
Andre mendengarkan dengan serius dua orang yang saling bergantian bercerita padanya.
"Katanya cari kontrakan ya Mas? Sebelumnya maaf kalau berkenan ini ada baju bisa dipakai, kasihan Masnya masih basah-basah seperti itu." Gadis itu bicara menghentikan sejenak obrolan sambil menyodorkan sebuah baju laki-laki di tangannya.
Andre senang menerima kebaikan yang jarang mungkin bisa didapatkan di kawasan perkotaan seperti ini, dia beruntung bertemu dengan orang-orang yang baik.
"Oh ia, silahkan untuk mandi dan ganti baju dulu ayo jangan sungkan nanti kita lanjutkan lagi." Ucap Bapak-bapak seperti pemilik rumah.
"Tri antar ke kamar mandi ya Mas ini." Perintahnya lagi pada gadis yang dipanggil Tri.
Andre berdiri dan mengikuti dari belakang.
Saat memasuki dapur di rumah itu langkahnya terhenti sejenak karena perhatian Andre yang tiba-tiba saja tertarik pada seorang Nenek yang duduk di sudut ruangan.
"Mas itu kamar mandinya bisa langsung dipakai." Seru gadis itu dan otomatis langsung memperhatikan Andre ketika memperhatikan sesuatu ke sudut di ruangan rumahnya.
"Mas!" Panggilnya karena Andre masih diam.
"Mas lihat apa?" Ucapnya lagi.
Setelah panggilan kedua dari gadis itu Andre langsung bisa mendengarnya, dia terperanjat dan tersenyum.
"Ia dek kenapa?" Tanya Andre seperti tidak mendengarkan.
"Itu kamar mandinya Mas!" Ucap Tri terlihat gugup dia juga buru-buru pamit dan kembali menuju ruangan tamu tadi.
Andre hanya santai saja dia turun dan memakai sebuah sandal yang ada, rasanya dia harus sangat bersyukur karena tanpa sengaja lagi kebaikan selalu datang menghampiri padanya.
Dibukanya pintu kamar mandi dan dia langsung memperhatikan ke arah air yang tenang, tapi matanya lebih tertarik dengan sesuatu yang dipantulkan oleh air itu. Andre melihat di atas air mungkin seharusnya ada penampakan dari makhluk yang hanya memiliki kepala tanpa badan sedangkan rambutnya tergerai menutupi wajah. Seketika mental Andre dipukul lagi dengan keras, hal wajar dia langsung merasa takut meskipun pemandangan itu kian sering dia temui, tetap saja Andre masih merasakan sensasi yang sama.
Perlahan Andre melangkahkan kaki tapi sudut matanya selalu mengarah ke sana, memperhatikan makhluk itu yang masih diam dari tadi.
Apakah kedatangannya bisa dilihat juga? Pikir Andre sedikit penasaran. Setiap gerakannya dia sangat hati-hati dan pelan, Andre pikir mungkin jika terlalu gaduh makhluk itu bisa langsung menyadari kedatangannya.
Perasaannya bercampur aduk, antara rasa takut dan cemas membuat Andre sama sekali tidak bisa tenang.
"Kamu harus tenang agar mereka tidak bisa melihatmu." Tiba-tiba terngiang jelas perkataan Neneknya waktu itu.
__ADS_1
Andre harus tenang, dia harus bisa mengendalikan perasaannya sendiri sebagaimana yang dikatakan Nenek dan itu berarti dia harus tenang.
Diambilnya air yang ada di dalam bak mandi itu, padahal dadanya masih merasakan degup kencang jantung yang berpacu dengan perasaan takutnya. Mau bagaimana lagi sekuat tenaga Andre hanya memaksakan diri, dalam-dalam diingatnya semua perkataan Nenek dan dengan serius dia melakukannya meskipun gemetar dari tangan tidak bisa ia tenangkan.
Kedua matanya sampai menutup rapat, Andre membuang pandangan saat berada dekat dengan air bak dimana di atasnya memantulkan bayangan tadi, dia tidak tahan tapi harus bisa. Tidak ada pilihan kan? Mana mungkin ada tempat tanpa mereka, pasti di setiap sudut dan ruang mereka semua ada, bahkan dikatakan makhluk seperti mereka sampai kiamat tidak akan mati. Sudah bisa dibayangkan seberapa banyak makhluk seperti mereka mengisi ruang dan tempat manusia.
Kalung yang Anis berikan masih menggantung di leher, dia tidak berniat untuk melepaskan meskipun Andre ragu dengan kegunaannya. Tapi Andre hanya berpikir sebelum bertindak dia harus membuktikan sesuatu dulu tentang kalung itu.
Saat tangannya kembali bersentuhan dengan kalung yang menggantung di lehernya membuat pikirannya kembali mengingatkan tentang Anis. Bagaimana dengan Anis sekarang? Apakah setelah kejadian semalam Anis baik-baik saja? Pikiran Andre selalu ingat dengan sosok Anis, padahal untuk apa mengingatnya terus? Sedikit mengherankan karena hatinya berulangkali mengusik lagi mengingatkan tentang Anis.
Selesai mandi Andre segera kembali ke ruangan tadi, saat melihat Nenek sepuh, paman tak dikenalnya, dan satu orang lagi, juga Tri pemilik rumah. Awalnya mereka terlihat serius bicara dan saat kedatangan Andre terlihat kompak menjadi diam bersikap seolah-olah tidak ada yang diceritakan dari tadi. Padahal mata Andre tidak salah melihat, orang-orang sedang berbicara mungkin sudah lama juga.
