
"Kenapa dia datang lagi di waktu yang tidak tepat." Gumam lelaki yang selalu berpakaian rapih memakai jas dan dasi, berdiri memandangi mobil hitam yang baru saja melaju ke arah gerbang rumah.
"Bos!" Seru seseorang di balik pintu. Orang tadi yang sudah membawakan tas Sani.
Buru-buru pria yang tidak muda lagi namun karena perawakan atletisnya dengan perawakan yang tinggi terlihat cukup mempesona bagi kaum muda, perempuan tidak akan menolaknya dengan banyak alasan karena selain kaya juga tampan.
"Sial!" Gerutunya lagi kesal. Asal kemarahannya tak lain karena tadi kedatangan Sani ke rumah.
Seorang perempuan datang menghampiri, perempuan seksi berbalut busana dengan belahan tinggi dan sebatang rokok yang nikmat sekali dihisapnya dari tadi. "Tenang saja anakmu itu pasti tidak berani datang lagi kesini." Ucapnya percaya diri.
Lelaki yang tak lain adalah ayahnya Sani hanya membalas ucapan itu dengan tatapan matanya, namun dari raut wajah kini jelas tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir.
"Aku bisa menjaminnya, percayalah." Ucapnya meyakinkan. Bahkan sekarang dengan berani mulai duduk manja di pangkuan ayahnya Sani.
"Bos. Maaf!" Ucap seseorang yang tadi berlari menghampiri dan langsung bicara gugup karena melihat adegan yang tak biasa oleh majikannya. Sambil tertunduk dan berusaha mengatakan apa yang akan dilaporkannya.
"Ada apa?" Tanya wanita itu kesal.
"Rupanya janin wanita tadi tertinggal." Jawabnya dengan nada gemetar, takut.
"Mau apa lagi? Cepat bereskan!" Jawab ayahnya Sani singkat.
Benar, ada perempuan yang sedang hamil dan sudah mengugurkan kandungannya. Memaksa janin dalam rahimnya untuk keluar hingga dia sendiri harus tewas di tempat.
__ADS_1
"Apa kita sudah cukup janin? Rupanya misi kali ini gagal karena kita akan kehilangan uang banyak sayang, aku sampai pusing memikirkannya." Ucap wanita itu sedikit cemas namun bukannya merasa iba dan bersedih malah sebaliknya.
"Apa kita cari saja orang-orang yang sudah mati, rasanya aku sudah membunuh banyak orang." Jawab ayahnya Sani dengan gelisah.
Suutt...
Ditahannya mulut lelaki tua nan mempesona itu dengan salah satu jari lentik perempuan yang masih betah duduk di atas pangkuannya.
"RE-SI-KO." Ucapnya singkat namun bisa membungkam kekhawatiran ayahnya Sani.
"Oh ya sayang, aku dapat telpon tadi dari guru katanya kau harus transfer sekitar 12 juta untuk rumah mu ini." Lanjutnya lagi tampak menjelaskan sesuatu yang dia tahu.
"Aku tahu, itu sangat penting. Aku akan mengtransfernya dan jika bisa aku ingin ke rumahnya lagi ada yang ingin dibicarakan." Jawab Ayahnya Sani saat itu, tampak serius.
"Yang pasti itu penting." Ayahnya Sani tampak tidak begitu baik-baik saja, raut wajah nya mengatakan kecemasan yang sedang dirasakan saat itu dan tak lain pasti karena anaknya.
Tak betah dengan suasana yang tiba-tiba membuat perempuan itu beranjak pergi. "Aku mau pulang sekarang." Ucapnya tampak jutek.
Ayahnya Sani tampak terperanjat bangun. "Pulang?" Dengan terkejutnya dia memastikan.
"Hemm..." Sambil merapihkan tas mulai berjalan lenggang menuju pintu.
Ayah Sani semakin kesal namun dia lebih merasa cemas dan memikirkan Sani dibandingkan dengan perasaan kesalnya sekarang yang tidak ada artinya. Tanpa menjawab lagi dia membiarkan perempuan yang baru saja datang itu kembali pulang.
__ADS_1
"Bos, semuanya sudah beres. Aku akan mengantarkan sisanya sekarang." Pamit orang yang dari tadi melapor ke ayahnya Sani.
Ayahnya Sani masih tak bergeming hingga sikapnya itu membuat bawahannya paham dan langsung pergi.
