Dunia Mu

Dunia Mu
Rahasia Anis


__ADS_3

Lampu menjadi padam Andre berusaha mencari kesana kemari dengan matanya, tapi dia langsung sadar ada sesuatu yang lebih aneh dari lampu yang tiba-tiba mati. Anis tidak berteriak atau berbicara apapun, bukankah hal wajar jika perempuan akan ketakutan saat suasana gelap karena mati lampu? Tapi Andre saat itu tidak mendengar apapun bahkan seperti bisikan sekalipun. Andri langsung mematung diam, dia bingung apakah harus berbicara dan memastikan jika Anis aman bersamanya? Atau hanya memilih diam saja? Tetap saja akhirnya Andre memilih diam, dia tidak akan mempunyai keberanian untuk bertindak apapun karena Andre juga tidak terbiasa berbicara dengan perempuan yang baru dikenalinya.


Suasana menjadi hening beberapa menit.


Hingga sebuah suara napas yang terdengar lantang dan ngos-ngosan melintas tajam melalui indera pendengaran Andre. Andre tidak yakin jika itu adalah manusia biasa? Bagaimana bisa suara napasnya seperti itu?


Tak terasa keringat dingin keluar dari pori-pori kulit tangan dan sebagian lain keringat menetes dari kening Andre. Dia yakin kali ini tangannya gemetar sendiri karena ketakutan. Bahkan mulutnya bungkam seperti menjadi bisu. Untuk bergerak pun Andre yakin tidak bisa, dia tidak memiliki keberaniannya. Mentalnya seperti dipukul telak tapi tidak mungkin harus menangis seperti anak kecil karena ketakutan.


Suasana menegangkan berlangsung tidak lama saat cahaya lampu kembali terang menembus retina mata.


Andre melihat ke arah lampu uang sudah menyala. Rasanya sangat beruntung karena mati lampu tidak berlangsung lama.


Saat berbalik Sepasang mata Andre langsung menangkap sorot mata Anis. Dari ekspresi keduanya bisa langsung ditebak dan diartikan jika mereka berdua benar-benar merasakan ketakutan yang sama.


Andre segera mengalihkan matanya menyembunyikan lagi sisa ketakutan tadi dari Anis.


Rasanya napas yang naik turun masih menyisakan rasa trauma tadi. Membayangkan kembali sosok dari suara napas yang terdengar menakutkan membuat Andre harus merinding ngeri.


Tak sengaja Andre kembali berbalik dan matanya langsung menangkap lagi tatapan Anis.


Suasana menjadi canggung, Andre malu karena dia tidak bisa memperlihatkan ketakutannya yang tersisa saat itu, dan Anis juga masih diam tak bergeming.


Beberapa saat berlalu.

__ADS_1


"Em. Mas, tidak apa-apa?" Tanya Anis terdengar ragu-ragu.


"Ah tidak. Adek sendiri bagaimana?" Jawab Andre.


"Tidak juga Mas." Jawab Anis singkat.


"Mas Anis gak berani keluar, gak apa-apa Anis di sini?" Tanya Anis.


Andre diam sejenak terlihat mempertimbangkan sesuatu. Terdengar berat untuk mencari alasan yang lebih terdengar pantas. Bagaimanapun dia tidak mungkin satu kamar dengan Anis.


"Ah tidak Mas, Anis pulang ke kamar sekarang aja ya." Tiba-tiba Anis langsung mengambil keputusan.


Andre terlihat bingung, tapi itu kabar baik kan? Dia langsung mengangguk pelan.


Padahal tadi Anis akan menceritakan semuanya. Padahal tadi juga Andre sudah memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Tapi bagaimana bisa setelah kejadian tadi membuat keberanian Andre kini terbangun utuh. Andre tidak bisa membayangkan kengerian apapun di luar sana, dia tidak mau menghadapi suasana yang lebih dari tadi. Pokoknya hanya malam ini saja, Andre harus bisa melalui malam ini dan bertahan sampai besok dia memutuskan untuk pergi dan mencari tempat lain karena tidak mungkin dia pulang melanjutkan kerja di komplek perumahan itu lagi.