"Mas duduk di sini Tri udah siapkan sarapan ya sekalian kita sarapan bareng." Ucap Tri padanya sambil pamit pergi ke dapur, mungkin Tri mengambil sarapan seperti yang dibicarakan.
Andre hanya bisa sabar dan menganggap bahwa tadi dirinya tidak melihat apapun, karena jika seperti itu mungkin tidak akan ada suasana canggung diantara mereka lagi.
Di satu kursi kosong Andre duduk sebelumnya saat melihat orang-orang Andre kembali tersenyum ramah kemudian berterima kasih karena sudah baik padanya.
"Aden ini siapa namanya?" Tanya seorang diantara mereka.
Andre tersenyum. "Saya Andre." Jawab Andre singkat.
Andre terlihat menghela napas lalu berpikir lagi sebuah jawaban terbaik yang akan dia ceritakan. Matanya juga tak lepas memastikan tatapan orang-orang, satu persatu tanpa terlewat sebelum bibirnya yang terasa Kelu untuk bicara tapi Andre tidak ingin mereka kecewa bahkan sampai berpikir baik tentangnya. Karena itu apa salahnya Andre mengatakan segala hal. Kecuali tentang insiden yang terjadi malam tadi, Andre masih tidak bisa tenang dan dia takut jika menceritakan sesuatu yang terjadi di sekitar tempat ini hal itu malah membuat keadaan yang tidak dia inginkan.
Andre menarik napas dan bercerita. "Sani, dia sebenarnya teman dari sahabatku. karena suatu insiden di kampung sahabatku meninggal, Sani merasa terpukul sampai dia di diagnosa gangguan jiwa." Jelas Andre terdengar lemah.
"Oh jadi Nak Andre ini menunggu Sani temannya?" Timpal satu orang dari mereka seperti kalimat bersambung.
"Kenapa bisa mau direkomendasikan ke rumah sakit itu?" Sambung q-bapak yang satunya lagi.
Andre terperanjat mendengarnya, karena dia tidak tahu mengapa harus ke rumah sakit ini.
"Ah itu. Saya juga tidak tahu." Jawab Andre.
"Begini ya Bapak bukan mau menakuti ini sih cerita sudah lama tapi sebaiknya Nak Andre tahu." Jelasnya.
"Kejadian 2 tahun lalu Putri Nenek." Nenek yang sepuh menambahkan.
__ADS_1
Andre hanya melihat saja dengan bingung.
"Jadi putrinya Nek Susi ini tepatnya Adik dari Tri dia mengalami gangguan jiwa dan dirawat di sana. Tapi kejadian ganjil terus saja terjadi, dari mulai mal praktek rumah sakit, tumbal rumah sakit, dan itu baru dugaan kami kalau saja pasien di sana sebagai praktek ilmu hitam." Ucap Bapak-bapak dengan nada yang berat.
Mendengarkan penjelasan itu membuat Andre tercengang, jelas-jelas Sani di sana dan itu artinya dia sebenarnya tidak aman.
"Apa temannya Nak Andre ini sering kesurupan di sana?" Sebuah pertanyaan terdengar lagi.
Andre mematung tak percaya apa yang abru saja didengarnya itu?
Saat pikirannya ditimpa lagi dengan kekhawatiran yang sekilas menurut Andre itu benar matanya menangkap sosok wanita melintas di jalan depan. Saat melihatnya dari balik jendela membuat Andre bisa langsung tahu jika itu adalah Anis.
Mengapa Anis bisa sampai ke tempat ini? Pikiran Andre bertanya-tanya.
"Apa Nak Andre bisa percaya dengan kami? Jika masih ada kesempatan tolong temannya untuk dibawa pulang saja." Pinta Bapak-bapak di hadapannya.
"Sarapan sudah datang." Timpal Tri yang sedang berjalan sambil membawa makanan di atas baki.
"Wah pisang goreng." Seru yang lainnya.
Tapi Andre masih diam tak bersuara.
"Silahkan Mas dinikmati jangan sungkan!" Ucap Tri berbalik menghadap Andre. Namun dia melihat Andre yang sedang memperhatikan ke arah lain membuat Tri langsung sedikit menjauh karena takut, dia pun memilih tidak lagi menghiraukannya.
"Nak Andre cepat dimakan!" Seorang Bapak-bapak di hadapan Andre segera menyapa, tapi lagi-lagi Andre terlihat diam tak menjawab, perhatiannya pun mengarah ke sudut lain.
"Nak Andre!"
"Nak ANDRE!" Ucapnya berulangkali.
"Ah ia ada apa?" Ucap Andre saat mendengar namanya kembali diucapkan.
"Sebenarnya Nak Andre ini melihat kemana? Apa ada sesuatu di luar sana?" Tanya paman di sampingnya.
Andre hanya tersenyum saja seolah menjelaskan jika tidak ada apapun. Padahal dalam hati dia tadi melihat Anis. Saat berpaling memperhatikan keluar Anis sudah tidak ada di sana membuat Andre bingung.
Di satu sisi Tri sudah melihat tingkah Andre yang aneh untuk kedua kalinya, membuat dia seperti langsung ketakutan.
__ADS_1
"Cepat dimakan ya anggap saja sarapan." Ucapnya lagi.
Andre langsung berterima kasih hingga dia ikut menyantap goreng pisang hangat dengan senang.