Dunia Mu

Dunia Mu
Perjalanan ke rumah sakit


__ADS_3

Sani sangat penasaran dengan tingkah Andre saat itu, dia terus melihat ke arah Andre yang masih saja menundukkan kepalanya.


"Sudah sampai!" Seru Andre.


Sani langsung melihat sebuah bangunan rumah yang ada di pinggir jalan tepat di depannya.


"Rumah Pak Rais?" Tanyanya.


Andre mengangguk dan mendahului lagi berjalan masuk ke halaman rumah.


Sani hanya mengikutinya saja tanpa bertanya-tanya lagi, apalagi merasa curiga seperti tadi.


Saat masuk ke halaman rumah dari arah pintu utama rumah terlihat masih terbuka, ada seseorang yang masih melamun di ambang pintu.


"Assalamualaikum." Ucap salam Andre dengan sikap rengkuh dan santun.


Seorang wanita yang melamun tadi langsung menyambut dan menjawab salam Andre. Sesuatu yang tak disangka saat terlihat air matanya berlinang dan tampak tangisnya ingin pecah.


"Bu, maaf saya kemari dengan teman." Ucap Andre terlihat sedikit merasa bersalah.


"Masuk ya Nak, yuk masuk!" Balas Ibu itu sambil tangannya memegang lengan Sani dan menuntunnya agar masuk ke dalam.


"Ibu masih belum beres-beres. Tadi sempat ada pengajian tahlil almarhum." Jelasnya.


Memang terlihat ada beberapa piring yang tertata di atas lantai saat masuk ke ruangan tamu.


"Maaf Bu saya merepotkan." Ucap lagi Andre.


"Ibu dan Bapak sudah menunggu dari tadi. Tapi kenapa Ibu tidak melihat Nak Tri, kemana?"


"Jadi Tri masuk rumah sakit, Bu." Terang Andre tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Astagfirullah, Tri masuk rumah sakit? Dari kapan? Nak Andre kenapa baru bilang." Reaksi Ini itu terlihat sangat khawatir.


"Saya baru tahu dari teman saya, Bu."


"Bapak!"


"Bapak!"


"Tri masuk rumah sakit, cepat Pak!"


Tak lama kehebohan ibu itu langsung terlihat, dia berusaha memanggil suaminya yang langsung terburu-buru menghampiri.


Mirip dengan Pak Rais, begitulah kesan pertama yang Sani lihat saat melihat Bapak-bapak yang merupakan suami dari Ibu itu.


"Bagaimana Bu?" Tak kalah cemas, bapak-bapak itu memperlihatkan kecemasannya.


"Di rumah sakit mana Nak Andre? Ayo kita semua siap-siap pergi." Sigapnya pasangan suami istri yang menurut tebakan Sani jika Bapak-bapak itu pasti anak dari Pak Rais, karena ada kemiripan dari wajahnya saja.


Andre tak banyak bicara, dia dan semua orang langsung keluar rumah. Pertama Bapak-bapak yang lebih dulu jalan di depan semuanya, pergi ke arah grasi yang letaknya ternyata harus melewati jalan tadi keluar dari halaman rumah dan berjalan memutar hingga sampai di halaman rumah sakit. Rupanya mobil milik mereka diparkirkan terpisah, hingga perlu berjalan dulu untuk sampai.


Andre masuk ke dalam mobil duduk bersama Sani di jok belakang penumpang.


"Nama rumah sakitnya apa?" Tanyanya.


"Cempaka Raya." Ucap Sani menjawab.


Tak menunggu lama mobil langsung melaju ke arah jalan yang sepertinya hanya mendengarkan nama rumah sakit bapak-bapak itu sudah bisa langsung mengetahuinya.


Keadaan di dalam mobil masih diam, semua orang sibuk dengan perasaan panik yang mungkin membuat pikiran orang-orang tidak bisa tenang.


"Sejak kapan Nak Tri dibawa ke rumah sakit? Memangnya dia sakit apa?" Tanya Bapak-bapak mengatakan hal yang sama juga seperti yang dikatakan istrinya tadi.

__ADS_1


Andre diam tidak menjawab seolah dia sengaja memberikan kesempatan Sani agar menjawabnya.


