
Bu Ratih terlihat sedikit menarik napas nampak dia kembali melamun mencari beberapa ingatan di masalalu lagi. "Dia putri ibu satu-satunya, dua tahun yang lalu mengalami kecelakaan di jalan dan meninggal." Ungkapnya yang terdengar begitu berat, apalagi saat pikirannya kembali membayangkan sebuah kecelakaan tepat di depan jalan rumah sakit itu.
"Maaf Bu, rupanya saya sudah lancang bertanya." Ucap Andre merasa bersalah.
"Ah sudah tidak apa-apa wajar saja Nak Andre bertanya kan, lagi pula Ibu masih memajang fotonya di sini." Terang Bu Ratih. "Ibu tidur duluan ya!" Lanjutnya lagi.
Di mata Andre saat itu, dia masih penasaran sebenarnya mengenai dua anak kecil yang mengikuti Bu Ratih. Keduanya tampak menyedihkan dan seperti sudah mengalami kecelakaan berat. Tampak anak perempuan yang dari tadi memegangi tangan kanan yang sudah terputus dan anak lelaki yang lebih kecil darinya tampak jika dilihat dari bagian belakang kepalanya menganga belah.
Andre duduk di atas kasur yang sudah Bu Ratih rapihkan di bawah lantai. Dia meraih sebuah bantal dan tidur. Padahal sudah hampir jam 2 subuh tapi rasa ngantuk tiba-tiba saja hilang, sebenarnya kenapa?
Andre menghela napas dia melamun panjang sendirian, rasa tidur yang sudah hilang membuat Andre bosan dan sudah berapa kali balik memposisikan tubuhnya untuk tidur. Anehnya mata dia tetap segar tak sedikitpun mengantuk.
Seketika Andre bangun dan memeluk kedua kakinya. Sudut matanya melihat ke arah dia orang yang sudah tertidur di atas kasur, tapi dia sedikit kembali terperanjat kaget karena sosok nenek-nenek masih mengikuti Sani.
Andre segera membuang wajahnya ke arah lain, dia takut jika nenek-nenek itu balik menatapnya aneh.
Kali ini Andre sudah siap untuk tidur, tidak ada alasan lain dari pada terus bangun dan melihat banyak penampakan muncul dimana-mana.
#####
Di dalam ruangan yang sudah tidak banyak orang lagi, sebagian memilih pulang ke rumah yang tidak jauh bagi anggota polisi kebanyakan tinggal di perumahan di seberang jalan utama.
__ADS_1
Bisa terhitung sebagian yang masih terjaga dengan tugas mereka yang harus diselesaikan sebagai bahan laporan siang besok.
Tak terkecuali dengan beberapa orang polisi yang mengurusi kasus Anis seorang perawat bunuh diri di depan kamar kosannya. Ada sebuah tim khusus dan 1 tim terdiri dari 4 orang yang sudah melakukan pencarian bukti ke TKP bersama Andre di hari kemarin.
Hasilnya bisa dikatakan Nihil, karena buku harian yang disebutkan Andre sudah tidak ada termasuk dengan semua barang apapun yang ditinggalkan Anis di kamarnya. Polisi sedikit menegur pihak pemilik karena seharusnya TKP tidak tersentuh sedikitpun agar memurnikan penyelidikan. Tapi apa daya jika sudah terjadi hal demikian dan hanya sedikit laporan yang bisa dicatat untuk sementara ini.
Rasa kantuk setelah hari yang melelahkan diisi dengan begitu banyak urusan dan kesibukan, para polisi yang selalu ada untuk masyarakat dan akan terbuka untuk laporan demi laporan yang datang. Tanpa terkecuali sekecil apapun kasus harus dituntaskan dengan cara hukum dan diatasi oleh pihak petugas yang paling berhak.
Pak Ridwan sudah memperlihatkan bagaimana saat itu dia sedang memerangi rasa kantuk yang tanpa ampun, padahal kasus Anis harus segera tuntas besok.
Tak terasa saat jarum pendek jam melewati angka 1 dini hari, kelopak mata Pak Ridwan benar-benar sudah terlelap menikmati sedikitnya waktu untuk mengistirahatkan mata dan pikiran yang sangat lelah.
