
"Kenapa malah kesini Jang?" Tanya Pak RT yang terus mengelap keringat di wajahnya. Kegiatan membantu Pak kyai sangat menguras keringat.
Andre tak langsung menjawab, dia belum sadar secara menyeluruh karena tontonan nya tadi.
"Ayo keluar temannya tidak apa-apa!" Ucap Pak Kiyai sambil menepuk pundak Andre.
Andre terperanjat seperti baru disadarkan. Dia melihat Sani yang terbaring di atas kasur. Pak RT kemudian menghampiri dan mengingatkan agar Andre menemui Ira temannya sudah menunggu.
Saat itu Andre mulai merasa sangat bersalah karena sudah membawa Ira ke tempat yang hampir membuat ketiganya celaka.
Dengan perasaan bersalah Andre menghampiri Ira yang sudah duduk dan terus memandanginya.
"Kamu kira kita ini apa? Seenaknya bawa anak orang ke tempat seperti ini?" Ucap Ira sambil menangis.
Perkataan Ira membuat Andre mematung malu, selain menjadi perhatian orang-orang yang ada di dalam rumah, Andre juga merasa sangat bersalah hingga dia tidak bisa mengatakan apapun.
Andre hanya menundukkan wajah.
"Sekarang aku mau pulang! Aku gak bisa terus di tempat ini." Ucap Ira mengutarakan keinginannya.
Andre menatapnya bingung. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Ira, selain perjalanan membutuhkan waktu lama dan juga keadaan Sani belum pulih.
"Neng sebaiknya istirahat dulu di sini, teman Neng juga di sini dulu. Sepertinya Teman Neng yang paling membutuhkan pertolongan." Ucap Pak Kiyai terdengar menenangkan.
__ADS_1
Ira hanya sekilas melihat Pak kiyai tanpa menjawab. Dalam hatinya tetap saja dia hanya ingin pulang.
"Biar supir saya langsung yang jemput ke sini!" Ucap Ira sambil memandangi Andre.
"Duh jangan Neng, jangan ada lagi orang asing ke sini!" Cegah seorang warga terlihat khawatir.
"Sebaiknya Neng sudah di sini dulu jangan pulang! Kasihan kan temannya itu!" Timpal yang lainnya.
Ira hanya diam, dan jauh dari dalam hatinya dia tetap tidak bisa menerima semua saran dan menganggap jika semua orang hanya menghalanginya.
"Untuk kejadian ini nanti biar aku yang bicara ke orang tuamu, sekarang sebaiknya kamu temani Sani!" Ucap Andre terlihat ragu-ragu.
Ira langsung berdiri seperti tidak mengindahkan perkataan Andre. Dia berjalan menuju keluar rumah. Apa daya orang-orang yang melihatnya tidak bisa mencegah Ira.
"Pamali Neng kalau tamu di kampung ini sesudah ashar dilarang keluar rumah! Nanti nyasar!" Ucap seorang lelaki tua yang kebetulan duduk di teras luar.
"Apanya yang pamali." Gerutu Ira sambil berjalan menjauhi rumah itu. Ira berniat mencari mobilnya melihat kondisi mobilnya.
Saat Ira melewati orang-orang spontan yang melihatnya langsung saling berbisik, membuat sebuah pemandangan yang dibenci Ira.
"Neng mau kemana?" Tanya seorang Ibu-ibu datang menghadang.
Semua warga bersikap cemas seperti mereka memiliki pemikiran yang sama.
__ADS_1
Ira hanya memandanginya judes tanpa menjawab.
"Sudahlah nanti juga tahu akibatnya! Orang baru ditanya baik-baik juga gak tahu diri." Gunjing seorang ibu-ibu tak terima dengan sikap Ira.
Ira tak mengindahkan semua gunjingan dan orang-orang nya. Dia hanya memikirkan cara untuk segera keluar dari tempat yang dia sendiri tidak tahu.
Diambil telpon genggamnya di saku celana, Ira melihat ke dalam layar yang tidak menunjukkan sinyal juga. Dia sedikit kesal dan terus mencari sinyal Hp. Apa yang bisa dilakukannya jika dia tidak bisa menghubungi supir.
