Dunia Mu

Dunia Mu
Pencarian bukti


__ADS_3

Di dalam mobil Andre masih bertanya-tanya dia tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya. Tapi tak terasa mobil sudah terparkir masuk ke dalam gang, batinnya curiga mengapa supir langsung tahu jika itu arah rumah Pak Tarman. Teringat dengan Pak Tarman dan sikap terakhir kali dia pergi, dia memang tenang-tenang saja lalu memutuskan pergi apa mungkin Pak Tarman sudah tahu?


Andre harus bertanya banyak tentang Sani dan rencana petugas juga Pak Tarman.


Saat akan turun klakson mobil sengaja dibunyikan oleh supir, dari arah rumah muncul Pak Tarman membantu menurunkan Sani dengan sangat hati-hati.


Dengan bantuan Pak Tarman, Pak Rais dan supir sudah cukup bisa diandalkan hingga Sani ditidurkan di kamar Tri. Saat supir berlalu ke luar dari kamar Andre segera mengikutinya dan berniat untuk mengajaknya ngobrol, tapi Pak Tarman sudah lebih dulu bicara beruntungnya mereka berdua memang akan berbicara di teras rumah. Andre mengikuti Pak Tarman dan Pak Rais pergi bergegas ke teras rumah, Andre membiarkan Sani yang sedang istirahat dengan Tri di dalam kamar.


"Saya sangat berterimakasih pada Pak Doni yang sudah mengantarkan temannya Nak Andre." Ucap Pak Tarman.


"Sudah tugas Pak Doni. Dia memang baik sekali dan pekerjaan seperti ini memang sudah sering dan biasa dia lakukan." Balas Pak Supir merendah.


"Sudah biasa?" Pak Tarman seperti terkejut dengan mengulangi perkataan supir. "Saya heran mengapa tidak secara umum saja membawa pasien keluar kan rumah sakit sudah ada prosedur yang dipakai." Cela Pak Tarman mulai mengorek informasi.


Dilihat dari gelagat supir yang memperlihatkan kecurigaan di mata Andre, saat Andre berbalik melihat Pak Tarman dan Pak Rais juga mungkin berpikir sama. Terlihat ekspresi Pak Tarman yang sangat terganggu dengan ucapan supir.


"Ya mungkin memang seperti itu prosedur nya pak, saya sih kurang tahu." Tukas supir. "Saya pamit pulang Pak!" Sambungnya lagi membuat Pak Tarman semakin penasaran.


"Tunggu saja dulu! Jangan terburu-buru pergi kita mengobrol sambil ngopi dulu." Usaha Pak Tarman ingin membuat supir agar tetap tinggal.


"Terimakasih, tapi saya mau pamit Pak. Takut ada pekerjaan lain." Kilahnya masih bersikeras.


"Bukan takut dengan kami kan?" Tebak Pak Tarman yang langsung diakhiri dengan tertawaan darinya.

__ADS_1


Supir sangat jelas memperlihatkan sikapnya yang salah tingkah.


"Pokoknya kamu jangan takut, kami sangat perlu sebuah informasi yang ingin ditanyakan." Ucap lagi Pak Tarman yang saat itu mendominasi untuk bicara, sedangkan Pak Rais dan Andre hanya menyimaknya dengan teliti.


"Tapi saya tidak tahu apa-apa, Pak." Penolakan secara halus dari supir, tapi hal itu terlihat bukan apa-apa.


"Kami tidak akan mengadu kepada siapapun. Tolong percaya!" Pak Tarman tak gentarnya meyakinkan supir dan sekilas mustahil dia akan memberikan banyak informasi.


"Maaf pak, tugas saya hanya mengantar pasien hanya seperti itu. Saya tidak tahu apapun kalau masalah lain." Serunya berusaha tetap membuat batasan untuk Pak Tarman.


"Nak saya ini orang tua, wajar saya khawatir karena dulu sekali saya kehilangan putri saya di rumah sakit itu." Pak Tarman memancing penasaran supir di hadapannya yang dari tadi sudah terlihat siap untuk pergi. Tapi Supir diam seribu bahasa, dia terlihat ingin bicara hanya entah apa yang membuat bibirnya tertahan untuk bicara.


"Bapak mau menanyakan itu?" Balasnya tersenyum. "Apa ada kaitannya dengan saya?" Sambungnya lagi terdengar memberikan kesempatan untuk melanjutkan obrolan kepada Pak Tarman.