"Tadi siang, awalnya Tri pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit." Timpal Sani menjawabnya singkat. Sebetulnya dia gugup karena baru pertama kali bertemu.


"Sampai dibawa ke rumah sakit, Pak. Ibu jadi khawatir." Celoteh Ibu itu.


"Mudah-mudahan bukan apa-apa, Bu. Bapak juga sangat khawatir dan prihatin sekali, kasihan Neng Tri." Dari nada bicara dua orang itu Sani hanya menyimak dan sedikit paham mungkin mereka sudah sangat akrab dengan Tri dan keluarganya.


Sementara Andre yang masih duduk diam saja tanpa mengatakan apapun, tingkahnya sama seperti tadi selalu menundukkan kepala ke arah bawah. Melihatnya Sani sangat tak mengerti dan ingin sekali langsung bertanya alasannya, tapi karena saat itu ada orang lain juga tidak mungkin dia membahas hal sepele seperti itu di hadapan orang-orang.


Sani kembali mengalihkan perhatiannya ke arah lain, tak menghiraukan lagi Andre yang masih banyak diam.


Tanpa semua orang tahu dan mungkin tidak akan pernah ada yang mengerti dengan sikapnya, Andre seperti itu jelas karena masalah penglihatannya yang berbeda dari kebanyakan orang, dia juga merasa cukup tersiksa dan sebagian besar hatinya tak terima. Tapi mau bagaimana lagi? Terlepas dari kalung yang pernah diberikan Neneknya DNA juga kalung dari Anis, sekarang keadaan Andre bisa dikatakan semakin memburuk. Penglihatannya tidak mengenal waktu lagi, dan bukan hanya melihat kali ini dia lebih sering mendengar suara-suara yang berasal dari makhluk seperti mereka.


Tepatnya ketika dia duduk sekarang telinganya jelas mendengarkan suara anak kecil seperti sedang bermain, entah dari mana asalnya dia tidak berniat untuk melanjutkan rasa penasaran itu. Bukan hanya suara, yang tampak nyata dan tak bisa ditolaknya saat sesuatu penampakan, bayangan yang muncul dari depan kaca mobil membuat dia langsung duduk kaku tak bisa melihat ke arah itu lagi.


"Astagfirullah, Pak. Kenapa tiba-tiba direm seperti itu?" Celoteh istrinya yang mungkin terkejut, tapi bukan hanya kedua orang yang duduk di depan, Andre dan Sani juga cukup terkejut.


"Tadi Bapak kaget ada orang berdiri Bu di depan jalan." Jelas suaminya yang langsung membuat merinding seisi mobil.


"Mana pak? Ngawur, Ibu gak lihat apa-apa kok dari tadi." Protes isterinya yang mungkin memang tidak melihat apapun.


Berusaha memberanikan diri Andre menggerakkan wajah dan melihat ke arah mereka. Betapa terkejutnya dia saat melihat satu tangan putus tepat sedang menghalangi mata Pak Dean. Degup jantung langsung berirama tak beraturan, bentuk tak sempurna seperti ini yang lebih menakutkan bagi Andre, meski dapat melihatnya tapi Andre bingung harus melakukan apa untuk menghilangkan makhluk usil di jalanan seperti ini.


Mobil tak lama kembali melaju, percakapan diantara Pak Dean dan Istri terus terdengar. Asumsi istrinya ingin mengajak Pak Dean terus bicara agar tak mengantuk, bisa saja kejadian tadi karena Pak Dean mengantuk.


"Kok berhenti lagi Pak?" Protes istrinya saat kali kedua Pak Dean kembali melakukan kesalahan seperti tadi.


"Ada orang lewat, Bu. Bapak lihat tadi makanya Bapak langsung berhenti." Alasan Pak Dean seperti itu.


Mendengarkan dengan jelas keluhan Pak Dean sebenarnya Andre bisa langsung tahu tapi dia masih tidak bisa mengatakan apapun.

__ADS_1


"Berdoa duku deh Pak! Bikin Ibu merinding aja dari tadi." Sarannya.


Alhasil setelah berdoa selama perjalanan tidak ada lagi drama sama, membuat hati semua orang di dalam mobil merasa lega.


__ADS_2