
Andre semakin resah dia bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat dia kembali terjebak dalam dimensi sekarang? Apakah karena setelah melihat sosok wanita tadi dia jadi seperti berjalan dalam mimpinya lagi.
Yang menjadi pertanyaan terbesarnya sampai sekarang masih belum terjawab juga, padahal Andre sudah menghabiskan waktu terlalu lama tapi tidak ada yang dia temukan dari Sani. Hingga sekarang untuk kedua kalinya dia harus melihat lagi sosok itu yang menjadi traumanya tampak mengikuti Sani kemanapun.
Dalam satu waktu yang sama Andre tak pernah membayangkan juga jika dia akhirnya bertemu kembali dengan Ayah kandung yang sudah hilang setelah 20 tahun. Kebetulan itu membuat traumanya kian bertambah seolah kembali membawa Andre tepat pada masalalu yang begitu kelam.
Awalnya Andre pernah berpikir, jika sudah 20 tahun lamanya dia pasti sudah bisa melupakan sedikit ingatan tentang masa kecilnya dulu, namun ketika kenyataan terjadi maka fakta berkata lain, jauh berbeda dari apa yang dia bayangkan.
Ayah dan jin wanita itu hanya sebuah trauma yang belum bisa dia lupakan, Ibu pun sudah pergi sekian lama, tapi rasanya masih tak rela, perasaan sakitnya masih sama. Dan sekarang jika keduanya muncul di hadapannya lagi harusnya dia yang sekarang sudah cukup bisa membalaskan perasaan sakit yang sudah sangat lama, dia tidak mungkin berdiam diri saja.
"Andre!"
"Andre!"
Seseorang terdengar memanggil namanya membuat kesadaran Andre kembali dengan tiba-tiba.
Sani berjalan lagi ke arahnya, tapi Andre langsung memalingkan wajah saat itu. Andre ternyata masih membayangkan sosok jin wanita yang terus saja mengikuti Sani, bayangan yang muncul tidak membuatnya nyaman.
"Semua orang sudah di mobil. Rupanya masih di sini." Terdengar seperti kesal saat Sani berbicara pada Andre, namun itu tidak membuat Andre tertarik dan simpati.
"Sekarang aku ke mobil." Jawab Andre masih dengan nada yang dingin.
Andre berjalan mendahului Sani, dia memang tidak sadar ternyata sedari tadi dirinya masih berdiam diri di parkiran mobil, entah apa yang akan terjadi jika seseorang tak menemukannya mungkin jiwanya masih berada di tempat lain.
"Ngapain kamu ke tempat itu?" Tanya Sani terdengar penasaran, Sani juga tidak diam saja dia berlari diam-diam langsung menghentikan langkah kaki Andre.
Bola mata Andre sedikit bergerak mengintip ke arah Sani, hatinya tidak bisa bohong dia masih gugup dan takut jika saja sosok tadi masih ada. Nyatanya apa yang dia takutkan memang benar, hantu itu kian berani menampakkan dirinya.
"Heh, diam aja terus dari tadi." Sani berbicara dengan geram.
__ADS_1
"Udahlah, awas!" Andre langsung berjalan ke arah lain dengan terburu-buru. Dia tampak tidak nyaman.
Sani hanya melongo bingung, sebenarnya ada apa dengan sikap Andre?
"Akhirnya Nak Andre udah kembali. Yuk kita berangkat." Seru Pak Dean ketika melihat Andre yang sudah muncul.
Andre membalasnya dengan sedikit tersenyum saja.
"Sepertinya ini perjalanan terakhir, akhirnya kita semua bisa mengantar Sani ke rumah." Seru Pak Dean. Namun di samping Pak Dean istrinya tampak berekspresi berbeda.
"Neng Sani kita pergi kemana sekarang?" Pak Dean bertanya pada Sani yang sudah masuk ke dalam mobil.
Sani diam tidak langsung menjawab, dia tampak bingung. Namun ketika istrinya Pak Dean memperhatikannya dia juga terlihat salah tingkah.
"Masih ingat kan alamatnya? Biar bapak cari untuk perjalanan kita." Pak Dean tak menyerah masih berharap jika Sani mengatakan alamat rumahnya.