Ayahnya Sani kemudian duduk, cukup lama termenung melamun sendirian. Perasaannya terasa hampa, semua sudah terlanjur terjadi sejak kematian mendiang ibunya Sani. Dan bisnis kotor yang dilakukannya sudah terlanjur membuat hidup dia bisa sejauh ini, tidak ada yang perlu disesali kan?
Namun siapa yang tahu, lelaki yang selalu bersikap dingin di hadapan anaknya, bersikap sekolah tak memperdulikan keluarganya, mengabaikan semua, dan terutama membuat Sani jauh sekali Dari keluarganya. Semua yang dia lakukan adalah salah satu yang terbaik dan tak pernah satu orang pun tahu sebenarnya beban yang dia tanggung dengan semua akibat Darii perbuatannya.
Sang ayah tak akan pernah berpikir untuk kemalangan yang akan dihadapi oleh anaknya sendiri, tidak akan pernah berpikir akan penderitaan anaknya. Apapun meskipun pahitnya kemiskinan namun ayah tetap ingin menjadikan anaknya tetap kaya. Itulah hati yang sebenarnya dia tahan sampai sekarang, bahkan rasanya karena beban itu untuk merasakan kembali pelukan putrinya sendiri rasanya tidaklah mungkin lagi. Dia tidak tahu apakah putrinya bisa bahagia suatu saat nanti?
Tak terasa saat itu juga suasana yang cukup membuat sedikit air mata menderai ke arah pipi. Baginya Sani adalah segalanya, dan keluarganya juga adalah segalanya. Dia sengaja menjauhkan semua keluarga agar tidak ada resiko yang membuat semuanya celaka, dia tidak mau karena ulahnya ini bahkan semua keluarga akan menanggung akhirnya. Cukup hanya melindungi satu orang saja, cukup Sani yang ada di dekatnya dan dengan sekuat tenaga dia sebagai ayah akan menjauhkan Sani dari apapun itu yang membahayakan.
Pandangannya sekarang jauh melihat ke arah depan. Tampak dalam penglihatan yang dia dapat bukanlah ruang rumah dan dinding rumah namun pemandangan yang tak akan mampu dilihat oleh mata biasa. Benar saja penglihatan mata batinnya itu memang sudah dia miliki turun temurun dan sampai saat ini dia sudah menyembunyikannya.
Pemandangan yang cukup membuat buku kuduk bergidik ngeri. Tampak seorang wanita yang memiliki taring sampai dada, lidah panjang menjuntai menjilati darah yang berceceran di lantai. Tubuhnya besar bahkan tak bisa digambarkan bagaimana matanya yang panjang dan hampir menyatu dengan hidung menyeramkan itu. Selain penampakannya sekarang yang ada di seluruh ruangan rumah itu adalah sosok yang pernah dilihat oleh Andre juga. Tampak seperti manusia laba-laba, menempel memenuhi tembok-tembok rumah hampir penuh. Sosok itu tak laik adalah penjaga rumah yang sudah di korbankan. Dan sosok wanita yang bisa dikatakan raksasa adalah sosok yang haus akan pemujaan manusia yang khilap.
Setelah beberapa menit menyaksikan sedikit pemandangan mengerikan di rumah, ayahnya Sani kemudian menutup mata menahan napas beberapa detik. Kemudian saat membuka mata pandangan itu hilang dari hadapannya. Dan karena penguasaan pada mata batinnya sendiri yang membuat dia bisa mengatur kapan bisa melihat dan menutupnya.
Dan saat menghela napas tenang namun sesuatu membuatnya cepat menoleh ke arah lain. Ada sesuatu yang sudah datang seorang perempuan berpakaian putih, roh yang selalu ada di sekitar Sani. Namun aneh mengapa kali ini roh itu datang sendirian? Untuk apa?
Lamanya berpikir ayahnya Sani akhirnya memutuskan untuk memeriksa sesuatu yang ada di lantai kamar Sani, terutama jimat penghalang pintu, pemutus hubungan batin. Di sana jelas tertempel di balik pintu hanya untuk melindungi agar malam Sani tetap aman.
Saat terus berjalan langkah demi langkah, entah mengapa batinnya tampak hati-hati sekali saat itu. Dan ketika membuka pintu tampak tidak ada yang mencurigakan seperti biasa.
__ADS_1
Setelah sudah memastikan akhirnya Ayahnya Sani memutuskan untuk pergi lagi dari rumah.