Tanpa sadar Ira sudah berjalan terlalu jauh. Kedua matanya melihat hamparan hutan dengan pohon lebat di dalamnya. Ira tak mungkin melanjutkan jalan ke sana, pemandangannya sangat mengerikan. Sekilas melihatnya saja membuat bulu kuduk langsung berdiri.
Matanya langsung terbelalak saat melihat sebuah pohon rimbun dengan rantingnya yang bergoyang seperti di tiup angin, Ira melihat ke sisi lain dan tidak melihat ada angin. Dia menyerah tidak ingin melanjutkan jalan sebaiknya harus cepat kembali ke tempat tadi.
Saat membalikan tubuh Ira kembali kaget, dia tidak melihat dirinya ada di sebuah jalanan yang sudah dilalui tadi dan di sepanjang penglihatannya tidak ada pemukiman juga, yang terlihat hanya sebuah lapangan luas. Ira mulai panik, dia berlari yang dalam pikirnya mungkin di ujung lapang adalah jalan untuk kembali.
Perasaan panik terus saja membuat hatinya tidak tenang. Dia berjalan dan langsung menemui sebuah turunan jalan dengan banyak pohon berjajar di sisi kanan dan kiri. Rasanya ada sesuatu yang ganjil lagi, dia merasa tidak melewati jalanan yang dilihatnya. Apakah dia sudah salah jalan? Ira kembali menarik penglihatannya dan mencari ke semua arah jalan yang akan dia datangi lagi. Nyaris putus asa, Ira tidak melihat jalan lain selain jalan yang ada di depan matanya. Dia sangat bingung karena tidak ada pilihan baik.
Matanya melihat ke arah langit yang sudah mendung, mungkin jika diperhitungkan waktu sudah hampir malam sekitar pukul 16.00 atau lebih.
Ira sangat bingung, dia bertekad dalam hati jika saja keluar dari tempat ini dia tidak akan pernah mau lagi berteman dengan Sani, Andre dan berurusan dengan mereka yang sudah membawanya ke dalam masalah.
Tidak ada pilihan, Ira berbalik badan dan mengangkat kakinya menuruni jalan. Jalan itu memang jalanan raya tapi sangat sepi dan seperti tepat di tengah hutan.
Ira sudah merasa ada yang salah dari awal, dia memang tidak merasa sudah berjalan melewati jalanan ini, tapi apa daya di depan matanya hanya ada jalanan itu yang terlihat.
__ADS_1
Langkah pelannya membawa dia seorang diri berjalan di bawah teduh pohon yang berjajar dari kanan dan kiri. Matanya tidak diam terus bergerak ke sudut kiri dan kembali ke kanan, seperti ada bayangan yang berseliweran melewati sudut matanya. Di sepanjang jalan Ira tidak pernah tenang, dia merasa seperti ada yang terus mengawasinya dengan teliti. Tiba-tiba Ira langsung terjatuh hingga dia meringis, perasaannya merasakan seperti ada sesuatu yang menghalangi kakinya saat dia melangkah. Tapi Ira tidak melihat ada sesuatu di bawah tanah yang diinjaknya. Rasanya dia hanya ingin menangis sejadinya saat itu, tidak ada lagi yang bisa dicerna baik oleh akalnya. Semua seperti sedang menjebaknya dalam sebuah mimpi tapi yang terlihat seperti nyata baginya. Ira tidak tahu apa yang bisa dilakukannya seorang diri di tempat yang sangat menakutkan. Apakah benar dia sedang bermimpi? Tapi luka dari kakinya dan rasa sakit itu terasa nyata.
Akhirnya Ira menangis sejadinya. Tapi sebuah suara yang langsung membuat tubuhnya mematung kaku. Terdengar tawa wanita melengking dan langsung melewati Indera pendengarannya. Ira diam dengan perasaan takut, membayangkan sosok apa yang sedang mendekat ke arahnya. Untuk kedua kalinya lagi dia mendengar tawa yang tanpa henti terus terngiang mengudara hingga memenuhi isi pikirannya. Ira sangat kalut dan tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Perasaan takut terus mengurungnya hingga dia tidak menyadarkan diri.