Andre menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Dia masih berdiri memandangi seisi ruangan yang menampung dirinya sendirian. Matanya bolak-balik menatap setiap sudut ruangan, dan hatinya tidak berhenti gelisah apalagi setelah kejadian yang terjadi baru saja menimpanya.


Napas yang terdengar tadi masih terngiang jelas di telinga meski kenyataannya sekarang dia tidak mendengarkan apapun dan suasana sudah lebih baik dari sebelumnya. Tapi Ken tidak begitu saja merasa tenang, setiap melihat ke sisi kiri atau kanan dia merasakan dengan nalurinya bahwa mungkin ada sepasang mata tak terlihat sedang mengawasinya. Saat berbalik melihat pintu kamar mandi tiba-tiba saja mentalnya menjadi turun, Andre semakin merasakan takut dan banyak bayangan merasuk ke dalam ingatannya.


Mungkin di dalam sana ada sosok lain yang sedang duduk di belakang pintu, mengendap diam padahal ikut mengawasi gerak-gerik Andre di ruangan berbeda.


Andre membayangkan bau bangkai yang sempat tercium olehnya di kamar mandi, sekarang dia baru sadar arti dari bau menyengat dan mengganggu itu. Neneknya pernah bercerita kehadiran makhluk itu ditandai dengan beberapa hal dan salah satunya bau yang tadi.

__ADS_1


Sedikit ingatan itu merasuk masuk membuat ketakutan Andre semakin nyata. Saat melihat baju yang tergantung pun bayangan makhluk lain langsung dibayangkan, tapi yang lebih membuatnya takut saat bayangan jin wanita itu muncul lagi.


Andre masih terdiam di belakang pintu. Dia tidak berani untuk melangkah sejengkal pun dari tempatnya berdiri, ditambah samar terasa angin dingin menangkap tengkuk Punduk dan membuat dia merinding.


Baru saja mendapatkan serangan dari pikirannya sendiri mental Andre langsung turun lagi, dia menyesal membiarkan Anis pergi karena seharusnya Anis tetap diam. Pilihannya salah, Andre tidak tahan lagi dia langsung berbalik menghadap pintu dan bersiap keluar dengan tangan yang sudah memegang kunci dan sebelah tangannya lagi sudah memegang kenop pintu.


"Jangan keluar!"


Suara samar terdengar menyambarnya hingga Andre hanya bisa mematung tanpa kata-kata. Tubuhnya mematung diam setelah merasakan sesuatu yang sudah berbisik ke daun telinganya, bahkan Andre merasakan napas dingin dan sekarang terasa mencekik lehernya saja.


Andre melotot di balik pintu, dia ingin keluar tapi sesuatu mencegahnya. Tapi untuk apa mendengarkan bisikan yang tidak terlihat wujudnya itu? Atau saja itu hanya sengaja untuk menahannya tetap tinggal dan sesuatu akan terjadi di luar keinginannya?


Tidak menunggu waktu lagi Andre menarik kenop pintu hingga berhasil terbuka. Sekarang harus lebih mementingkan logika dan kewarasannya, karena itulah alasan Andre mengapa dia keluar dari kamar hingga berlari ke pintu kamar yang tadi disebutkan Anis bahwa dia tidur di kamar itu.


Andre bahkan mengetuk pintu dengan tidak sabar, bukan mengetuk lagi lebih tepatnya menggebrak pintu dengan kencang sambil cemas memanggil-manggil Anis agar cepat keluar.


Pintu tak lama langsung terbuka dari arah dalam benar saja Anis keluar, dilihat sekilas Anis juga sedang merasakan ketakutan yang sama. Tak diduga tangan Anis yang gemetar menarik lengan Andre hingga berhasil membawanya masuk ke dalam.


Anis baru bisa tenang saat dia dan Andre sudah ada di dalam, begitupun yang dirasakan Andre sebaliknya.


Napas yang naik turun dan setengah terengah-engah kesulitan. Apalagi Andre yang sudah berlari tadi dia cukup kesulitan mengatur irama napasnya.


Andre melihat Anis di sampingnya dan sebaliknya Anis. Saat Andre ingin duduk Anis terlihat melotot dia lupa mengunci pintu, Anis bergegas mengunci pintu lagi.

__ADS_1


__ADS_2