
Bukan anak kecil lagi, Sani dan Tri dua orang dewasa yang bisa mencari jalan keluarnya bersama. Meski keduanya belum tahu jalan tapi dengan naik kendaraan umum sudah bisa mengatasi masalah.
Tak perlu pergi jauh atau menunggu lama, hanya tinggal pergi sampai ujung gang yang langsung masuk ke jalan raya. Di pinggir jalan Sani menunggu bersama berharap sebuah bus ataupun kendaraan lain jadwalnya melewati jalanan itu, dan tak lama muncul badan bus yang segera dari kejauhan Sani melambaikan tangannya tanda menghentikan bus itu.
Dengan semangat keduanya naik bus terus berjalan melewati beberapa orang yang sudah mengisi kursi, sayang sekali tak ada tempat duduk yang kosong terpaksa harus duduk di dekat pintu, tidak membuatnya kecewa jika harus segera pergi ke kantor polisi.
Bus akhirnya melaju, suara mesin sudah terdengar dan supir sudah menginjak pedal gas. Dalam keadaan diam sudah menjadi kebiasaan saat naik kendaraan umum, Tri dan juga Sani nampak mengintip terus ke arah jendela. Dan kali ini keduanya bersama melihat Andre dan juga beberapa orang polisi terlihat mengobrol di dekat gang yang tak jauh dari gang rumah Tri. Mungkin yang terpikirkan oleh Sani saat itu akan sama seperti pikiran Tri. Sebenarnya ada urusan apalagi Andre dengan polisi? Cukup membuat penasaran sekali.
"Kantor polisi!" Seru pak supir, cara yang dia lakukan untuk mengingatkan penumpang jika saat itu Bus akan melewati kantor polisi.
Beruntung jika Sani tidak larut dalam lamunannya sendiri, dia bisa mendengar saat supir berteriak.
"Pak, kantor polisi!" Ucap Sani pada pak supir.
Tak lama Bus berhenti dan seperti yang diharapkan olehnya, dia kembali melihat pemandangan dari kantor polisi yang sama seperti sebelumnya, dan memang itulah tujuannya kan.
Sani tak sabar turun dari Bus kemudian diikuti oleh Tri dari belakang.
"Akhirnya!" Sani mengucap syukur karena dia tidak perlu usaha yang sulit untuk menemukan kantor polisi sebelumnya kan.
"Eh, Tri! Kita sekarang kemana dulu ya?" Tanya Sani. Tapi saat melihat ke arah Tri yang hanya diam saja membuat hati Sani semakin merasa tak nyaman. Bagaimana tidak? Sekarang Sani mencoba membayangkan bagaimana jika dia mengalami langsung masalah yang sedang menimpa Tri. Pasti dia sudah akan gila saja, tidak ada alasan kan? Sudah tidak mempunya ayah, ibu, keluarga, dan Nenek tercinta. Langit pasti serasa runtuh sekaligus baginya, ditimpa masalah yang mungkin saat itu akan terasa seperti mimpi, tak pernah disangka.
Sani berjalan saja menuju pintu yang baru saja dilihatnya itu, dia juga menggandeng Teu dengan tangannya.
Saat masuk Sani melihat dalam ruangan itu banyak polisi yang sedang sibuk. Dia mulai ragu apa yang akan dilakukannya sekarang?
Beruntung salah satu polisi menghampiri mereka.
"Saudara sudah mengisi buku tamu dan melapor ke petugas di depan?" Tanyanya.
__ADS_1
Sani menggelengkan kepala. Dengan ramah Pak Polisi mengarahkan dan memberitahunya untuk melakukan segala prosedur sebelum masuk ke kantor polisi.
Saat sibuk mengisi daftar tamu, tiba-tiba Sani menangkap sosok polisi yang waktu itu ikut terlibat mengurus jenazah Pak Rais dan Nenek sepuh.
"Pak, saya bisa bertemu dengan Bapak itu? Saya akan menanyakan sesuatu yang penting." Tanya Sani tanpa ragu.
Polisi yang sedang mendampingi langsung melihat ke arah orang yang dimaksud. "Dengan Pak Ridwan? Ada perlu apa?" Tanyanya penasaran.
"Kasus pembunuhan dini hari, saya sebagai saksi dan dia ingin menanyakan tentang jenazah Neneknya." Terang Sani dengan bahasanya. Meski dia sangat gugup harus mengatakan apa, karena baru pertama kali ini Sani datang dan banyak berbicara pada seorang polisi.
