Dunia Mu

Dunia Mu
Target 1


__ADS_3

Rasanya keringat mulai bercucuran dari ujung kepalanya. Andre cemas melihat orang-orang yang bersikeras untuk melakukan sesuatu di luar dugaannya, memang benar Andre tidak tahu apa yang sudah terjadi sebelumnya hingga mereka sangat antusias untuk membubarkan rumah sakit. Dan trauma apa yang sudah menghentikan orang-orang untuk percaya ke pihak rumah sakit padahal sampai saat ini pemerintah tetap mengizinkan rumah sakit untuk beroperasi.


Andre diam tidak bisa berkata-kata. Bahkan rasanya sulit dia tidak ingin banyak berasumsi di hadapan orang-orang yang sedang mencari-cari kesalahan. Saat ini dia harus melihat di dua sisi yang berbeda.


Tapi bagaimana caranya menghentikan orang-orang? Mereka tidak akan berhenti sebelum keinginannya tercapai kan?


Sorot mata Andre hanya memandangi satu persatu orang yang sangat antusias tapi lebih terlihat fanatik.


"Aku tidak bisa melakukannya, kita tidak punya bukti apapun di sini!" Tegas Andre.


Orang-orang hanya saling memandangi satu sama lain.


" Kau yang menjadi saksi kan? Itu sudah cukup." Timpal Bapak-bapak di sebelah Pak Tarman.


"Sudah diam!" Ucap Tri terlihat sudah menangis dia bahkan kesal dengan suasana tadi. Dengan gemetar Tri menghentikan perdebatan dan memandangi mata satu persatu keluarga di hadapannya.


Andre melihat situasi yang terjadi di depan mata, dia yakin Tri lebih bisa berpikir rasional dibandingkan orang-orang.


Tak disangka Tri berlalu dari hadapan semua orang dengan ekspresi yang marah. Andre terkejut melihatnya dan dia tidak mengerti dengan sikap Tri yang sebaliknya dari orang-orang.


Samar terdengar ketiga orang saling menyalahkan satu sama lain. Tapi Andre tidak mengatakan apapun, dia hanya bisa menggelengkan kepala.


"Pak saksi saja belum cukup, harus ada bukti fisiknya juga." Seru Andre di tengah-tengah suasana yang tidak bisa diperbaiki lagi.


"Nak Andre, sebenarnya hanya kami yang sangat antusias untuk mengungkap kematian adik dari Tri. Setelah ibunya juga meninggal di sana. Tri tetap bersikukuh dengan asumsinya, bahkan di hari ditemukan jasad adiknya Tri tidak ingin dilakukan autopsi." Jelas Pak Tarman.


"Jadi, Nak Andre tolong kami! karena kami ingin mengungkap yang sebenarnya dan melihat Tri senang juga tenang." Sambung Bapak-bapak yang satunya lagi.


"Tri tidak senang jika tentang kematian adiknya diungkit lagi." Ucap Nenek sepuh yang masih tidak bicara dari tadi.


"Tapi Nek kematian Sri itu harus tetap diungkap!" Pak Tarman tersulit dan lebih kekeh.


"Semua ada waktunya, tapi tidak sekarang karena kita harus mencari bukti dengan benar. Terlebih masalah yang erat kaitannya dengan hukum seperti ini jangan sampai akhirnya jadi tidak adil." Jelas Andre menengahi suasana saat itu menghentikan perdebatan Nenek sepuh dan Pak Tarman.

__ADS_1


Dan semua orang terdiam mendengarkan Andre. Benar saja karena dengan hukum jika sudah tepat akan berakhir adil seperti yang diharapkan, tapi sebaliknya bisa saja menjadi tidak adil.


Setelah paham dengan kata-kata Andre Pak Tarman dengan ramah dan atas keinginannya agar Andre tetap tinggal di rumah. Tidak banyak yang diharapkan. Pak Tarman hanya berharap Andre akan sedikit terbantu.


Andre sudah duduk sendiri di teras rumah sambil menikmati angin membelai melintas dan menyentuh wajahnya.


Sekarang dia sudah menghentikan sesuatu dengan tindakannya, apakah itu sudah benar?


Tatapannya kini mengarah pada banyaknya roh yang masih berkeliaran di siang hari, beruntung saja mereka tak menyadari Andre jika sampai tahu kemampuannya apa yang akan terjadi?


Andre masih mengenakan kalung pemberian Anis, jika dia diam seperti sekarang bayangan Anis berusaha lagi muncul. Jelas saja siapapun akan merasa takut jika pernah mengalami langsung situasi yang berakhir mengakhiri orang tanpa diduga.


Anis meninggal. Pikir Andre gusar, dia ingin sekali menghapus ingatan itu. Bagaimana bisa dia kebetulan bertegur sapa dengan Anis dam besoknya Anis sudah tiada.


Saat masih berkutat dengan lamunan yang tampak tidak Andre senangi, matanya selalu menangkap sosok Nenek-nenek dari rumah, tempatnya memang tidak menetap dan kadang berpindah dari dalam sekarang masih berdiri di depan rumah seperti tadi. Andre sedikit penasaran tapi dia tidak bisa membuat rasa penasarannya kini menguasai pikiran.