"Jelas ada kaitannya. Karena dulu sekali saya juga menerima janji yang sama dari Pak Doni itu, tapi alih-alih dia menepati janji putri saya hilang." Jelas Pak Tarman masih berusaha menarik perhatian.


"Meninggal!" Ucap Pak Tarman singkat. Dengan ucapannya berhasil membuat supir terdiam dan terlihat sangat berpikir cukup keras.


"Saya kurang mengerti, mengapa bisa meninggal? Dan Bapak menyebutkan karena janji Pak Doni. Setahu saya ini, selama saya bekerja dengan Pak Doni tidak ada satu tugas pun yang gagal. Saya tidak pernah ceroboh dan sampai menyebabkan seseorang meninggal." Supir terdengar yakin dan jujur saat mengatakannya.


Lam Tarman menghela napas. "Apa sebelumnya pernah ada supir yang lain?" Tanya Pak Tarman.


Supir terdiam beberapa detik. "Mungkin, Pak." Jawabnya. "Saya bertugas baru beberapa tahun ini." Ucapnya lagi terdengar lemah.

__ADS_1


Pak Tarman terlihat sangat kecewa dia menebak jika masalahnya ini hanya diketahui oleh supir sebelumnya, itu pasti.


"Saya sangat terkejut dengan cerita Bapak sebetulnya. Saya mulai berpikir ada sesuatu masalah yang ditutupi rumah sakit mungkin saya tidak tahu sejauh itu." Supir mulai menganggap jika dirinya bekerja dengan Pak Doni ada sesuatu yang terlewatkan, yaitu menanyakan alasan mengapa supir sebelumnya keluar. "Yang saya tahu, supir itu mengundurkan diri dan sampai sekarang saya tidak tahu kabarnya. Lebih tepatnya tidak mencari tahu." Lanjutnya.


Pak Tarman mengerti betul akar permasalahannya saat ini, dan untuk semua jawaban dari masalah Sri adalah supir yang mengundurkan diri itu.


"Apa saya bisa bertemu dengan supir sebelumnya?" Tanya Pak Tarman.


"Saya akan cari di catatan Pak, semoga saja saya masih menyimpan berkas itu. " Ucap Supir berlari ke arah mobil yang kemudian diikuti oleh Andre.


Beruntung Supir itu masih berhati bersih, niatnya untuk membantu mungkin sudah mengabaikan perintah dari Pak Doni. Dia juga sudah memberikan kesempatan pada Pak Tarman agar bisa membantunya dengan masalah yang terdengar cukup serius.


Pak Tarman menunggu dengan cemas, dia melihat ke arah supir yang masih belum kembali membawa seperti berkas tulisan atau apapun. Dia berharap hari ini adalah terakhir untuk menyelesaikan masalalu yang hampir sudah berapa tahun terkubur lamanya.


"Kamu tadi pergi karena ini ya, aku pikir kamu gak peduli lagi Tarman." Pak Rais mengungkapkan segenap dalam hatinya. Mungkin Andre juga berpikir sama.


"Aku yakin kamu lebih tahu detail kejadian di masalalu. Kasihan Sri padahal sudah beberapa tahun." Pak Rais mengungkapkan rasa iba nya itu.


"Semoga saja hari ini yang terakhir. Aku tidak bisa terus melihat Tri dengan kesedihannya di sepanjang hari." Pak Tarman terlihat sangat mengerti.


"Kau ayah yang hebat, meski dia anak sambung mu tapi kau memikirkan layaknya dia anak kandungmu, kan!" Ungkap Pak Rais.


Andre mendengarkan jelas kata-kata yang diucapkan Pak Rais, jadi dia sekarang mengerti jika Tri hanya anak sambungnya. Tiba-tiba saja Andre merasa ngeri dia tidak sanggup detik itu pikirannya diganggu lagi dengan bayangan pada kejadian di malam itu.

__ADS_1


"Bengong saja dari tadi! Gimana pendapatmu?" Tanya Pak Rais membuyarkan lamunan Andre.


Andre terperanjat kaget mendengarnya. "Oh, itu Pak. Supir belum kembali?" Tanya Andre. Pak Rais langsung memalingkan wajah mendengar Andre yang selalu tidak nyambung.


__ADS_2