Hari yang melelahkan ini benar-benar membuat Pak Ridwan harus berperang dengan perasaannya sendiri, bahkan tertidur di meja tugas itu hal yang biasa.
Matanya yang masih sayu luput dari kantuk menerawang ke ruangan yang tampak remang, pandangan Pak Ridwan segera terganggu dengan kehadiran seseorang yang berdiri tegas di hadapannya. Pak Ridwan terperanjat kaget hingga sekarang dia sudah jelas melihat seorang gadis tak lain dari korban yang sedang dia urusi permasalahannya.
Pak Ridwan mematung, baru kali ini dia bermimpi telah bertemu dengan seorang gadis yang sudah meninggal dan sangat jelas melihat ke arahnya dengan tatapan seram.
Semakin lama Pak Ridwan berpikir tapi penampakan yang nyata di hadapannya semakin tegas saja. Hingga matanya terbelalak kali ini bukan mimpi tapi gadis itu nyata ada.
Pak Ridwan sudah bersiap untuk kabur, tapi tanpa diduganya Anis memberi tahukan sesuatu padanya menunjuk pada satu arah yang membuat bola mata Pak Ridwan bergerak mengikuti arah tangan Anis.
__ADS_1
Perasaan takut dan dag dig dug jantung yang berdegup tak beraturan bercampur menjadi satu dan membuat suasana kian tegang, seperti Pak Ridwan sedang berada di tengah tanah luas pemakaman. Dia merasakan betapa kakinya lemas saat itu.
Dan sekarang pemandangan lain yang dia tonton membuatnya sulit sekali bernapas.
Ada seorang lelaki tua tentu saja Pak Ridwan sudah kenal lagi karena dia adalah Bapak pemilik kosan Anis yang tempo hari dia sudah melakukan penyelidikan di sana.
Ada seorang gadis muda yang disuruh untuk membuang sejumlah barang, di mulai dari tas besar yang entah berisi apa dan juga kardus-kardus yang sudah dibungkus rapih. Perasaan mulai heran mengapa dia harus menonton itu? Tapi tiba-tiba gadis itu memperlihatkan wajahnya dan sontak mata Pak Ridwan tak bisa berkedip lagi, dia adalah seorang perawat yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan Anis. Lalu apa yang gadis itu terima hingga mendapatkan begitu banyak upah.
Sekilas Pak Ridwan beluk mengerti jadi dia hanya menonton saja tanpa berpikiran lain.
Dan saat berbalik di hadapannya sudah berdiri Anis yang sangat dekat sekali dengan tempatnya duduk. Perasaan kian tak menentu dibuatnya, Pak Ridwan tak mengerti mengapa dia bisa dihantui seperti ini? Tapi tak lama hantu itu menghilang lagi dan di hadapannya sudah ada tontonan yang lebih membuat matanya tercengang. Sebuah tontonan menjelaskan tentang bagaimana Bapak pemilik kosan melakukan pesugihan seperti yang disebutkan oleh Andre dalam penjelasannya. Kini dia yakin jika telah terjadi sesuatu, tapi anehnya dalam penyelidikan semua benda yang dipakai untuk pesugihan tidak ada. Dan sekejap mata Pak Ridwan melihat lagi jika pemilik kosan sedang berjalan di tempat yang berbeda, di luar gedung yang entah dimana.
Perasaannya mulai curiga tapi Pak Ridwan saat itu hanya bisa menyaksikan. Terakhir ada sebuah keresek yang ditanam di tanah itu.
"Pak Ridwan!"
"Pak Ridwan!"
Panggilan yang berulang itu terdengar di telinga Pak Ridwan, seketika Pak Ridwan terbangun dan sudah mendapati dirinya yang tertidur di atas meja kerja.
Pak Ridwan melihat seseorang yang ada di hadapannya menatap Pak Ridwan dengan serius.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Pak Ridwan langsung.
"Ada panggilan kasus baru Pak!" Ungkapnya membuat Pak Ridwan harus merasa lelah lagi, padahal baru saja dia hanya bermimpi tapi seolah itu nyata dan membuat dia capek.