Andre memejamkan mata menikmati siang yang terang di luar. Apakah dia bisa tenang dan melanjutkan hidup tanpa harus berhubungan dengan Ira, Sani, dan Anis? Dia berharap bisa melakukannya.


Andre berbalik dan matanya langsung menatap wajah keriput dengan mata kosong hampir satu jengkal di depan wajahnya. Andre langsung terperanjat dan spontan menghindar dengan ekspresi takut.


Matanya kembali mengabsen sosok yang sedang duduk di tempat tadi dia di sana. Nenek-nenek berambut putih penuh, kulit dan wajah keriput, dan yang membuatnya bergidik saat Nenek itu menggerakkan kepala yang kaku hingga menghadapnya, sorot matanya yang berwarna putih pucat seperti langsung menangkap sosok Andre saat itu yang sangat ketakutan.


"Nak Andre!" Terdengar samar suara Pak Tarman masuk ke telinganya. Andre segera berbalik dengan ekspresi ketakutan dan napas yang naik turun.


"Loh Nak Andre kenapa?" Tanya lagi Pak Tarman penasaran saat membaca ekspresi Andre saat itu, mata Pak Tarman memastikan ke satu arah yang tadi menjadi pusat perhatian Andre. Tapi dia mengernyitkan dahi tanda kecewa karena tidak melihat apapun.


"Tidak Pak, Saya kaget tadi mendengar suara Bapak yang tiba-tiba." Andre beralasan padahal Pak Tarman bisa melihat gerak matanya yang terus berpaling ke arah itu.


"Saya permisi mau ke kamar mandi Pak!" Andre terdengar jelas menghindar dan langsung masuk melewati Pak Tarman yang masih berdiri di sana dengan bertanya-tanya.


Mata Pak Tarman sangatlah jeli, dia memiliki asumsi yang mungkin tidak akan dia ceritakan pada yang lain, karena Pak Tarman sendiri sedikit takut jika saja Andre benar melihat apa yang tidak dilihatnya. Pikiran Pak Tarman sekarang mulai serius, beberapa saat sampai membuatnya tetap mematung di teras. Hingga tak lama ada angin yang terasa menyentuh tengkuk dan membuat dia bergidik ngeri merasa bulu kuduknya merinding. Alih-alih bisa tenang Pak Tarman langsung kabur turun dari rumah itu.


Andre sekarang masuk ke dalam rumah yang di dalamnya tidak ada siapapun, mungkin Tri masuk ke dalam kamarnya, Nenek sepuh juga, Pak Tarman tadi keluar, dan temannya sedang tertidur di kursi.

__ADS_1


Dia tidak yakin bisa melangkah jauh ke kamar mandi, mengingat sosok astral yang selalu dilihatnya dan bagaimana jika dia kembali melihat Nenek-nenek yang tadi? Pikir Andre terdengar sangat keberatan. Tapi sialnya kali ini dia benar-benar merasa ingin buang air kecil membuat Andre berdecak kesal dan harus memaksakan diri pergi ke kamar mandi.


Berjalan menyusuri satu ruangan di depannya, jantungnya semakin berdegup menandakan ketakutan yang masih tersisa. Kedua mata yang dia edarkan ke setiap sudut dengan awas seperti tidak ingin satu jengkalnya terlewatkan.


Tak terasa mata Andre sekarang fokus memperhatikan ke sudut ruangan yang tadinya di sana penampakan Nenek-nenek muncul.


Sekarang sosoknya memang tidak ada di rumah karena tadi Andre melihat penampakan itu berdiri di luar.


Andre kembali melangkahkan kakinya perlahan hingga ada satu suara yang membuat matanya bergerak. Dia tahu sumber suara tepat di belakangnya.


Mau tidak mau hatinya memaksa untuk memastikan. Andre sekaligus membalikkan tubuhnya hingga dia kembali tercengang takut, padahal yang dilihatnya itu adalah Tri.


Begitu berpapasan tak disangka keduanya langsung berekspresi ketakutan dan butuh 2 menit untuk saling menenangkan.


"Dek Tri!" Ucap Andre kaget.


Tri tersenyum dan terlihat masih memperbaiki irama napasnya yang masih tidak tenang.


"Mas kenapa mengendap-endap?" Tanya Tri terdengar malu-malu.


"Tidak ada." Jawab Andre hyang langsung tersenyum tapi kesannya dipaksakan.


Tri melihat ke setiap sudut.


"Ada Nenek-nenek berambut putih?" Bisik Tri mendekatkan mulutnya ke telinga Andre.


Mendengar penuturan itu kedua matanya langsung membulat. Andre bertanya-tanya mengapa Tri bisa menebaknya.


"Mas jangan pernah lihat kalau gak mau dijadiin target ya!" Terangnya membuat Andre hanya bisa mematung tak percaya.


"Kalau di siang hari itu Nenek-nenek kalau malam dia berubah lagi, pokoknya Mas jangan lihat ya!" Tekan Tri menginginkan Andre mendengarkan perkataannya.


Mengapa bisa? Tanya Andre dalam hati.

__ADS_1


Kenyataannya dia hanya mengangguk setuju tanpa mengatakan apapun.


__ADS_2