali.


Beberapa kali di jalan Sani terus mengumpat, merasa sangat sial dan untuk pertama kalinya dia harus melawan sesuatu yang begitu tidak nyaman.


Bukan karena dia tidak bisa untuk pulang ke rumah yang jaraknya tidak terlalu memakan waktu, tapi sesuatu yang sedang ada di rumah membuatnya tidak bisa berpikiran waras. Sani tidak ingin bertemu dengan ayah dan pacarnya di sana. Sampai kapanpun dia tidak bisa menerima seseorang yang berniat untuk ada di samping keluarganya apalagi untuk menggantikan ibu, karena hal apapun di dunia tidak akan pernah ada yang bisa menggantikannya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan raut wajah Sani tampak tidak baik-baik saja, dia hanya membisu dan memasang wajah yang kesal.


Tak lama dia sudah kembali tiba di depan gerbang rumahnya, dia harus turun terlebih dulu untuk membuka gerbang rumah dan kembali masuk ke dalam mobil.


Matanya langsung melihat ke arah mobil yang berjajar di depan halaman rumah. Terpaksa dia tidak memarkirkan mobilnya di garasi dia turun dan membiarkan mobilnya itu di tengah jalan.


Turun dari mobil Sani butuh sedikit berjalan hingga sampai di halaman saat ingin masuk dia langsung terkejut karena seseorang yang tampak terburu-buru baru saja keluar dari arah rumah. Begitupun sebaliknya orang-orang itu tampak terkejut dan saling pandang dengan orang lainnya lagi ketika melihat Sani.


Entah siapa mereka Sani tidak tahu pastinya karena mereka orang baru yang datang ke rumah, terutama para lelaki yang berotot besar itu bagi Sani terkesan cukup menyeramkan.


Ayah Sani muncul kemudian menyusul keluar dari pintu, reaksinya tampak sangat terkejut ketika melihat Sani yang berdiri memandangi orang-orang tadi yang sibuk masuk ke dalam mobil.


"Kamu ada yang ketinggalan?" Tanya ayahnya Sani tanpa berbasa-basi.


Seperti biasa Sani tak ingin bersikap baik, dia tidak menjawab melainkan berjalan ke arah pintu. Namun langkah Sani dihentikan. "Biar asisten ayah yang bawakan barang-barang mu. Apa yang mau kamu ambil bisa sebutkan!" Terang ayahnya saat itu pada Sani, dari pernyataan itu jelas-jelas sudah melarang Sani untuk masuk ke dalam rumah.


Sani masih bersikeras untuk masuk namun hal itu gagal karena ayahnya mengeratkan pegangan tangan di lengan Sani.


"Sudah ayah katakan apa yang kamu perlukan?" Ucap ayahnya Sani dengan tegas.


Entah mengapa saat itu Sani seperti melihat sesuatu yang tak biasa, ucapan tegas ayahnya membuat Sani tak bisa mengatakan apapun.


"Tas, aku memerlukannya." Ucap Sani terbata. Tentu saja dia cukup syok, melihat ayahnya yang tak pernah mencengkram tangannya dengan kasar dan berkata begitu tegas setengah emosinya pada Sani.


"Tolong ambilkan tas Sani!" Ucap ayahnya pada seseorang yang dari tadi mungkin mengintip di balik pintu. Tak lama setelah ucapan perintah yang dikatakan seseorang menyodorkan tas yang disebutkan Sani.

__ADS_1


"Pergilah sekarang!" Ucap Ayahnya sambil menyodorkan tas.


Sani tak ingin berlama-lama dia segera mengambil tas dan berlari menuju mobil.


__ADS_2