"Baiklah, bapak cari dulu alamatnya sekarang untuk petunjuk perjalanan."
"Loh ternyata dekat ya dari sini." Ucap Pak Dean yang tak tahu menahu tentang Sani.
"Neng Sani!" Tiba-tiba istirnya Pak Dena memanggilnya.
Sani menoleh sedikit terhenyak kaget dengan perasaan yang tiba-tiba tidak begitu tenang.
"Tadi Bapak-bapak itu Ibu kira seperti Ayah kamu." Ternyata benar, akhirnya Sani mendengarkan kata-kata itu keluar dari mulut istrinya Pak Dean.
Sani tampak menghela napas meski sangat begitu bingung apa yang akan dia jelaskan.
"Ia, benar. Tadi Ayah saya." Jawab Sani singkat.
__ADS_1
Pak Dean di sampingnya mendengarkan, menyimak dan juga menanggapi reaksi Sani.
Seperti yang sudah bisa ditebak jika tidak akan ada orang yang mempermasalahkannya.
"Oh, ia. Ibu jadi gak enak ya tadi gak sempat basa-basi." Timpal istrinya Pak Dean. "Kalau sekarang Ayah Neng Sani masih ada di rumah?" Dengan hati-hati berusaha bertanya dan berbicara agar tidak begitu menyinggung perasaan Sani.
"Saya kurang tahu Bu." Sani masih menjawab singkat dengan wajah yang semakin murung. Dia sebenarnya tidak berharap jika Pak Dean dan yang lainnya bertemu Ayah, apalagi jika mereka menyaksikan kelakuan Ayahnya itu. Sani takut jika mereka mendapatkan perlakuan yang kurang baik.
"Bapak sepertinya langsung pulang lagi, Bapak kayaknya harus pergi jalan hutan lebih dekat dan lebih cepat juga." Tiba-tiba Pak Dean berbicara. Maksud Pak Dean tak lain hanya tak ingin membuat perasaan Sani tak nyaman. Menatap mata Sani saja sekilas membuat Pak Dean mengerti tentang masalah yang tidak bisa dia katakan apalagi itu adalah masalah keluarganya.
"Jadi gak enak ya, Neng Sani bisa tolong bilangin salam aja dari Ibu dan Bapak. Gimana lagi ya Ibu juga bingung." Istrinya Pak Dean mempertegas tujuan dari pembicaraan Pak Dean jika mereka tidak bisa tinggal dulu apalagi masuk dan bertemu dengan keluarganya.
"Jadi kita pulang lewat hutan lagi Pak?" Tak disangka Andre dengan polosnya bertanya.
"Jangan bilang kalau kamu takut. Pasti Nak Andre ketakutan nih." Ledek Pak Dean yang diakhiri dengan tertawaan orang-orang.
"Nak Andre takut, padahal Ibu saja tidak. Lagian gak ada apa-apa kan Pak kalau kita lewat jalan pintas lagi."
"Harusnya gak apa-apa sih kalau buat Bapak. Nak Andre juga kayaknya gak bakal protes." Jawab Pak Dean berharap Andre tidak bicara lagi yang lain. Apalagi jika Andre menyinggung tentang Sani.
"Ia Gak apa-apa juga Pak, Andre ikut aja kemana mobilnya melaju." Andre langsung percaya diri saja.
Sedangkan Sani memang sudah berubah sejak terakhir kali dia di rumah sakit. Dia tampak tertekan dan sesuatu mungkin sudah membuatnya bisa murung seperti sekarang.
Bagi Pak Dean itu bukanlah masalah, soal bisa atau tidaknya ke rumah Sani dia cukup maklum, mungkin Sani mempunyai alasan tersendiri kan.
"Ibu harap kita bisa bertemu lagi Ya! Neng Sani jaga diri baik-baik dan jangan lupa nelpon ya!" Istrinya Pak Dean sangat ingin membuat Sani agar tidak lagi murung seperti sekarang.
"Tentu saja Bu, Sani akan menceritakan banyak hal, Sani tidak berharap ini adalah pertemuan terakhir kita semua." Jawab Sani dengan yakin.
__ADS_1