"Oh tentu. Sekarang kita akan bertemu dengan Pak Ridwan." Balasnya dan membantu untuk mempercepat urusan Sani saat itu.
Tak menunggu lama, benar seperti yang dikatakan oleh Pak Polisi saat itu Sani dan Tri langsung didampingi untuk menemui Pak Ridwan yang bertugas pada kasus pembunuhan.
"Tidak apa-apa kan? Yang terpenting kamu bisa bertemu langsung dengan Nenek." Ucap Sani pada Tri. Tapi ucapannya itu tak dihiraukan sama sekali. Sani merasa aneh tapi beruntung karena dia ingin mengerti perasaan Tri saat itu. Tentu saja Tri yang mengalami trauma berat apalagi setelah mendengar Neneknya meninggal pasti jiwanya tidak begitu stabil. Dia bersikap seperti itu bisa saja karena terlalu sedih.
"Oh kalian. Ada yang ingin ditambahkan untuk keterangan saksi? Silahkan duduk dulu!" Pak Ridwan langsung mempersilahkan agar Sani dan Tri duduk. Polisi yang sudah membawa mereka langsung keluar ruangan.
"Sekarang sudah siap? Silahkan dimulai!" Ucapnya lagi memberikan instruksi.
Sani memandangi Tri yang masih diam saja dan tidak berubah. Dia gugup sedikit tidak berani untuk mengatakannya, harusnya Tri yang berbicara tapi melihat kondisi Tri dia tidak yakin.
"Silahkan bisa dimulai!" Polisi itu kembali memperingatkan.
Sani terperangah dan gugup. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk berani mengatakan keinginan Tri.
"Sebenarnya, Tri yang meminta ingin bertemu dengan Neneknya yang meninggal. Pakah boleh? Karena Tri adalah cucu dari korban." Terang Sani.
"Oh, untuk itu saya sepertinya tidak bisa memberikan persetujuan karena untuk sementara jenazah korban sudah ditangani oleh tim khusus."
__ADS_1
"Tapi Tri ingin bertemu dengan Neneknya, hanya sekali yang terakhir ini." Sani merasa sudah tak tahan lagi, akhirnya dia merasa sangat sedih mengatakannya.
"Saya akan membantu kalian untuk menghubungi tim polisi, dan apakah saudari Tri siap untuk saat ini?" Tanyanya.
Tri berbalik melihat Tri yang sudah tampak aneh.
"Tri. Tri. Kamu mau sekarang? Bisa kamu katakan pada polisi!" Seru Sani.
Tanpa reaksi apapun, Tri hanya berbalik dan tampak linglung saat itu. Melihatnya membuat Sani semakin bingung, sekarang ditambah dengan perasaannya yang semakin cemas.
"Dia tidak baik-baik saja, sebaiknya sekarang kita pergi ke dokter." Saran Pak polisi untuk masalahnya.
Sani menyetujui langkah yang akan dilakukan, dia berharap jika Trinbaik-baik saja.
Saat Sani berniat untuk memapah Tri namun tiba-tiba tubuhnya ambruk tak tertahan sampai jatuh pingsan dengan sendirinya. Melihat itu Sani semakin panik, beruntung sekali karena mereka masih di kantor polisi, Sani bisa merasa aman untuk membawa Tri ke rumah sakit dan untuk perawatannya.
Sani tidak tahu apapun, dia bahkan tidak bisa merasakan beban yang sedang ditanggung oleh Tri saat itu, seberapa besar itu dia tidak bisa merasakannya.
Mobil ambulan dengan sigap datang dan menjemput Tri ditemani Sani menuju rumah sakit tujuan. Harusnya Sani menghubungi Andre, dia akan butuh orang lain kan. Tapi bagaimana caranya?
"Pak, apa saya bisa menghubungi Andre?" Tanya Sani pada seorang polisi di sampingnya. Beruntung sekali karena Pak Ridwan yang baik mengantar mereka.
"Andre?"
"Lelaki yang waktu itu bersama kami, dia Andre." Terang Sani berharap agar polisi bisa mengingatnya.
"Kalau tidak salah dia bersama tim lain, melakukan penyelidikan dengan kasus perawat yang bunuh diri." Terang Pak Ridwan dengan santainya.
Sani langsung diam dan tak bisa berkata apapun lagi setelah mendengarnya. Dia cukup kecewa karena kasus lain apa lagi yang sedang dihadapi Andre?
__ADS_1